James Goll: Perenungan Doa yang Dikuduskan – Hidup yang Berpuasa (Jul 7, 2013)


Asal Usul Berpuasa

A. Dari Perjanjian Lama

1. Kehidupan Musa
Disiplin berpuasa yang pertama kali disebutkan dalam Alkitab adalah Musa yang berpuasa 40-hari ketika Allah menemuinya di Gn. Sinai (Kel. 34:28; Ul. 9:9). Disana ia menerima instruksi untuk membuat Kemah Suci dan 10 Perintah Tuhan. Musa berpuasa 40-hari yang kedua kalinya (Ul. 9:18) selama masa dua loh batu digantikan.

2. Perkembangan Sejarah
Kata “berpuasa” berasal dari istilah Ibrani tsum, yang merujuk pada penyangkalan diri. Kata tsum, berarti berpantang diri secara sukarela dari makanan. Banyak ahli percaya bahwa puasa dimulai sebagai kehilangan selera di masa-masa kesusahan dan tekanan yang berat.

a. Hana – Ia sangat tertekan karena kemandulannya dan “menangis dan tidak mau makan” (I Sam. 1:7).
b. Raja Ahab – Ketika ia gagal membeli kebun anggur Nabot, ia “tidak mau makan” (I Kings 21:4).
c. Daud – Daud berpuasa untuk mengekspresikan dukacitanya atas kematian Abner (II Sam. 3:35).

3. Hari Penebusan Dosa – Puasa yang Diwajibkan
Satu-satunya puasa tahunan yang diwajibkan adalah pada Hari Penebusan Dosa ketika Imam Besar memberikan korban untuk menebus dosa bani Israel (Im. 16:11, 15, 21, 29). Im. 16:29 menegaskan, “Maka inilah menjadi bagimu suatu hukum yang kekal selama-lamanya: Bahwa pada bulan yang ketujuh dan pada sepuluh hari bulan itu hendaklah kamu merendahkan hatimu dengan berpuasa, janganlah kamu berbuat barang sesuatu pekerjaan…” Mereka berpuasa untuk menyelidiki diri sendiri dan menunjukkan rasa penyesalan.

4. Ungkapan Dukacita dan Keputusasaan
Berpuasa menjadi ungkapan alami akan dukacita manusia dan kebiasaan untuk mempertahankan diri dari murka Allah. Pada akhirnya, berpuasa menjadi suatu jalan untuk menjadikan permohonan seseorang kepada Tuhan menjadi efektif.

Ketika berpuasa menjadi suatu panggilan bangsa, hal ini digunakan untuk mencari perkenanan ilahi, perlindungan, atau untuk menghindari penghakiman Tuhan dalam sejarah. Karenanya, menjadi suatu praktik yang biasa bagi sekelompok orang untuk menyatukan pengakuan akan dosa, duka, dan berdoa sayafaat dengan berpuasa.

B. Dari Perjanjian Baru

1. Oleh Kaum Farisi
Diyakini bahwa kaum Farisi berpuasa setiap hari Selasa dan Kamis di setiap minggu. Kaum Farisi berdiri dan berdoa bagi dirinya, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk. 18:11, 12).

2. Oleh Murid-murid Yohanes Pembaptis
Yohanes Pembaptis adalah Nazir sejak lahir (Bil. 6:2-8; Luk. 1:15-17) yang datang dalam roh Elia. Seorang Nazir adalah “orang yang disumpah.” Puasa adalah bagian dari gaya hidupnya. Karenanya, murid-muridnya mengikuti gaya hidupnya yang berkorban (Mat. 9:14-15).

3. Oleh Yesus Kristus
Yesus memulai pelayanan publikNya dengan puasa yang diperpanjang. Ia juga mempelajari puasa tahunan Yahudi pada Hari Penebusan Dosa sebagai warisanNya. Namun Yesus hanya memberi sedikit tuntutan spesifik yang dicatat terkait puasa. Ia mengajar bahwa puasa mereka haruslah berbeda dari puasa orang Farisi, dimana mereka berpuasa agar dapat dilihat oleh Allah dan bukan untuk membuat manusia terkesan (Mat. 6:16-18).

4. Gereja Mula-mula
Gereja Mula-mula melakukan puasa, khususnya ketika menahbiskan para tua-tua atau menetapkan orang-orang secara terpisah untuk tugas atau pelayanan khusus (Kis. 13:2). Berpuasa juga dilakukan oleh Paulus dan pemimpin-pemimpin Kristiani lainnya secara regular (I Kor. 7:5; II Kor. 6:5).

