Francis Frangipane: Tempat Perhentian BagiNya (Jul 15, 2012)


Dalam Kerajaan Allah, tidak ada orang-orang perkasa Allah, yang ada hanyalah orang-orang rendah hati yang Allah pilih untuk dipakai secara luar biasa. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita rendah hati? Saat Allah berbicara, kita menjadi gentar. Allah sedang mencari mereka yang menjadi gentar akan firmanNya. Orang semacam ini akan mendapati Roh Allah berdiam atasnya; ia akan menjadi tempat peristirahatan Allah Mahakuasa.

Memasuki Tempat Perhentian Allah

Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? Yes. 66:1

Allah tidak meminta apapun selain diri kita. Gedung gereja kita yang indah, profesionalisme kita yang apik, semuanya hampir tidak ada gunanya bagi Allah. Ia tidak menginginkan apapun yang kita punya; Ia menginginkan siapa kita yang sesungguhnya. Ia ingin menciptakan suatu tempat kudus bagi diriNya dalam hati kita, suatu tempat dimana Ia dapat beristirahat.

Dalam Alkitab, peristirahatan ini disebut “Sabbath rest (hari perhentian Sabat)” (Ibr. 4:9). Namun demikian, hal ini bukan berasal dari mempertahankan hari Sabat, karena bangsa Yahudi mempertahankan hari Sabat namun tidak pernah memasuki tempat peristirahatan Allah. Kitab Ibrani jelas berkata: Yosua tidak membawa mereka masuk ke tempat perhentian (ayat 7-8). Dan setelah periode waktu yang lama dalam mempertahankan hari Sabat, Alkitab melanjutkan, “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah” (ayat 9).

Pertanyaan yang harus ditanyakan selanjutnya, “Apakah hari perhentian Sabat itu?” Mari selidiki kitab Kejadian untuk mendapatkan jawaban kita. “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej. 2:3). Sebelum Allah berhenti pada hari Sabat, tidak ada sesuatu yang khusus atau kudus terkait hari ketujuh. Jika Allah berhenti di hari ketiga, maka hari itu akan menjadi hari yang kudus. Beristirahat tidak terletak pada hari Sabat, tetapi di dalam Allah. Beristirahat adalah suatu kualitas paripurna Allah yang unggul.

Why. 4:6 menjelaskan bahwa di hadapan takhta Allah “ada lautan kaca bagaikan kristal.” Lautan kaca adalah lautan tanpa gelombang maupun riak, suatu simbol ketenangan Allah yang tak tergoyahkan. Mari pahami pada titik ini bahwa: Hari Sabat bukanlah sumber perhentian bagi Allah; Ia adalah sumber perhentian bagi hari Sabat. Seperti yang tertulis, “TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu” (Yes. 40:28).

Diselubungi dan Diresapi oleh Allah

Kata Ibrani bagi istirahat adalah nuach; di antaranya berarti “untuk berdiam, tinggal, menjadi tenang.” Kalimat ini juga menandakan suatu “penyelubungan yang lengkap dan karenanya peresapan,” seperti roh Elia yang “tinggal” pada Elisa, atau ketika hikmat “tinggal di dalam hati orang yang berpengertian.” Allah tidak mencari suatu tempat dimana Ia dapat sekedar beristirahat dari pekerjaanNya bersama manusia. Ia mencari suatu hubungan dimana Ia dapat “sepenuhnya menyelubungi dan kemudian meresapi” setiap dimensi dalam hidup kita, dimana Ia dapat berdiam, tinggal, dan menjadi tenang di dalam kita.

Ketika tempat perhentian Allah diam atas kita, kita hidup di dalam persekutuan bersama Yesus dengan cara yang sama Ia bersekutu bersama Bapa (Yoh. 10:14-15). Ia hanya melakukan apa yang Ia lihat dan dengar dari BapaNya. Ia berkata, “Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” (Yoh. 14:10). Yesus berjanji pada kita, “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (ayat 14). Betapa sia-sianya kita jika kita berpikir bahwa kita dapat melakukan mujizat, mengasihi musuh-musuh kita, atau melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah lainnya tanpa Kristus yang melakukan pekerjaanNya di dalam kita!

