Tiffany Ann Lewis: Bangunlah, Hai Orang-orang yang Tertidur dan Berdoalah! (Jul 14, 2013)


“Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.” Mat. 26:37-46

Saya tak suka mengakuinya, tetapi saya dapat sepenuhnya mengenali bagian Alkitab ini; mungkin bukan tentang keadaan mengantuk, meski banyak kali hal ini terjadi pada kita, namun sebaliknya bagian Alkitab ini berbicara tentang keadaan kurangnya berdoa di suatu masa kesusahan yang dahsyat. Saat saya berusaha membayangkan apa yang ada di pikiran para murid, saya mengenali beberapa kesamaan yang kita semua alami di masa-masa sekarang; seperti kebosanan atau berjuang karena tidak tahu bagaimana untuk berdoa atau rasa tidak aman karena tidak tahu apa yang harus didoakan.

Mungkin kita telah bertanya dalam hati mengapa tak ada yang terjadi setelah kita berdoa atau kita kecewa saat doa kita tidak dijawab di kali yang pertama ataupun yang kedua.

Bangun Dari Kondisi Mengantuk

Para kekasih, selalu ada kebutuhan yang mendesak setiap harinya dan Allah memanggil kita untuk berdoa. Kiranya kita didapati tidak tertidur di saat-saat ini. Rom. 8:26-28 memberi banyak solusi bagi saat-saat dimana kita tidak mengerti tentang doa dan lebih memilih untuk pergi tidur:

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

“Saya Lelah Berdoa”

Pernahkah anda mengalaminya? Benar, kita semua pernah mengalaminya! Kabar baiknya adalah bahwa Roh Kudus dapat menolong kelemahan kita. Dalam bahasa Yunani, kata “menolong” diterjemahkan sebagai: sunantilambanomai (Strong’s #4878) dan berarti: menumpangkan tangan pada seseorang, berusaha untuk meraih sesuatu bersama orang lain, membantu meraih, dan memegang tangan orang lain. Ketahuilah bahwa kita perlu berdoa agar Allah bergabung bersama kita di dalam doa.

Jika adalah keinginan anda untuk berdoa namun anda berjuang dengan kelemahan yang menghalangi anda, yang perlu kita lakukan adalah memintaNya untuk menolong kita.

Fil. 2:13 mengajar kita bahwa Allah bekerja di dalam kita untuk melakukan kehendakNya, dalam hal ini berdoa.

Solusi praktis lainnya adalah mengubah nyanyian menjadi doa-doa anda. Himne: Turn Your Eyes Upon Yesus adalah lagu pokok/doa saya. Saya mengubah kata ganti dan menjadikannya lebih personal:

I turn my eyes upon You Lord
As I look full into Your wonderful face
I pray that the things of this world would grow strangely dim
In the light of Your glory and grace

Ada masa-masa dimana saya berulang kali mengulanginya tergantung keadaan yang saya hadapi. Tiap kali saya menyanyikan lagu ini, saya mengingat Salib yang begitu indah dan kebenaran dalam Rom. 8 – bahwa tak ada yang dapat memisahkan saya dari kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus (ayat 39).

“Saya Tidak Tahu Bagaimana Berdoa”

Jangan biarkan hal ini menghentikan anda. Roh Kudus tahu bagaimana caranya berdoa dan Ia hadir untuk menolong kita. Inti dari Roma 8 adalah agar kita mengetahui bahwa di masa-masa kesukaran, Roh Kudus hadir untuk menolong kita dan memberi kita harapan. Harus kita sadari bahwa Allah beserta dengan kita, bukan melawan kita (Rom. 8:31). Ia tidak duduk di Surga, bosan mendengar doa-doa kita, berharap kita terdengar cukup dewasa atau berpendidikan. Faktanya, Alkitab menyingkapkan bahwa adalah kesukaan bagiNya saat kita datang kepadaNya dengan iman dan ketergantungan seperti anak kecil.

“Tak Ada Satupun yang Terjadi Saat Saya Berdoa”

Rasa kecewa kita adalah salah satu senjata utama yang iblis pakai agar kita menyerah untuk berdoa dan memilih untuk tidur. Kita semua pernah mengalami masa-masa dimana doa terlepas dari genggaman kita. Di masa seperti itu, saat hati kita hancur berkeping-keping, iblis ingin agar kita menyerah untuk berdoa dan pada akhirnya untuk menyerah terhadap Allah.

Solusinya juga dapat ditemukan di dalam Roma, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Entah kapan, entah bagaimana caranya, Allah pasti akan bekerja. Semua yang terjadi dalam hidup kita dipakai oleh Allah bagi kemuliaanNya. Mungkin bukan seperti apa yang kita harapkan, namun Ia akan memberi kita anugerah untuk melewati apapun keadaan yang kita alami sekarang.

“Engkau Allah dan Saya Bukan”

Saya tahu ini adalah topik yang sangat sensitif. Kedaulatan Allah bukanlah hal yang dapat sepenuhnya dimengerti; namun demikian, adalah doa saya agar kita mendapati ketenangan di dalamnya. Di dalam konteks Roma 8, Paulus telah menulis tentang penderitaan yang dialaminya. Namun tujuan penulisannya adalah untuk memberi kita harapan.

Sementara kita mengerang di dalam kesukaran kita, Roh Kudus juga mengerang. Ia menjerit di dalam hati kita, mengingatkan kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (walau kita berada di dalam dunia yang hancur) dan Ia adalah Abba kita, Bapa kita (ayat 15-17), dan bahwa kita lebih daripada pemenang di dalam Dia yang mengasihi kita (ayat 37).

“Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!” Kid. 5:2

Tolonglah kami, Roh Kudus. Amin dan Amin.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s