Nic Billman: Allah Bertanya, “Apakah yang Engkau Lihat?” (Dec 12, 2012)


Baru-baru ini saya menulis status di Facebook, “Jika anda seorang Kristen dan semua teman adalah Kristen, maka sekarang saatnya untuk mencari beberapa teman baru.” Sepasang suami isteri menganggap serius kalimat ini karena mereka percaya bahwa orang-orang Kristen tak seharusnya berteman dengan orang-orang dunia. Mereka menyarankan agar kita sebaiknya mencari mereka yang terhilang, namun tidak berteman dengan mereka karena takut mereka dapat dapat menarik kita jatuh ke dalam dosa. Sayangnya, perspektif yang salah ini terserap ke dalam Gereja masa kini.

Sejujurnya, perspektif kita terhadap orang-orang yang hilang akan menentukan isi hati kita bagi mereka dan keinginan kita melihat mereka dilepaskan. Saya tidak khawatir tentang pendapat bahwa mereka yang terhilang akan menarik saya jatuh ke dalam dosa. Jika ini menjadi ketakutan kita, maka kita menaruh fokus kita pada hal yang salah. Sebaliknya, saya mengarahkan mata saya kepada Yesus, dan apapun sifat orang lain, saya terus menunjukkan kepada mereka bahwa Yesus mengasihi mereka.

Jika ada orang yang terhilang, maka mereka terhilang. Geografis dan variasi sifat mereka tak ada bedanya bagi saya. Yesus tidak memiliki sistem kasta bagi orang-orang berdosa; Ia bergaul dengan para pemungut cukai, pelacur, orang-orang Farisi, para pencuri, dan barangkali ibu-ibu rumah tangga yang kecanduan menonton opera sabun. Kenyataannya adalah: Jauh di dalam hati mereka, setiap mereka yang terhilang menangisi, “Siapakah aku?” Kita harus tahu siapa kita di dalam Kristus agar kita dapat memberitahu mereka siapa mereka sebenarnya.

Kita lihat bagaimana Yesus memandang mereka yang terhilang dengan kata-kata ini: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Ia menyerahkan hidupNya untuk sahabat-sahabatNya. Memilih menyebut kita sebagai sahabat-sahabatNya – bahkan sebelum kita mengenal siapa Dia – bukan para pendosa. Saat ia tergantung di kayu salib, Ia melihat orang-orang yang menontonNya dan berseru, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Inilah hati Yesus, bahkan di momen kelemahanNya yang terbesar, Ia berdoa bagi kita dan menangis meminta pengampunan bagi kita.

Surga Terbuka Di Suatu Klub Striptease

Di pusat kota Curitiba, Brazil, ada sebuah klub striptease bernama The Wiskaria, dimana tim kami sering melayani di sana. Semuanya dimulai pada suatu malam saat kami berjalan melalui klub tersebut. Saya mendekati penjaga klub dan bertanya apakah saya dapat berdoa baginya. Ia bertindak gugup, berkata bahwa ia seorang Kristen dan bekerja di sana karena ia membutuhkan uang. Jelas ia segera merasa bersalah karena ia tahu bahwa pekerjaan ini bukanlah kehendak Allah baginya. Walau demikian saya berkata, “Tidak apa-apa. Allah melihat hatimu, dan Ia akan menyediakan pekerjaan lain bagimu, dan ketahuilah bahwa Ia bersamamu, dan Ia mengasihimu.” Malam itu kami berdoa baginya, dan ia berkata ia merasakan damai sejahtera dan panas di sekujur tubuhnya saat kami berdoa, meski malam itu sangat dingin.

Ketika kami kembali, si penjaga ini tersenyum lebar menyambut kami, dan ia meminta kami menunggu di depan. Ia masuk ke dalam klub dan membawa lima penjaga klub lainnya, berkata bahwa satu per satu minta untuk didoakan. “Yang ini membutuhkan kesembuhan. Yang ini baru saja bercerai, dan ia sangat bersedih. Yang ini belum mengenal Yesus. Yang ini memiliki masalah dengan alkohol. Dan yang ini membutuhkan berkat.” Kami berdoa bagi setiap mereka, dan saat kami kami berdoa, beberapa penari striptease keluar keluar untuk melihat apa yang terjadi. Para wanita dalam tim kami lalu berbicara dan mendoakan mereka. Bahkan beberapa klien yang melihat kami, keluar untuk bertanya apa yang kami lakukan, dan bahkan meminta untuk didoakan – saat itu adalah saat Surga terbuka – di sebuah klub stiptease!

