F. Frangipane: Berjalan Bersama Allah – Setiap Hari (Jul 10, 2011)


Di hari-hari ke depan banyak orang akan digemparkan oleh banyak pernyataan, baik yang benar maupun yang salah, oleh event-event yang bersifat mengancam yang ditetapkan pada tanggal-tanggal tertentu. Namun demikian, kita tidak dipersiapkan untuk suatu “date (kencan),” tapi untuk suatu pernikahan. Intimnya hubungan kita dari hari ke hari bersama Allah yang akan menentukan perjalanan kita bersama Allah di akhir jaman ini.

Keyakinan diri yang kita miliki saat menghadapi hari esok berakar pada kualitas perjalanan kita bersama Allah di hari ini. Karenanya, saat hari-hari ke depan belum disingkapkan, jalan Tuhan akan menyingkapkan seperti apa hari-hari itu sebenarnya, yaitu suatu jalan yang sempit yang kita jalani bersama Allah. Ini adalah suatu kebenaran yang tidak terbantahkan: satu-satunya cara untuk menyiapkan kedatangan Yeesus yang kedua adalah dengan setia melakukan apa yang Ia katakan saat Ia datang pertama kali – dan perintah pertamaNya itu adalah, “Ikutlah Aku” (Yoh. 1:43).

Apakah artinya untuk “mengikut” Yesus dimana kita berjalan dengan setia bersamaNya seumur hidup kita? Faktanya adalah, kita mengharapkan kedekatan Allah, tetapi kita tidak tahu kapan Ia akan datang kembali. Namun demikian, apa pun yang terjadi, panggilan kita adalah untuk mengikuti Sang Anak Domba – untuk berjalan bersamaNya setiap hari.

Jika kita mempelajari Alkitab, kita akan mendapati bahwa, sedari awal, Allah selalu menyediakan bagi mereka yang berjalan bersamaNya di dalam hadiratNya. Tak peduli apa pun yang terjadi di dunia, hamba-hamba Allah tidak tersandera oleh rasa takut dan kecemasan dalam masa-masa hidup mereka. Perjalanan mereka bersama Allah telah menyiapkan mereka bagi segala hal yang terjadi bagi mereka.

Yesus berkata bahwa hari-hari sebelum kedatanganNya kembali akan seperti pada jaman Nuh. Mari kita lihat kehidupan Nuh. Allah tidak memberikan kepada Nuh suatu tanggal spesifik yang telah ditentukan sebelumnya kapan air bah akan terjadi. Allah hanya memberitahu 2 hal kepada Nuh: suatu tugas, yaitu untuk membangun bahtera, dan waktu untuk menyelesaikannya.

Allah Mahakuasa dapat saja menghancurkan kefasikan yang ada di dalam hati manusia. Tetapi, Alkitab berkata bahwa “Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya…” (1 Pet. 3:20). Prioritas Allah tidak berfokus pada apa yang akan dihancurkan, melainkan pada apa yang sedang dibangun.

Banyak dari kita yang berfokus pada apa yang apa yang iblis lakukan, sehingga kita gagal melihat apa yang saat ini sedang Allah kerjakan. Di tengah-tengah kegelapan yang kelam, Allah telah berniat untuk membawa kemuliaan bagi diriNya dan memberi perlindungan bagi umatNya.

Allah menyuruh Nuh untuk membangun bahtera. Saat tugas ini selesai, air bah melanda. Kita pun memiliki tugas, suatu visi dari Allah: membangun rumah Allah dan ikut serta di dalam tuaian bangsa-bangsa. Yesus tidak berkata, “Saat kejahatan semakin merajalela, tuaian dimulai.” Sebaliknya Ia berkata, “Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba” (Mrk. 4:29).

Nuh hidup di jaman dimana “kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Dunianya, seperti halnya dunia kita, “telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan” (Kej. 6:5, 11).