Sembilan Puasa Alkitabiah

Materi berikut ini terilhami dari tulisan Elmer L. Towns dalam bukunya “Fasting for Spiritual Breakthrough.”

A. Puasa Murid

1. Tujuan: “Untuk membuka belenggu-belenggu kelaliman” (Yes. 58:6) – membebaskan diri kita dan orang lain dari kecanduan untuk berbuat dosa.
2. Ayat Utama: Mat. 17:21 – “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.”
3. Latar belakang: Yesus mengusir setan dari anak laki-laki yang gagal ditolong oleh para murid. Tampaknya mereka tidak menganggap serius cara setan mencengkeram anak ini. Dampaknya adalah murid-murid Yesus tidak dapat menengking roh jahat yang sudah lama ingin mereka lakukan. Murid-murid masa kini juga sering menganggap remeh “mengepung dosa” yang sebenarnya hanya dapat ditengking jika kita sungguh serius untuk ambil bagian dalam penyangkalan diri seperti berpuasa – karena itu disebut dengan “Puasa Murid.”

B. Puasa Ezra

1. Tujuan: Untuk “melepaskan tali-tali kuk” (Yes. 58:6) – untuk melepaskan masalah, mengundang pertolongan Roh Kudus dalam mengangkat beban masalah dan mengatasi masalah-masalah yang menahan kita dan orang-orang yang kita kasihi dari berjalan bersama Yesus dengan sukacita.
2. Ayat Utama: Ezra 8:23 – “Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.”
3. Latar Belakang: Ezra sang imam diberi tugas untuk memulihkan kembali Hukum Allah setelah masa penawanan oleh Babilonia. Walaupun mendapatkan ijin ini, musuh-musuh bangsa Israel menentang mereka. Terbebani dengan rasa malu untuk meminta bantuan tentara Raja Persia untuk melindungi mereka, Ezra berpuasa dan berdoa meminta jawaban.

C. Puasa Samuel

1. Tujuan: “Memerdekakan orang-orang yang teraniaya (baik fisik dan rohani)” (Yes. 58:6) – demi kebangkitan dan memenangkan jiwa, untuk mengenali orang-orang dimana saja yang diperbudak oleh dosa dan untuk berdoa agar dipakai Allah untuk membebaskan orang banyak dari kerajaan kegelapan dan masuk ke dalam terangnya Allah.
2. Ayat Utama: I Sam. 7:6 – “Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN…'”
3. Latar lakang: Samuel memimpin umat Allah untuk berpuasa untuk merayakan kembalinya Tabut Perjanjian setelah sebelumnya ditawan oleh orang Filistin, dan untuk berdoa agar bangsa Israel dapat dilepaskan dari dosa yang membuat Tabut ditawan musuh.

D. Puasa Elia

1. Tujuan: Untuk “mematahkan setiap kuk” (Yes. 58:6) – menaklukkan masalah mental dan emosi yang dapat mengendalikan hidup kita, dan mengembalikan kendali ke tangan Allah.
2. Ayat Kunci: I Raj. 19:4, 8 – “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun… Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya…”
3. Latar belakang: Meski Alkitab tidak secara resmi menyebutnya “puasa,” Elia secara sadar melewatkan makanan saat ia lari dari ancaman ratu Izebel yang hendak membunuhnya. Setelah kehilangan tenaga akibat memaksakan diri ini, Allah mengutus seorang malaikat untuk melayani Elia di padang gurun.

E. Puasa Sang Janda

1. Tujuan: “Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar” dan untuk peduli terhadap orang miskin (Yes. 58:7) – untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan terhadap orang lain.
2. Ayat Utama: I Raj. 17:16 – “Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.”
3. Latar belakang: Tuhan mengirim nabi Elia kepada seorang janda yang kelaparan – yang ironisnya, agar janda tersebut dapat menyediakan makanan bagi Elia. Seperti halnya kehadiran Elia menghasilkan makanan bagi janda di Sarfat, demikian juga menunjukkan diri kita di hadapan Tuhan dengan doa dan berpuasa dapat meringankan kelaparan masa kini.

F. Puasa Rasul Paulus

1. Tujuan: Untuk menmbuat terang Tuhan “…merekah seperti fajar” (Yes. 58:8), membawa perspektif dan wawasan yang lebih jelas saat kita membuat keputusan-keputusan yang penting.
2. Ayat Utama: Kis. 9:9 – “Tiga hari lamanya ia (Saulus, atau Paulus) tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.”
3. Latar belakang: Saulus dari Tarsus, yang kemudian dikenal dengan nama Paulus setelah perjumpaannya dengan Kristus, tiba-tiba menjadi buta oleh Allah di dalam perjalanannya untuk menganiaya orang-orang Kristen. Ia tidak hanya buta fisik, namun ia juga tidak memiliki petunjuk kemana hidupnya mengarah.

