Tiffany Ann Lewis: Ialah Dasar Dari Segala Sesuatu (Jul 3, 2011)


…[Abraham] di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan… Rom. 4:17-18

Iman Adalah Dasar Dari Segala Sesuatu

Tuhan berkata dalam hati saya, “Janganlah lelah karena panggilanmu yang tampaknya berjalan tidak sesuai keinginanmu.” Dorongan Ilahi ini menghentakkan saya, karena meski saya merasa letik secara fisik, saya tidak tahu bahwa hal ini mempengaruhi saya secara rohani juga. apakah anda sedang menjadi lelah? Janganlah khawatir, karena di dalam setiap masalah Allah hadir melalui FirmanNya untuk menguatkan setiap kita.

Mari lihat firman yang menguatkan dari Ibr. 11. Ayat ini adalah ayat yang mungkin sudah sering kita baca. Namun, mari kita baca kembali dorongan yang Allah ingin kita terima saat ini.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibr. 11:1

Saya tidak tahu dengan anda, tapi terkadang iman saya cenderung bertindak seperti emosi. Di satu saat saya penuh iman dan siap memindahkan gunung, lalu tiba-tiba suatu situasi terjadi dan saya merasa hampa. Proses ini melelahkan saya, sehingga saya merasa seperti sebuah yo-yo rohani. Tetapi Ibr. 11:1 mengatakan sesuatu yang berbeda. Ayat ini berkata bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu, sesuatu yang nyata, bukan emosional. Mari saya tunjukkan maksud saya.

Dalam bahasa Yunani, kata dasar yang dipakai dalam Ibr. 11:1 adalah hupostasis (diucapkan hu-po’-sta-ses, Strong’s #5287). Hupostasis berarti pengaturan, atau menempatkan di bawah seperti suatu fondasi atau struktur bangunan lainnya. Kata ini berasal dari dua kata Yunani yang berbeda: hypo, berarti oleh atau di bawah, dan histemi, artinya untuk menaruh, menempatkan, mengatur atau mendirikan. Melalui pengertian ini kita dapat melihat bahwa iman bukanlah sesuatu yang kita miliki, dengan sendirinya, hal ini adalah sesuatu dimana kita berdiri di atasnya, sesuatu yang ditaruh di tempatnya dan ditempatkan di bawah kita oleh sang Pencipta dan Penutup iman kita. Iman adalah dasar dari segala sesuatu.

Struktur ini dengan jelas kita saat kita melihat pasangan dari iman, ’emuwnah (Strong’s #529). ‘Emuwnah adalah kata Ibrani bagi iman dan berbagi akart kata dengan kata yang sudah anda ketahui: Amin (diucapkan ah-mayn – Strong’s #543). Yesus menyebut diriNya sendiri Amin dalam Why. 3:14, “Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah.” Pada intinya, amin berarti keteguhan dan dukungan (‘aman, diucapkan ah-man’, Strong’s #539). Kata ini digunakan untuk menggambarkan ayah/ibu angkat atau pengasuh yang merawat dan mendukung seorang anak. Para kekasih Allah, Yesus Kristus adalah Amin; Ia adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ia adalah dasar Iman kita yang teguh; Ia adalah dukungan kita di kala kita lemah.

Karena Iman Kita Mengerti

Selain dari ayat di atas, mari kita lanjutkan membaca dalam Ibrani 11 ini.

“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.” Ibr. 11:3

Karena iman kita mengerti…titik. Apa lagi yang harus kita katakan? Oleh iman kita mengerti perihal masa dan musim dimana kita saat ini berada. Hal ini tidak berarti bahwa setiap masa selalu baik, faktanya, mereka bisa saja tampak buruk…tetapi karena iman kita mengerti akan masa dan karena iman kita akan dapat melalui ini semua.

Hal ini tidak berarti bahwa kita takkan mengalami situasi-situasi yang buruk. Ada perkataan di luar sana yang berkata bahwa jika anda merasa takut, maka anda tidak memiliki iman. Saya bahkan mendengar bahwa rasa takut merupakan ketiadaan iman. Saya dapat mengatakan kepada anda bahwa adalah hal yang mungkin bagi kita untuk menjadi gentar saat anda mempercayai Allah. Saya rasa kisah Yesus saat berdoa di taman Getsemani menyingkapkan hal ini. Dengan penderitaan yang mendalam sehingga keringatNya seperti tetesan darah, Ia masih mampu berkata, “Janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Ialah Dasar Segala Sesuatu Dalam Hidup Kita

Ibr. 11 berlanjut. Ay. 4-11 memberi daftar para pendahulu iman kita dan kesaksian luar biasa yang mereka terima dar Allah. Dari situasi yang mustahil ke situasi mustahil berhasil dilewati dengan kuasa iman. Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Sarah, Ishak, Musa…dan seterusnya. Namun demikian, di tengah surat yang menguatkan ini, kita mendapatkan satu ayat yang sedikit berbeda, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr.s 11:6).

Tanpa iman, mustahil bagi kita untuk menyenangkan Allah. Ini adalah suatu pernyataan yang keras untuk kita perhatikan. Ia disenangkan saat kita berdiri di atas dasar iman kita, yang sekali lagi kita ketahui adalah Yesus Kristus, dasar segala sesuatu atas hidup kita.

Kami mendapati kata Ibrani yang ekuivalen dengan “Dia” dalam Kel. 3:14 saat Allah menyebut diriNya sendiri Ehyeh-Asher-Ehyeh – AKU ADALAH AKU. Akar kata dari nama ini adalah hayah (Strong’s #1961) dan memiliki arti yang fundamental untuk: hadir, ada, menjadi. Tapi juga mengandung ide akan suatu kehadiran yang berdiam, untuk menemani, untuk menyertai. Anda dapat mengartikan nama ini sebagai, “Aku akan – hadir di sana, apapun yang terjadi Aku akan – ada di sana.” Saat kita membutuhkan kedamaian, Ialah Raja Damai kita (Yes. 9:6). Saat kita merasa tak stabil, Ialah Gunung Batu kita (Mzm. 18:2). Saat kita membutuhkan penghiburan, Ialah Penghibur kita (Yoh. 14:26). Saat kita membutuhkan nasihat, Ialah Penasihat kita (Yes. 9:6). Saat kita lemah dan membutuhkan iman untuk mengerti, Ialah dasar dari segala sesuatu (Ibr. 11:1).

Ialah Pengarang dan Pencipta iman anda. Ialah Yesus, dan Ia akan ada saat anda butuhkan untuk menolong anda melaluinya. Jangan lihat ke dalam diri anda untuk menjadi kuat sendirian, tetapi pandanglah Dia. Ia mampu mengatasi setiap situasi yang ada di hidup anda di masa lalu. Ia mampu menangani segala sesuatu yang terjadi di saat ini, dan Ia akan selalu mampu mengatasi apapun yang hadir di masa depan. Ialah Tuhan Allah yang Perkasa, yang sudah ada, yang ada, dan yang akan datang!

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Ibr. 12:1-3

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s