Tetapi, di saat yang sama, “Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN” (Kej. 6:8). Apa yang umik dari Nuh? Bagaimana ia tetap menjaga kasih karunia Allah dalam hidupnya? Alkitab memberitahu kita bahwa, “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah” (Kej. 6:9).

Saya suka sekali ayat ini: Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Apa artinya bergaul dengan Allah? Hal ini berarti bahwa kita tetap berserah kepada FirmanNya dan suka memperhatikan hadiratNya. Meski kita tidak melihatNya, tetapi kita mengenalNya. Kita mendapati tempat rasa aman kita berada di tangan Allah Mahakuasa. Damai sejahtera kita berasal dariNya, bukan dari manusia, tempat, atau hal-hal lainnya.

Nama Nuh berarti “beristirahat.” Sebagai hamba Allah, Nuh tidak hanya mengetahui misi dalam hidupnya, tetapi ia juga mendapati tempatnya beristirahat hanya di dalam Allah sendiri. Selangkah demi selangkah, hari demi hari, Nuh hidup di dalam hadirat Allah. Nuh berjalan bersama Allah dan bergaul intim denganNya.

Tetapi untuk mengenal seseorang dengan begitu mendalam tidak terjadi dengan singkat. Dibutuhkan waktu untuk menembus masuk tirai ketidaktahuan menuju tempat dimana persahabatan dan keintiman berada. Itu sebabnya mengapa berjalan bersamaNya sangat menyenangkan hatiNya, karena hal ini menciptakan suatu hubungan yang teruji waktu antara Allah dan manusia. Kita tidak lagi dikendalikan oleh pikiran, kritikan, dan persetujuan dari dunia sekitar kita. Hanya saat perjalanan kita bersama Allah bertambah dewasa, maka keintiman dengan Sang Pencipta akan benar-benar dimulai dan rasa damai sejahtera akan masa depan kita semakin bertambah.

Lihat Abraham. Abraham disebut sebagai sahabat Allah (Yak. 2:23). Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1). Berjalan bersama Allah menuntun kita kepada kemurnian dan persahabatan yang intim dengan Allah. Itulah kekuatan kita untuk hidup tak bercela.

Keturunan Abraham, Ishak dan Yakub, juga berjalan bersama Allah (Kej. 48:15). Persahabatan seumur hidup antara Allah Mahakuasa dan para bapa leluhur ini menetapkan standar bagi semua yang mengikutinya, dari para raja dan nabi-nabi Israel hingga ke tiap orang percaya di masa kini.

Henokh Berjalan Bersama Allah

Salah satu ayat favorit saya adalah Kej. 5:22-24, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi…lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” Ibr. 11:5 berkata bahwa Henokh telah “memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.”

Henokh bergaul bersama Allah selama 300 tahun. Setiap hari, Henokh bangun dan mencari Allah, berjalan dengan setia bersama Sang Mahakuasa. Pada akhirnya, Henokh begitu menyenangkan Allah, sehingga tanpa melewati kematian, ia kembali ke rumah Bapa.

Apa pun yang terjadi di masa depan, Allah atas masa depan berjalan bersama kita di hari ini. Dan sementara kita tak bisa melihat ke hari esok, kesetiaan kita kepada Kristus di hari ini adalah perlindungan kita yang terbaik atas apa pun yang terbentang di hadapan kita.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

3 Responses to F. Frangipane: Berjalan Bersama Allah – Setiap Hari (Jul 10, 2011)

  1. GrantSam says:

    Waktunya sudah sangat dekat. Para nabi telah memberikan pesan yang sangat kuat menyambut kedatangan-Nya. Terimakasih Sis, buat kerja kerasnya menerjemahkan setiap pesan yg ada. Kiranya Tuhan semakin memberkati pelayanannya.

    • siskapurnama says:

      Thanks for your encouragement ya….really an exact encouragement in the exact moment for me right now..God is indeed near n I’m still holding on to do my best to His Chuch in Indonesia! Thanks n GBU^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s