Catherine Brown: Pola Ilahi Orang Tua Rohani Dari Bapa Segala Kasih (Jun 11, 2011)


Mari kita pikirkan beberapa aspek dari ayah/ibu rohani yang ilahi:

· Mengasihi tanpa batas dan tidak mementingkan diri sendiri
· Mendirikan dasar, batasan; membangun identitas, disiplin, hubungan
· Menyediakan
· Menjagai
· Melindungi
· Mengajar/ melatih seorang anak di jalan yang seharusnya mereka tempuh
· Merawat/ mendisiplinkan
· Mendorong, menegaskan, menerima
· Dapat dipercaya/ setia
· Mengajar seorang anak perihal hati seorang hamba dan tanggung jawab dengan tepat
· Model gaya hidup – menanamkan karakter dan nilai-nilai hidup
· Memaafkan dan menunjukkan kesetiaan
· Mengantarkan
· Menunjukkan kekuatan

Musa dan Semak-semak yang Terbakar – Fondasi Bapa

Kita telah diberkati untuk melihat kehidupan Musa sebagai inspirasi yang berkaitan dengan topik status orang tua dan anak rohani. Saat kita merenungkan pertemuan Musa dan Tuhan di antara semak-semak yang terbakar, kita dapat melihat dengan jelas suatu pola orang tua rohani yang muncul dari dialog antara Bapa kita di Surga dan Musa dan menunjukkan tindakan yang Allah lakukan demi anak-anakNya, bangsa Israel.

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Kel. 3:1-4

Allah memulai pertemuan ilahi dan menjumpai Musa di “dalam nyala api.” Musa melangkah memasuki suatu momen ilahi bersama Allah yang hidup, yang dipenuhi dengan kemuliaanNya. Kita dipanggil untuk hidup di dalam kebenaran untuk melayani Tuhan kita dan Bapa kita.

Allah memanggil Musa dengan suatu cara yang teramat pribadi dengan memanggil namanya. Saya percaya bahwa akan selalu ada perkataan penegasan yang pribadi dari hati Bapa kita saat Ia menugaskan kita ke dalam tugas-tugas Kerajaan yang baru. Yesus, Juruselamat kita yang terkasih, juga mendengar suara BapaNya yang menegaskan di saat-saat yang menentukan dalam hidupNya dan pelayananNya (Yoh. 3:21-22; Mat. 17:5).

Musa dituntut untuk berhubungan dengan Allah di semak-semak yang terbakar. Allah tidak menarik hambaNya ke dalam pertemuan. Setelah tanda mujizat pertama semak-semak yang terbakar, Allah melihat bahwa Musa bersedia untuk memasuki komunikasi bersamaNya. Allah memanggil Musa dan responsnya, “Ya, Tuhan,” adalah tanda kesediaannya untuk berserah kepada rencana Allah dan tujuan bagi hidupnya. Allah memulai kesempatan agar kemuliaanNya disingkapkan kepada kita dan melalui kita dan janganlah kita menjadi pasif di dalam prosesnya. Terdapat begitu banyak pintu-pintu kesempatan di sepanjang jalan yang disebut “destiny,” dan pintu-pintu ini menuntut untuk diketuk dan/ atau dibuka!

Allah Membangun Batasan-batasan Ilahi

Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Kel. 3:5-6

Allah mengingatkan garis keturunan dan warisan Musa kepadanya dari ayahnya dan ayah dari ayahnya. Setelah membangun fondasi kebenaran bagi hambaNya Musa, kini Allah membangun batasan bagi anakNya, yang dimaksudkan demi kebaikannya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa di dalam hubungan orangtua rohani, sebaiknya ada batasan dan parameter ilahi yang ditetapkan oleh orangtua, agar sang anak tetap diberkati dan dilindungi di dalam hubungan tersebut. Dalam kasus ini, Musa dapat benar-benar meninggal seandainya ia memilih kebebasan di hadirat Alalh.

Musa mempercayai Allah dan merespon dengan taat terhadap perintah Allah. Lebih lanjut lagi, ia memposisikan dirinya dengan rendah hati menyembunyikan wajahnya di hadapan Allah. Aksinya ini menyingkapkan karakternya untuk menghargai Allah dan bersikap hormat di hadiratNya. Dengan cara yang sama, haruslah ada mutualitas antara harga diri dan kehormatan di antara mereka yang mengaihi Allah dan antara seorang dengan yang lain (khususnya di antar generasi) agar penggenapan kebaikan dan anugerah Allah tersingkapkan.

Ia Melindungi, Menyelamatkan, Mendorong, Memelihara

Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya…” Kel. 3:7-8a

Kita telah mengenali perlindungan dan pembebasan sebagai aspek daro kebapaan rohani, dan di sini Allah mengungkapkan pada Musa bahwa Ia telah melihat dan mendengar tangisan umatNya dan bahwa Ia akan bertindak demi mereka. Respons Allah sebagai Bapa Surgawi kita ialah untuk turun tangan di tengah-tengah penderitaan kita dan membebaskan kita ke tempat peristirahatan dan berkat yang dijanjikan. Allah Bapa kita mengasihi kita dengan kasih tanpa syarat yang melampaui apa yang kita pikirkan atau bayangkan. Ialah Pembebas Agung kita.

