Tiffany Ann Lewis: Merenungkan Allah – Mendapatkan Ketenangan Jiwa (Oct 20, 2013)


“Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji. Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.” Mzm. 63:5-7

Di ayat yang klasik ini, Daud mengajarkan kepada kita metode untuk menenangkan jiwa yang menjerit dan bagaimana mendapatkan kepuasan bahkan di tengah kondisi yang paling kritis sekalipun. Metode apakah itu? Merenungkan Allah.

Penting untuk diketahui bahwa Daud melarikan diri di padang belantara untuk menyelamatkan hidupnya saat ia menulis ayat ini. Ia tidak merenung di tempat tidur kerajaannya dengan para pelayan yang siap melayani setiap kebutuhannya. Saat itu ia berada di masa yang sukar. Walau demikian, ia merenungkan Allah; karenanya, ia dapat menyembah dan tidak menangis. Demikian juga kita, saat merenungkan Allah.

Bertahanlah

Begitu banyak metode meditasi yang dipakai di seluruh dunia, tetapi Daud mengetahui bahwa ia akan diberkati jika ia memilih merenungkan Firman Allah. Daud bersuka akan Taurat Tuhan (Mzm. 1:1-2). Kata Ibrani untuk meditasi yang digunakan disini adalah hagah dan ini bukan sekedar latihan mental. Hagah berarti: untuk merefleksikan, untuk mempertimbangkan, untuk merenung.

Namun, kata ini juga berarti: mengeluh, merintih, atau berbisik, berbicara. Dari pengertian ini muncul satu jenis doa Ibrani khusus yang disebut “davening” dimana anda meninggalkan segala kekacauan di luar dan membaca Alkitab dengan suara lembut, menggumam, dan secara perlahan-lahan, sembari menggerakkan badan ke depan dan belakang, terhilang di dalam persekutuan bersama Allah.

“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” Yes. 26:3

Di tengah-tengah pencobaan, satu hal yang harus kita lakukan ialah berhenti dan melihat kemana pikiran kita berfokus. Musuh jiwa kita bersuka saat kita terus menatap keadaan kita; namun hal ini tidak akan memberi kita damai sejahtera dan kepuasan jiwa yang kita nantikan. Saya tidak berkata bahwa ini hal yang mudah; malah, semakin berat pencobaan, semakin susah bagi kita untuk tidak memikirkannya. Di sisi lain, semakin berat pencobaan, semakin penting untuk memfokuskan pikiran kita kepada Allah.

Mari kita lihat apa arti Alkitabiah dari “menjaga pikiran kita.” Kata yang diterjemahkan sebagai “pikiran” bukanlah kata Ibrani biasa yang dipakai untuk pikiran. Penting untuk diketahui bahwa kata Ibrani untuk “pikiran” disini adalah yetser (Strong’s #3336). Akar kata ini adalah membentuk dan mendandani, bahkan meremas untuk membentuk sesuatu.

Kita melihat kata ini pertama kali pada Kej. 2:7 saat Allah “membentuk” manusia dari debu tanah…atau dalam bahasa Ibrani, Allah yester manusia dari debu tanah. Melalui contoh ini, kita dapat melihat bahwa dibutuhkan usaha kita sendiri – bahkan “meremas” pikiran kita untuk bertahan pada Allah.

Sekarang mari kita lihat kata Ibrani untuk “bertahan,” adalah samech (Strong’s #5564). Samech berarti untuk bersandar, berbaring, beristirahat, mendukung dan kata ini berbicara tentang memasang, menempatkan atau membaringkan seseorang pada sesuatu agar sesuatu itu dapat menopangnya.

Menawan Pikiran-pikiran Kita

Saat kita merenungkan dan membentuk atau bahkan meremas pkiran kita untuk berfokus kepada Allah dan bukannya pada situasi kita, kita sedang menempatkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Allah agar kita dapat ditopang olehNya. Hal ini sesuai dengan ayat, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Pet. 5:7).

Maka, orang-orang yang terkasih, kita tidak sekedar merenungkan Allah karena kita percaya kepadaNya. Sesungguhnya kita menawan pikiran-pikiran kita dan membentuknya, dan menempatkannya pada Allah. Melalui proses ini kita akan menerima dukungan, damai sejahtera, dan pada akhirnya kepuasan jiwa.

Saya ingin menutup artikel ini dengan satu piktograf Ibrani kuno untuk menunjukkan dengan gambar bagaimana kita dapat mengalami kepuasan jiwa di tengah-tengah badai.
samech.jpg
Samech bukan sekedar sebuah kata, ini adalah huruf ke-15 pada aksara Ibrani. Kaum bijaksana melihat bentuk samech yang bundar sebagai hati Allah yang menopang dan mendukung kita. Seperti halnya sebuah lingkaran yang tidak memiliki awal ataupun akhir, demikian juga Allah. KasihNya tak pernah berkesudahan. Saat kita memfokuskan pikiran-pikiran kita kepada kasih Allah, kita akan dilingkupi, didukung, dan dijagai dengan damai sejahtera dalam hati Allah.

Renungan saya sangat sederhana….Yesus mengasihi saya. Bagaimana saya mengetahuinya? Alkitab yang memberitahu saya. Amin dan amin.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s