Wade Taylor: Dua Cara: Membuat Pilihan yang Tepat (Dec 4, 2011)


Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai… Luke 5:1-2

Perhatikan bahwa orang banyak “mengerumuni Dia hendak mendengarkan Firman Allah.”  Kapanpun kita mengambil langkah pertama untuk mencari Tuhan, Ia akan meresponinya dan mulai membawa kita mendekat kepadaNya.

Akan selalu ada “dua kapal” (dua kemungkinan) dalam pengalaman kehidupan rohani kita.  Kapal-kapal ini ditempatkan di jalan kita oleh Allah agar kita membuat pilihan. Yesus takkan pernah memasuki kapal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi kita (saat kita yang mengontrol semua yang kita perkatakan dan lakukan). Saat kita membuat pilihan yang tepat, Yesus akan memasuki kapal yang berhubungan dengan rencana dan kehendakNya bagi kita, dan Ia akan menjadi aktif dalam pengalaman kehidupan rohani kita.

Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Luk. 5:3

“Tepi pantai (dalam hal ini pantai)” berbicara tentang kehidupan pribadi kita, dimana kita yang memegang kendali dan dapat melakukan apapun yang kita sukai. “Laut (dalam hal ini pantai)” mewakili dunia Roh, dimana Allahlah yang memegang kendali. Bagi kita supaya “menolakkan perahu sedikit jauh dari pantai” berbicara tentang menyerahkan hak untuk melakukan apapun yang kita sukai, agar Yesus dapat mendorong kita memasuki suatu hubungan yang kooperatif dan penuh penyerahan diri kepadaNya.

Di sini kita diperlengkapi untuk “siap” berfungsi di dunia Roh yang lebih dalam lagi (Ia duduk dan mengajar orang banyak). Saat kita terus-menerus membuat pilihan yang tepat, “air” pada akhirnya akan semakin dalam dan semakin dalam hingga kaki kita akhirnya tidak lagi menyentuh dasar.

…Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku. Mzm. 42:7

Hal ini berbicara kepada kita bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu (segala gelora dan gelombangMu bergulung melingkupi aku). Hanya kini Yesus berkata:

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Luk. 5:4

Hati yang kita khususkan untuk berdiam di dalam ketaatan akan mendorong (melepaskan) Yesus untuk melangkah masuk ke dalam “perahu” kita (pengalaman hidup kita).

“Kesediaan ketaatan” kita adalah faktor yang menentukan bagi kita untuk menjadi lebih dari pemenang. Menjadi seorang “pemenang” bukanlah hasil atau hadiah atas sesuatu yang kita lakukan. Sebaliknya, hal ini berkaitan dengan niat hati dan masalah-masalah dalam hati kita, yang menentukan tindakan-tindakan kita.

“Berbahagialah Mereka yang Miskin Di Hadapan Allah”

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Mat. 5:3

Keadaan kita untuk menjadi “miskin di hadapan Allah” berarti bahwa kita telah tiba di akhir “hidup bagi diri sendiri” kita. Kita telah menempatkan diri kita dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kita di bawah kepemimpinan Yesus. Kini kita adalah subyek bagi pemerintahan Allah, dan selama kita berjalan di dalam ketaatan dan penyerahan diri, maka kita dapat berkata bahwa kita adalah seorang “pemenang.”

Kita hanya dapat menjadi taat ketika ketika mungkin bagi kita untuk menjadi tidak taat.  Karenanya, Allah akan menempatkan keadaan-keadaan di jalan hidup kita yang akan memaksa kita untuk mengambil pilihan. Itu sebabnya ada “dua pemimpin.” Hal ini juga berkaitan dengan dua pohon di dalam Taman Eden – “pohon kehidupan,” dan “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.”

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kej. 2:16-17

Allah menempatkan manusia di suatu lingkungan percobaan agar manusia dapat diuji. Seperti Yesus melangkah memasuki satu dari dua pemimpin, dua pohon ditempatkan di tengah-tengah aktivitas harian Adam sebagai alat agar ujian ini dapat diselesaikan. Kedua pohon ini benar-benar berbeda dalam hal maksud dan tujuannya. Adam diberitahu bahwa ia bebas mengambil buah dari pohon yang satu; tetapi ia dilarang untup memakan buah dari pohon yang lain.