Saat kami berbicara, sang manajer keluar, dan saya mengira kami dalam masalah karena hal ini cukup sering terjadi di depan klubnya. Leo, teman penjaga kami, menjelaskan siapa kami, dan si manajer meminta kami untuk mendoakannya. Lalu ia berkata, “Anda disambut untuk datang ke klub saya dan berdoa bagi pekerja-pekerja saya kapanpun anda mau.” Tak lama setelah itu kami mulai mengirim beberapa rekan wanita kami untuk berdoa bagi para penari dan menceritakan Yesus bagi mereka. Kami melihat banyak kesembuhan dan pemulihan terjadi baik di dalam maupun luar klub tersebut.

“Dapatkah Tulang-tulang Ini Dihidupkan Kembali?”

Yehezkiel 37 menceritakan kisah persahabatan Yehezkiel bersama Allah di lembah yang penuh tulang. Yehezkiel dikelilingi oleh kematian dan pembusukan. Lalu Allah bertanya padanya, “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” (Yeh. 37:3).

Di saat seperti ini, kita harus bertanya pada diri kita, Mengapa Allah menanyakan pertanyaan ini? Mengapa Ia yang disebut Hikmat, Sang Mahatahu, menanyakan pertanyaan ini? Saya yakin, saat Allah menanyakan suatu pertanyaan, hal ini karena Ia ingin mengubah visi kita. Seringkali, saat kita berada dalam lembah kekelaman, kita begitu sibuk berdoa sehingga kita lupa untuk berhenti dan mendengarkan. Di dalam doa, mendengarkan sama pentingnya dengan membawa hati kita ke hadapan Allah. Jauh lebih mudah untuk berdoa daripada untuk tinggal tenang. Walau demikian, terkadang, saat kita berdoa dan mengajukan permohonan, Allah berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah” (Mzm. 46:10).

Respons Yehezkiel terhadap Allah menunjukkan sikap hati dan percayanya kepada Allah. “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui” (Yeh. 37:3). Lalu Allah menyuruh Yehezkiel untuk menubuatkan nafas hidup kepada tulang-tulang itu. Saat ia melakukannya, tulang-tulang itu menjadi hidup, mengubah mereka menjadi suatu “tentara yang sangat besar” (Yeh. 37:10). Allah membawa Yehezkiel ke lembah penuh tulang-tulang kering karena Ia ingin mengubah cara Yeezkiel memandang bangsanya dan generasinya.

Sebagai anak-anak Allah, kita harus bertambah dewasa dalam hal pertimbangan dan asumsi. Amat penting untuk dapat membedakan dan tahu musim dimana kita berada. Kita mungkin mendapati diri kita berada di padang gurun meminta untuk dibebaskan sementara keinginan Allah bagi kita adalah membuat taman dan memunculkan mata air di tengah padang gurun.

Dengan cara yang sama, kita mungkin berada dalam lembah kekelaman meminta Allah untuk membebaskan kita ke puncak gunung sementara keinginanNya bagi kita adalah untuk memperkatakan hidup. Kita harus berusaha untuk mengenal hati Bapa kita dan kehendakNya bagi hidup kita hari demi hari. Terkadang Allah akan menaruh kita di tengah lembah kekelaman dan bertanya kepada kita, “Apakah yang engkau lihat?” Dengan kata lain, apakah kita melihat tulang-tulang kering, ataukah suatu tentara yang sangat besar?

Saya terpesona akan pewahyuan hati Bapa dalam kisah ini. Alkitab secara khusus memberitahu kita bahwa tulang-tulang itu amat kering. Mereka sudah lama mati dan dilupakan, namun disitu Allah memilih untuk membangkitkan suatu tentara yang amat besar. Sebagai orang-orang Kristen, kita seharusnya berdoa kepada Allah untuk membangkitkan prajurit-prajurit kasih di dalam Gereja. Ini penting sekali. Namun terkadang kita mencari di dalam Gereja apa yang hanya dapat ditemukan di dalam dunia. Di dalam dunia, suatu tentara jiwa-jiwa yang tersesat menanti putera puteri Allah yang dewasa untuk menubuatkan nafas hidup atas mereka.

Sebagai putera puteri Allah inilah yang kita lakukan. Bapa memberi kita benih, dan kita menanamnya di antara tanah-tanah generasi kita yang rusak. Ia selalu setia menyirami taman-taman yang kita kelola. Saya yakin suatu kebangkitan sejati muncul dari tempat-tempat yang paling kotor dan bobrok pada generasi kita. Konsep yang sama berlaku juga bagi kehidupan pribadi kita. Saat kita mengalami masa-masa yang sukar, kita dapat bersukacita karena kepastian bahwa Bapa menanam benih-benih di antara pupuk perjuangan dan kehancuran kita, dan Ia setia menyirami benih-benih ini. Ia adalah Bapa yang baik dan Ia mengajar kita untuk melihat seperti Ia melihat!

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s