Setelah tidak makan dan berdoa selama tiga hari, Paulus dikunjungi oleh seorang Kristen bernama Ananias, dan kedua mata dan visi bagi masa depannya dipulihkan.

G. Puasa Daniel

1. Tujuan: Agar “lukamu akan pulih dengan segera” (Yes. 58:8) – untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sehat atau bagi kesembuhan.
2. Ayat Utama: Dan. 1:8 – “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja.”
3. Latar belakang: Daniel dan ketiga teman Ibraninya ditawan di Babilonia yang bertahan untuk tidak makan makanan yang najis dan Tuhan menuntun mereka dengan menjadikan mereka lebih sehat ketimbang orang-orang lain.

H. Puasa Yohanes Pembaptis

1. Tujuan: Agar “kebenaranmu menjadi barisan depanmu” (Yes. 58:8) – bahwa kesaksian kita dan pengaruh bagi Yesus akan terpancar di hadapan orang lain.
2. Ayat Utama: Luk. 1:15 – “Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras.”
3. Latar belakang: Karena Yohanes Pembaptis adalah pendahulu Yesus, ia mengambil sumpah “Nazar” yang menuntutnya untuk “berpuasa” atau menghindari anggur dan minuman keras. Ini adalah bagian dari tujuan gaya hidup Yohanes yang membentuknya sebagai satu kesatuan untuk suatu tugas khusus.

I. Puasa Ester

1. Tujuan: Agar kemuliaan Allah melindungi kita daripada yang jahat (Yes. 58:8).
2. Ayat Utama: Est. 4:16, 5:2 – “…berpuasalah untuk aku…[dan] Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian… Ketika raja melihat Ester, sang ratu…berkenanlah raja kepadanya.”
3. Latar belakang: Ratu Ester, seorang Ibrani di tengah bangsa yang tidak mengenal Allah, mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan bangsanya dari ancaman pemusnahan oleh Ahasyweros (Xerxes), raja Persia. Sebelum menghadap raja untuk memintanya menyelamatkan bangsa Ibrani, Ester, dayang-dayangnya, dan pamannya Mordekhai berpuasa untuk meminta perlindungan Allah.

Berpuasa Disertai Dengan…

A. Referensi Alkitabiah

1. Doa
Ezra 8:23 – Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.
Neh. 1:4 – Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit.
Mzm. 35:13 – Tetapi aku, ketika mereka sakit, aku memakai pakaian kabung; aku menyiksa diriku dengan berpuasa, dan doaku kembali timbul dalam dadaku.
Daniel 9:3 – Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.
Luk. 5:33 – Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.”

2. Penyembahan
Neh. 9:1-3 – Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala. Keturunan orang Israel memisahkan diri dari semua orang asing, lalu berdiri di tempatnya dan mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka. Sementara mereka berdiri di tempat, dibacakanlah bagian-bagian dari pada kitab Taurat TUHAN, Allah mereka, selama seperempat hari, sedang seperempat hari lagi mereka mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka.

3. Pengakuan Dosa
I Sam. 7:6 – Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.
Neh. 9:1-3 – Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala. Keturunan orang Israel memisahkan diri dari semua orang asing, lalu berdiri di tempatnya dan mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka. Sementara mereka berdiri di tempat, dibacakanlah bagian-bagian dari pada kitab Taurat TUHAN, Allah mereka, selama seperempat hari, sedang seperempat hari lagi mereka mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka.

4. Merendahkan Diri
Ul. 9:18 – Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali–roti tidak kumakan dan air tidak kuminum–karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya.
Mzm. 35:13 – Tetapi aku, ketika mereka sakit, aku memakai pakaian kabung; aku menyiksa diriku dengan berpuasa, dan doaku kembali timbul dalam dadaku.
Mzm. 69:10 – Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itupun menjadi cela bagiku.
I Raj. 21:27 – Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.
Nehemiah 9:1 – Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala.

