Francis Frangipane: Saat Menjadi Seseorang yang Tidak Berarti Adalah Suatu Kemajuan (Nov 13, 2011)


Awalnya bumi belum berbentuk dan kosong, tetapi hal ini tidak menghalangi Allah Mahakuasa. Ia melihat kepada kegelapan yang belum terbentuk dan menyimpulkan, “Apa yang dibutuhkannya adalah terang!” Demikian juga di awal kehidupan rohani kita, kita pun “belum berbentuk dan kosong” dan Allah, dengan keyakinan yang sama, tetap berkata, “Apa yang mereka butuhkan adalah sedikit terang!” Ingat: Adalah tanggung jawab Allah untuk mencipta dan tanggung jawab kita untuk tunduk terhadap apa yang Ia ciptakan.

Allah hanya membutuhkan tiga hal untuk membentuk kehidupan. Pertama, Ia membutuhkan “apa yang tidak berarti.” Allah Mahakuasa selalu memulai pekerjaan-pekerjaanNya yang kreatif dan besar dari “apa yang tidak berarti” (hal ini sangat penting karena dari sinilah kita berasal!). Lalu, RohNya harus melayang-layang di atas “apa yang tidak berarti” ini. Dan, akhirnya, Ia membutuhkan FirmanNya, yaitu “sesuatu” yang akan Ia tempatkan ke dalam tempat yang “tidak berarti” ini.

Allah tidak memiliki kesulitan sama sekali untuk menciptakan sesuatu dari apa yang tidak berarti.  Satu-satunya penghalang yang Ia hadapi adalah saat apa yang tidak berarti ini mengira ia adalah sesuatu. Di titik ini Allah harus menghancurkannya untuk kembali menjadi tidak berarti sebelum ia bisa digunakan untuk hal yang baik (Apakah anda masih mengikuti saya?). Paulus mengatakannya jauh lebih baik dibanding saya saat Ia menulis,

“Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri” (Galatia 6:3).

Bahkan sebagai orang Kristen, jika kita menganggap diri kita “berarti” sehingga kita memandang rendah orang lain atau menganggap diri kita bijak, kita menipu diri kita sendiri!

Jika kita menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa tanpa Yesus, dan kita terus-menerus menyadari apapun kasih karunia yang Ia kerjakan di dalam kita agar kita dapat memberkati orang lain, maka tidak ada batasan seberapa banyak Ia dapat memakai kita. Kesadaran bahwa kita bukanlah siapa-siapa adalah suatu pencapaian yang besar di mataNya. Karena kemudian kekuatan kita tidak lagi dihabiskan untuk mengangkat atau membela diri kita sendiri, melainkan untuk melekat kepada Allah dan bersandar kepadaNya.

Anda tahu, Yesus tidak terganggu oleh kekacauan. Akan ada masanya dimana seperti pra-penciptaan dunia ini, anda mendapati bahwa hidup anda tampak “tidak berbentuk dan kosong.” Jangan terlalu khawatir. Saat anda mendapati ada “kekacauan” di bagian terdalam dari hidup anda, jangan resah. Anda sedang berada di suatu awal yang baru. Allah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menolong anda menyadari “ketidakberadaan” diri anda.

Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 2 Kor. 4:6

Ini adalah cara bagaimana Sang Pencipta kita menciptakan. Ia membuat terang terbit dari dalam kegelapan! Satu-satunya hal yang Ia tuntut dari kita adalah untuk bersikap jujur perihal kegelapan – mengakuinya dan bukan menyembunyikannya.

Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu…Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Ef. 5:11, 13

Para kekasih, jika anda menyadari bahwa anda bukanlah siapa-siapa, anda adalah kandidat utama untuk menjadi seseorang yang berarti di dalam Allah! Pertimbangkan pandangan Paulus tentang dirinya:

“Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Fil. 3:4-7).

Paulus berkata bahwa apapun yang merupakan “keuntungan” baginya (hal-hal yang membuatnya “berarti” di hadapan manusia), ia menganggapnya sebagai “kerugian karena pengenalan akan Kristus.” Untuk menjadikan diri kita tidak berarti, membuang harga diri dan kebanggaan karena pencapaian yangktia peroleh atau silsilah keluarga kita, adalah bagian dari jalan menuju pendewasaan sebagai anak-anak Allah.

Yohanes Pembaptis berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30). Anda lihat, saat keyakinan akan diri sendiri mati, keyakinan akan Allah menjadi hidup!

Maka, janganlah khawatir. Anda dapat mengakui bahwa anda memiliki area-area dalam hidup anda yang gelap dan mati. Rom. 4:17 berkata, “Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” Allah memberi KEHIDUPAN bagi yang mati. Pernahkah anda terkadang merasa mati? Bagus sekali. Anda lolos untuk menerima hidup dari Allah! Pandanglah Allah. Percayalah kepadaNya selaku Pencipta anda. Janganlah takut saat anda menyadari bahwa anda bukanlah siapa-siapa. Akan ada masanya dimana menjadi seseorang yang tidak berarti adalah suatu kemajuan.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s