Catherine Brown: Anak Muda yang Kaya dan Sembilan Prinsip Kepemimpinan (Dec 19, 2012)


Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya… Mrk. 10:21

Sembilan Prinsip Kepemimpinan

Salah satu kalimat favorit saya dalam Alkitab adalah ayat yang sederhana ini dimana Yesus melihat seorang anak muda, dan mengetahui bahwa ia akan menolak pesanNya, namun Yesus tetap memilih untuk mengasihiNya. Yesus berbicara kepada anak muda yang tak disebut namanya pada Mrk. 10 dan berkata bahwa “hanya satu lagi kekurangannya.” Di sini, si anak muda tak mampu menyerahkan kekayaan duniawinya. Bukanlah uang yang menjadi masalah utama, melainkan isu utama anak muda ini adalah bahwa uang jauh lebih penting baginya daripada menghidupi Kristus di dalamnya.

Ia menilai kepemilikan uang di atas segala-galanya, dan gawatnya, ia menilainya lebih daripada Yesus itu sendiri. Uang dapat digantikan oleh isu lain, entah itu: suatu hubungan, suatu keadaan, kepemilikan atau berhala lainnya yang berdiri di antara manusia dan Allah. Penting bagi kita untuk berhenti dan berpikir sejenak – apakah ada “satu hal” yang dapat menghalangi kita untuk menjadi serupa dengan Kristus?

Sebelum percakapan ini terjadi, si anak muda berlari mengejar Yesus dan bertelut di hadapanNya. Ia berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja…” (ayat 17-20).

1. Kerendahan Hati
Dengan mempertanyakan, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Yesus tidak menyiratkan kurangnya kebaikan dalam hidupNya sendiri. Sebaliknya, Allah adalah dasar kerendahan dan dihormati oleh BapaNya. Di dalam kehidupan dan pelayanan kita, ini adalah titik permulaan dan hikmat yang penting bagi setiap pemimpin Kristiani.

2. Pemodelan Gaya Hidup
Si anak muda meresponi Yesus dengan menegaskan bahwa ia telah melaksanakan perintah Allah sedari kecil. Sekedar mengajar orang lain untuk menghormati kehendak Allah dan dunia tidaklah cukup – pemimpin-pemimpin Kristiani yang efektif haruslah berusaha menjadi seperti Kristus dan mengikuti prinsip-prinsip gaya hidup Kerajaan agar mereka diberkati untuk memberi pengaruh dan melayani. Alkitab bersifat rohani dan pragmatis.

3. Dasar Kasih
Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya (Mrk. 10: 21-22).

Adalah keyakinan saya bahwa Yesus telah mengetahui bagaimana respon anak muda ini dan bahwa ia tak mampu menyerahkan hidupnya (dan kepemilikan duniawi) sebagai seorang murid demi tujuan Kerajaan, namun demikian Yesus menatapnya dengan penuh kasih sayang. Yesus tidak menolaknya; anak muda ini yang menolak pelayanan Yesus. Penting saat kita melihat orang lain, kita memandang mereka melalui mata Kristus dan dengan hati Bapa Surgawi kita. Kasih bukanlah suatu pilihan bagi seorang pemimpin (juga bagi setiap Orang Percaya).

Kasih Allah adalah perintah dan kita harus berjalan di dalam perintah itu tidak peduli bagaimana orang lain memperlakukan jubah kepemimpinan kita. Bukanlah bagian seorang pemimpin untuk menyerang, sebaliknya kita harus mengampuni orang lain sebagaimana Kristus telah mengampuni kita (Mat. 22:37-40).

4. Menyerahkan Segalanya dan Mengikuti Kristus
Saat meminta “satu hal,” Yesus pada faktanya meminta segalanya. Kiranya Allah mengaruniakan kepada kita anugerah untuk menyerahkan segalanya demi kehendakNya yang sempurna. Allah mencari pemimpin-pemimpin yang akan menyerahkan segalanya bagiNya dan keseluruhan diri mereka bagiNya. Allah menginginkan setiap aspek dalam hidup kita; karena kita tak dapat menuntun orang lain ke tempat dimana diri kita tidak menghidupinya. Panggilan untuk “mengikut Kristus” bergema di sepanjang masa.