5. Membaca Alkitab
Nehemiah 9:1-3 – Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala. Keturunan orang Israel memisahkan diri dari semua orang asing, lalu berdiri di tempatnya dan mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka. Sementara mereka berdiri di tempat, dibacakanlah bagian-bagian dari pada kitab Taurat TUHAN, Allah mereka, selama seperempat hari, sedang seperempat hari lagi mereka mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka.
Yer. 36:6 – Jadi pada hari puasa engkaulah yang pergi membacakan perkataan-perkataan TUHAN kepada orang banyak di rumah TUHAN dari gulungan yang kautuliskan langsung dari mulutku itu; kepada segenap orang Yehuda yang datang dari kota-kotanya haruslah kaubacakannya juga.
Yer. 36:10 – Maka Barukh membacakan kepada segenap rakyat perkataan Yeremia dari kitab itu, di rumah TUHAN, di kamar Gemarya anak panitera Safan, di pelataran atas di muka pintu gerbang baru dari rumah TUHAN.

6. Meratap
II Samuel 1:12 – Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang.
I Raj. 21:27 – Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.
Est. 4:3 – Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya.
Neh. 1:4 – Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit.
Yoel 2:12 – “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”
Ezra 10:6 – Sesudah itu Ezra pergi dari depan rumah Allah menuju bilik Yohanan bin Elyasib, dan di sana ia bermalam dengan tidak makan roti dan minum air, sebab ia berkabung karena orang-orang buangan itu telah melakukan perbuatan tidak setia.

7. Menangis
II Sam. 1:12 – Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang.
Nehemiah 1:4 – Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit.
Ester 4:3 – Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya.
Mzm. 69:10 – Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itupun menjadi cela bagiku.
Yoel 2:12 – “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”

8. Pantang dari Hubungan Seksual
I Kor. 7:5 – Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

B. Isu-isu Masa Kini Untuk Dipertimbangkan

Di abad ke-21, terdapat beberapa isu tambahan yang dapat dipertimbangkan sebagai bentuk pengorbanan, pantangan, atau “berpuasa” di hadapan Allah. Hal-hal berikut ini bukanlah pantangan dari makanan demi tujuan rohani. Namun mereka adalah isu-isu dalam masyarakat masa kini yang dapat diperetimbangkan sebagai bentuk puasa untuk suatu waktu tertentu untuk mencari wajah Allah.

1. Hiburan – Film, video, TV, radio, video game, tarian sekuler, dll.
2. Peristiwa-peristiwa atletik – Olahraga profesional, peristiwa olahraga, bentuk rekreasi lainnya, dll.
3. Materi Bacaan – Majalah, buku, koran, media berita lainnya, bahkan novel fiksi Kristen.
4. Komputer – Aktivitas internet, e-mail, game, dll.
5.Pembicaraan – Panggilan telepon, lamanya waktu berbicara, membatasi topic percakapan, janji khusus untuk berdiam diri, dll.
6. Busana – Menghindari tipe dan gaya busana tertentu, atau memakai tipe dan gaya busana tertentu, dll.
7. Makanan dan Minuman – Setengah berpuasa – Membatasi asupan makanan atau minuman tertentu.
8. Tidur – Doa di pagi-pagi buta, doa malam yang siap sedia, doa jaga pada berbagai jam, dll.
9. Fungsi-fungsi sosial – Membatasi pertemuan, konferensi, seminar dan bahwa aktivitas normal gereja di luar untuk periode waktu tertentu yang singkat; masa-masa mengasingkan diri untuk tujuan tertentu.
10. Jadwal Kerja – Mengambil jam atau hari libur dari pekerjaan sekuler atau bahkan pertemuan pelayanan untuk mencari wajah Allah, dll.

Puasa Mempelai Laki-laki

A. Pada Hari-hari Terakhir

1. Yoel 2:28, 29 – Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.
2. Kehancuran – Pengudusan – Pemulihan
Kitab Yoel memberi gambaran kepada kita akan periode hari-hari terakhir untuk mencari wajah Allah dengan berpuasa (Yoel 2:12) mendahului hujan pada akhir musim (Yoel 2:25) dan seluruh dunia memperlihatkan kemuliaanNya (Yoel 2:30-32).

B. Kembalinya Kristus

1. Kis. 1:1 – Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus…
2. Kedatangan Kali yang Kedua
Baik pencurahan Roh Kudus, atau pemulihan besar-besaran atau reformasi Gereja bukanlah menjadi tujuan utama kita. Semua ini tidaklah sepenting munculnya kembali Tuhan Yesus kita yang mulia.

C. Hati yang Tergila-gila

1. Mat. 9:15 – Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Yesus meyakinkan mereka yang mempertanyakanNya bahwa saat Ia dibawa (melalui kematianNya di kayu salib) mereka akan berpuasa karena dukacita. Ia tahu bahwa murid-muridNya telah terlalu terbiasa untuk menikmati kehadiranNya sehingga setelah Ia pergi mereka akan meratapi kehilanganNya dan mulai merindukan perasaan kedekatan kepadaNya.