Allah berkata, “Aku telah melihat, Aku telah mendengar dan Aku mengerti.” Dialog antara Musa dan Bapa Surgawi kita menunjukkan luasnya keterlibatan pribadi, kepedulian, kasih  Allah yang tak dapat kita ukur bagi anak-anakNya. Bapa Surgawi Kita selalu memperhatikan kondisi-kondisi yang dialami anak-anakNya dan teliangaNya selalu mendengar seruan mereka.  Seperti di jaman Musa, demikian juga di jaman kita – tanganNya tidak kurang pendek untuk menyelamatkan! Tuhan berkata, “Aku akan menyelamatkan mereka.” Bapa kita di Surga adalah Allah yang melindungi, menyelamatkan, dan membebaskan anak-anakNya. Kita bersyukur kepada Allah karena Ia telah memberi kita Kristus, Raja Penebus kita.

Allah juga berbicara kepada Musa bahwa Ia akan membawa umatNya ke tempat yang luas dan penuh dengan susu dan madu. Orangtua rohani bertanggungjawab untuk memelihara mereka yang diasuhnya. Susu berbicara kepada kita perihal proses pemeliharaan dan pendewasaan, sementara madu yang manis berbicara kepada kita perihal waktu-waktu pewahyuan yang berharga bersama Allah. Kita telah ditebus demi satu tujuan: Bangsa Israel dapat mewarisi semua yang telah Allah janjikan kepada mereka agar mereka dapat menjadi produktif dan berbuah bagi Allah di tempat dimana mereka telah ditanam. Anugera mengeluarkan hal-hal terbaik dari Allah di dalam kita saat kita berjalan oleh iman. Kita dapat yakin akan kasih setia Allah terhadap panggilan Kerajaan kita.

Ia Menempatkan

Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir. Kel. 3:10

Anak laki-laki/ perempuan yang sejati dan mengasihi selalu ingin tahu akan kegiatan bapanya. Yesus seendiri dengan jelas dimengerti dan dimodelkan dengan hal ini (Yoh. 5:36-37). Pada Musa, ada keinginan untuk akrab dengan Allah, namun ada juga rasa takut di dalamnya, sebagian karena rasa tidak amannya terhadap identitas dan keabsahan (yang kemudian Allah nyatakan). Kita diutus oleh Bapa kita di Surga sebagai wakil-wakil Allah di dunia untuk membawa pesanNya bagi seluruh bangsa. Pemahaman kita akan panggilan kita anak-anak adalah isyarat untuk berjalan di dalam pewahyuan yang lengkap bagi mereka yang telah diutus oleh Allah.

Ia Membangun Identitas, Disiplin, Hubungan: Siapa Aku? Suatu Pertanyaan Akan Identitas

Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Kel. 3:11

Seruan hati Musa “Siapa aku?” adalah seruan yang bergema di sepanjang halaman sejarah dari mulut orang Percaya yang lahir kembali. Tentu setiap kita mengalami suatu titik dalam iman kita dimana kira merasa sesak oleh keadaan-keadaan yang ada dan kita membutuhkan FirmanNya untuk meneguhkan kita di atas jalur destinyNya bagi kita. Lalu, apakah kalimat penegasan Bapa bagi Musa?

Ia Menguatkan, Menegaskan, Menerima, Menyertai

Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Kel. 3:12

Allah kembali menjamin Musa dengan berkata kepadanya bahwa Ia akan menyertainya. Allah sendiri akan menyertai Musa di setiap pengalaman lembah dan gunung. Allah berjanji kepada Musa bahwa hasil akhir dari perjalanan iman mereka adalah bangsa yang akan menyembah Allah. Jika Allah beserta kita tak ada sesuatupun yang mustahil di hadapan pria atau wanita iman yang berdoa. Jika Allah menjadi Penyelamat, Raja dan Allah di hidup kita, takkan ada pemerintahan atau kuasa yang dapat mengalahkan kehidupan kita yang kudus, yang ditebus dengan DarahNya! (Rom.8:31-39)

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Kel. 3:14-15

Respons Allah terhadap Musa adalah menolongnya memahami bahwa seluruh identitasnya terbungkus di dalam pemahaman pribadinya akan siapa Allah dan siapa Musa saat ia berada di dalam perjanjian covenant bersama Allah. Saat kita mengerti identitas sejati kita sebagai anak-anak sah Allah, ahli waris Allah, maka ketakutan kita akan meleleh di dalam rasa aman akan identitas kita sebagai anak-anak Allah (Rom. 8:15-17).

Allah sekali lagi menunjukkan garis keturunan Musa kepadanya: penerimaan dan penegasan kita di dalam garis keturunan kita adalah kunci penting untuk membuka adopsi kita sebagai anak-anak Allah sejati.

Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu… Kel. 6:7a

Ia Menyediakan

… Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman. Kel. 6:6

Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa. Kel. 3:21

Saat kita meninggalkan tempat pergumulan dalam hidup kita, Allah menjamin bahwa kita takkan berjalan dengan tangan kosong. Bangsa Israel mendapatkan kemurahan hati yang besar saat Allah membebaskan mereka dari Mesir. Mereka diberikan kekayaan rohani (kebebasan dari penindas mereka) dan kekayaan jasmani. Setiap anak Allah memiliki potensi untuk berjalan di dalam manifestasi kemuliaan Allah saat mereka melayaniNya. Kita diciptakan untuk menghasilkan buah yang akan bertahan selamanya!

Kiranya Allah melimpahi hati kita dengan kasih BapaNya di hari ini.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s