“Pohon kehidupan” berkaitan dengan gaya hidup dimana Adam hidup di dalam persekutuan yang bergantung kepada Allah. Ia hanya bisa tinggal di dalam dunia ini dengan mengambil bagian dalam “pohon kehidupan” ini setiap hari (persekutuan). Hal ini dibuktikan dan dipertahankan dengan ketergantungannya yang sepenuhnya kepada Penciptanya. Deskripsi “pohon kehidupan” ditemukan di dalam Yesaya 53, yang menyingkapkan bahwa Yesus adalah pohon kehidupan (tunas dari tanah kering).

Suatu Kemuliaan yang Luar Biasa yang Tidak Dapat Dijelaskan, Hanya Bisa Dialami

Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Yes. 53:2

“Pohon kehidupan” berkaitan dengan kehidupan “duniawi” kita yang berasal dari dosa Adam dimana ia memilih untuk terlepas dari Allah. Buah dari pohon ini tampak begitu menyenangkan di depan mata kita, dan menggiurkan sebagai makanan.

Oleh tujuan ilahi, cara hidup kedagingan lebih menarik dibanding kehidupan rohani yang tampaknya tidak menarik sama sekali. Karenanya, kita dapat bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau menjadikan kehidupan diri sendiri kami menarik, dibanding kehidupan rohani kami?”

Ada satu jawaban. Panggilan kerohanian tertinggi ini hanya dapat diperoleh dengan membuat pilihan-pilihan yang benar. Dan, Allah tidak menjadikan hal ini mudah.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Mat. 22:14

Atau dengan kata lain, “Hanya segelintir orang yang akan bersedia membayar harga agar dapat menjadi orang yang terpilih.”

Melalui desain ilahi, ada harga yang harus kita bayar agar kita dipilih oleh Allah. Karenanya Allah menempatkan keindahan di dalam, yang hanya dapat dilihat melalui persepsi rohani, dan hanya diberikan bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkanNya (mereka yang terus-menerus mendesak Yesus untuk mendengar FirmanNya).

Dari bagian luar, bait di padang belantara ditutupi dengan kulit musang yang buruk, namun di dalamnya memiliki penutup berwarna biru yang indah dah hadirat Shekinah Allah. Bait ini berisi suatu kemuliaan yang luar biasa yang tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dialami.

Teruslah Mendesak Untuk Memperoleh Hadiah

Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Mat. 11:12

Oleh pengaturan ilahi, dibutuhkan usaha yang keras untuk berlari-lari melihat keindahan Allah. Sedikit orang akan menyingkirkan halangan-halangan yang ada untuk memperoleh hadiah ini. Paulus berkata:

Dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Fil. 3:14

Hadiah ini bukanlah Surga, yang sudah menjadi bagian di dalam penebusan kita. Sebaliknya, hadiahnya adalah duduk bersama Allah di takhtaNya, mengalami hubungan yang aktif dan kooperati bersamaNya (sebagai anakNya), sementara kita tetap mempertahankan waktu-waktu fellowship kita dan persekutuan bersamaNya (sebagai mempelaiNya).

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah (engkau) dalam kebahagiaan tuanmu.” Mat. 25:23

Kiranya kita terus berlari untuk meraih hadiah ini, dan teguh berdiri di atas segala sesuatu yang berusaha menghalangi kemajuan rohani kita, atau berusaha membuat kita menjadi seorang pemenang (mereka yang duduk bersama Yesus di takhtaNya sebagai mempelaiNya).

Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Why. 3:21

Di saat sekarang, kita memiliki kesempatan untuk membuat pilihan-pilihan yang tepat, yang akan menentukan di “kapal” mana kita akan berada. Kiranya kita berada di antara mereka yang akan “bertolak ke tempat yang dalam” di hari itu.

Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi… Why. 2:26-27

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s