Kerinduan akan seseorang yang anda kasihi sering disebut dengan tergila-gila. Dapatkah anda membayangkan kekasih Yesus yang sepenuh hati di masa sekarang menjadi begitu dipenuhi dengan perasaan tergila-gila ilahi sehingga mereka dengan bebas memiliki gaya hidup berpuasa? Inilah yang Yesus perkatakan secara profetik.

Di bawah ini adalah tiga hasil yang dapat anda harapkan dari Puasa Mempelai Laki-laki:

a. Anda akan lebih banyak lagi menerima pewahyuan Allah sementara anda mempelajari FirmanNya dengan seksama.
b. Anda akan menerima suatu takaran pewahyuan yang luar biasa dengan suatu cara yang dipercepat. Saat orang berkata kepada saya, “Saya tak sabar menerima lebih banyak lagi dari Allah,” saya memberitahu mereka untuk menambahkan puasa pada perenungan mereka akan Firman. Jenis puasa ini mempercepat proses menerima hal-hal baru dari Allah. Hal ini juga mempercepat proses menyingkirnya pola pikir lama, penguasa-penguasa yang lama dan kekerasan hati.
c. Pewahyuan yang kita terima akan menyentuh kita hingga mendalam. Hati yang dilembutkan di dalam kasih adalah hadiah Roh Kudus terbesar yang dapat bekerja di dalam diri seorang penyembah. Perasaan bahwa kita dikasihi oleh Allah dan merasakan cinta yang mendalam kepadaNya adalah suatu bentuk kehidupan yang paling menyenangkan.

2. Perintah dan Motivasi Baru

a. Hari yang Baru
Hari yang baru telah tiba. Ritual-ritual lama dan ikatan lama yang mengikat kita untuk masuk dan berdiri di hadapan Allah tidak lagi ada. Kita masuk dengan bebas melalui Darah Yesus Kristus. Meski murid-murid Yesus akan berpuasa kembali, mereka takkan pernah sama lagi. Mereka akan mengeluarkan dengan cepat suatu hati yang baru dan motivasi yang baru.
b. Dari buku karangan Arthur Wallis – God’s Chosen Fast:
“Sebelum Mempelai Pria meninggalkan mereka, Ia berjanji bahwa Ia akan datang kembali dan membawa mereka kepadaNya. Gereja masih menanti dengan seruan, ‘Mempelai datang! Songsonglah dia!’ (Mat. 25:6). Di masa Gereja sekaranglah periode absennya sang Mempelai Pria. Di masa Gereja sekaranglah masa saat Tuan kita berkata ‘dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.’ Sekaranglah waktunya!

“Kata-kata Yesus ini sungguh profetik. Orang Kristen mula-mula menggenapinya, dan karenanya banyak terdapat wanita dan pria kudus dari generasi-generasi yang berhasil. Dimanakah orang-orang yang akan menggenapinya saat ini? Sayangnya, hanya tersisa sedikit dan saling berjauhan, yang merupakan suatu kehilangan besar bagi Gereja.

“Walau demikian, suatu generasi baru sedang dibangkitkan. Ada kepedulian di hati banyak orang bagi pemulihan kuasa kerasulan. Namun bagaimana agar kita dapat memulihkan kuasa kerasulan sementara kita mengabaikan praktik kerasulan? Bagaimana kita dapat mengharapkan kuasa untuk mengalir jika kita tidak mempersiapkan wadah-wadahnya? Berpuasa adalah alat yang ditetapkan Allah bagi mengalirnya anugerah dan kuasaNya yang tidak dapat kita abaikan lebih lama lagi.

“Puasa jaman sekarang tidaklah sekedar berdukacita akan ketidakhadiran Allah, namun juga tindakan persiapan bagi kedatanganNya. Kiranya perkataan profetik ini, ‘dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa,’ pada akhirnya akan digenapi di generasi ini.

“Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah’…’Ya, Aku datang segera.’ Amin, datanglah Tuhan Yesus!” Why. 22:17, 20

c. Perenungan
Perenungan menghasilkan suatu hati yang tergila-gila! Menginginkan kehadiranNya; menantikan kedatanganNya kembali; hancur hati seperti seorang kekasih yang ditinggalkan menanti kedatanganNya, kini menjadi motivasi baru dari puasa Mempelai Pria!

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s