Ini sebabnya Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku…Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Di tengah kapal yang terombang-ambing oleh badai di danau Galilea, murid-murid Kristus yang ketakutan datang kepadaNya. Seruan mereka adalah seruan manusia yang akan mati. Yesus menghardik angin ribut, dan dengan segera angin dan danau menjadi “tenang sekali” (Mat. 8:26). Program apa, tingkat profesional pelayanan macam apa yang dapat dibandingkan dengan hidup dan kuasa yang kita terima melaluiNya?

Anda tahu, usaha kita, tak peduli berapa banyak waktu yang telah kita habiskan, takkan dapat menghasilkan perhentian atau kehidupan Allah. Kita harus datang kepadaNya. Banyak pemimpin yang bekerja sendirian hingga keletihan hanya untuk melayani Allah. Jika mereka menghabiskan setengah dari waktu mereka bersamaNya, di dalam doa dan menantikanNya, mereka akan mendapati penyertaan ilahiNya yang bekerja secara luar biasa di dalam usaha-usaha mereka. Mereka akan menjadi penumpang di dalam kendaraan kehendakNya, suatu kendaraan dimana Ia sendiri yang menjadi baik Kapten dan Navigatornya.

Teruslah Berusaha, Ketahuilah, Lalu Patuhilah

Memasuki tempat perhentian Allah menuntut kita untuk diam di dalam penyerahan diri sepenuhnya terhadap kehendakNya, di dalam kepercayaan mutlak akan kuasaNya. Kita belajar untuk berhenti dari pekerjaan-pekerjaan kita “sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibr. 4:10). Untuk “berhenti dari pekerjaan-pekerjaan kita” tidak berarti kita harus berhenti bekerja; hal ini berarti kita menghentikan pekerjaan daging dan dosa yang membebani. Hal ini berarti kita memasuki pekerjaan-pekerjaan kekal yang Ia hadirkan melalui kita.

Gereja harus memiliki pengetahuan akan jalan-jalan Tuhan, karena di sini kita memasuki tempat perhentianNya (Ibr. 3:8-12). Saat kita menaati Allah melewati ujian-ujian kehidupan, kita belajar bagaimana menghadapi situasi-situasi seperti Yesus menghadapinya. Karenanya, penting bagi kita untuk mendengar apa yang Allah katakan kepada kita, khususnya saat hidup tampak menjadi padang gurun kesukaran dan pencobaan-pencobaan.

“Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun … Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.'” Ibr. 3:7-8, 10-11

Ketahuilah bahwa tak ada tempat perhentian bagi mereka yang mengeraskan hati. Tak ada tempat perhentian saat kita memberontak melawan Allah. Tempat perhentian kita berasal dari sikap jujur terhadap kebutuhan-kebutuhan kita dan mengijinkan Kristus untuk mengubah kita.

Itu sebabnya Yesus berkata, “Belajarlah pada-Ku…dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:29). Berhenti melawan Allah dan belajarlah dariNya. Percayalah padaNya! Bertekunlah dalam penyerahan diri anda. Pada waktuNya Ia takkan lagi memakai kesukaran untuk menjangkau hati anda, karena anda akan bersuka di dalam Dia saat anda lemah. Teruslah berserah sampai bisikan suaraNya membuat kegentaran yang lembut bagi roh anda.

Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi?” (Yes. 66:1-2). Namun demikian, luar biasanya, seorang manusia dengan satu kualitas hati menangkap perhatian dan janji Tuhan. “Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku” (ayat 2).

Allah mencari seseorang yang gentar saat Ia berbicara. Bagi dia, kuasa Allah Mahatinggi dapat, tanpa perlu usaha, berdiam di tempat yang tepat. Ia telah mempelajari halan-jalan Allah; ia bersuka di dalam ketaatan. Ia memilih untuk memberi apa yang Allah minta darinya; tak lain dari dirinya sendiri. Sebagai balasannya, orang ini menjadi suatu tempat yang kudus, dimana Allah sendiri dapat berdiam.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s