Sebagai pemimpin, kita mengakui bahwa hanya ada Satu pemimpin yang sempurna, Kristus Yesus Tuhan kita. Akan tetapi, kita mempercayai Roh Kudus untuk menjadikan kita serupa dengan gambar Kristus saat kita berusaha menyiapkan umat Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaan pelayanan dan membangun Tubuh Kristus ke dalam kedewasaan dan kesatuan iman.

5. Tetap Memiliki Iman Seperti Seorang Anak Kecil
… Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ay. 24

Tak peduli ukuran atau luasnya Gereja atau pelayanan yang kita naungi, dan terlepas dari batas-batas dan lingkup tanggung jawab kepemimpinan, kita melayani karena anugerah Allah, pertama-tama kita adalah anak-anak Allah sebelum kita berfungsi dalam kapasitas kepemimpinan lainnya pada Tubuh Kristus. Pemimpin yang sibuk dapat dengan mudahnya dipenuhi dengan kesibukan dan kehilangan prioritas untuk pertama-tama melayani Kristus. Saat kita mendahulukanNya lebih dulu, maka semua hal dalam hidup dan pelayanan akan menjadi jelas dengan sendirinya.

6. Mempertahankan Perspektif Kerajaan
Kedua kalinya Yesus berbicara pada murid-muridNya dan mengulangi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah!” (ay. 24). Yesus tidak berkata, “Alangkah sukarnya masuk ke dalam Gereja.” Yesus senantiasa mengingatkan murid-muridNya untuk berfokus pada pola pikir Kerajaan. Penting untuk mengakui bahwa sementara Gereja adalah agen perubahan Allah dan transformasi Kerajaan di bumi, sebagai pemimpin kita harus juga memahami bahwa Kerajaan jauh lebih besar daripada gereja kita atau pelayanan kita.

7. Sentralitas Kristus Dalam Pelayanan Kita
Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi (strategi dan rencana) manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah. Ay. 26-27 [Catatan milik saya]

Untuk kepemimpinan yang efektif dan menghasilkan buah, para pemimpin harus selalu menempatkan Kristus di tempat terutama dalam hidup dan pelayanan. Bukanlah strategi buatan manusia untuk memuridkan segala bangsa – hanyalah cetak biru Surga yang akan mencukupkan. Lebih jauh lagi, kepemimpinan Krisen sejati seharusnya tidaklah didasari oleh personalitas; karena terlalu sering manusia yang ditempatkan sebagai tumpuan. Kristus dan hanya Kristus saja yang layak menempati tempat tertinggi dalam hidup kita. Yesus mencari para pelayan yang rendah hati namun teguh hatinya yang mampu membawa hadiratNya dan menciptakan peluang bagi kemajuan Kerajaan.

8. Kepemimpinan – Tuaian Seratus Kali Lipat
Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau! Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahului.” Ayat. 28-31

Yesus menegaskan kepada murid-muridNya bahwa murid-muridNya akan menerima kembali seratus kali lipat yang ditabur di dalam kasih yang berkorban bagiNya baik di masa kini dan masa depan. Pemimpin-pemimpin yang terkasih, untuk setiap air mata yang mengalir bagi Gereja dan mereka yang terhilang; untuk semua tahun dalam masa hidup kita dimana kita telah diberi anugerah untuk membangkitkan orang lain; untuk setiap uang yang kita tabur demi Kerajaan dan untuk setiap aspek hidup kita yang kita bagikan bagi kasih Kristus – Tuhan Yesus memerintahkan agar berkat turun atas kita, dan Alkitab menekankan bahwa itu adalah tuaian seratus kali lipat. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Ia jelas layak menerima pemberian hidup kita.

9. Otoritas dan Pelayanan Kehambaan
Yesus mengajar bahwa mereka yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu. Sebagai pemimpin, kita hadir untuk melayani tujuan-tujuan Kristus di dalam TubuhNya dan di dalam dunia untuk menghadirkan transformasi rohani. Kita harus mulai belajar untuk membasuh kaki setiap orang yang dengan anugerahNya mendapat pengaruh kita bagi kemuliaanNya.

Saya berharap pengajaran yang singkat ini adalah suatu peneguhan bagi setiap pemimpin, hamba Tuhan dan rasul yang membacanya.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s