Catherine Brown: Karakter Bapa-bapa dan Ibu-ibu Rohani yang Sejati (May 18, 2011)


Dalam artikel ini kita akan mempertimbangkan beberapa aspek akan generasi “self-parenting” (generasi yang mampu/ terbiasa mengurus dirinya sendiri). Hal ini tidak dimaksudkan untuk menjadi suatu daftar yang sempurna, melainkan suatu titik temu bagi hati dan pikiran kita terkait dengan Roh Kudus. Kiranya Allah mengaruniakan kita hikmat dan pewahyuan dan menambah pengertian kita.

“Mentalitas Pengurus”

Saat seorang “self-parenting” menjadi penanggung jawab bagi kesejahteraan seseorang, persediaan bagi orang-orang yang dipercayakan di bawah tanggung jawab mereka menjadi prioritas utama dalam agenda mereka karena mereka telah belajar untuk menyediakan apa yang terpenting bagi hidup mereka dan mereka mengetahui perjuangan yang mereka lalui untuk mendapatkan itu semua. Perhatian ini hanya bisa dilakukan oleh orang semacam ini untuk menghindari pola pikir kemiskinan, yang saya sebut dengan rasa takut tidak memiliki, atau rasa takut kehilangan. Pola pikir kemiskinan tidak berbicara tentang jumlah uang atau sumber daya yang dimiliki seseorang. Hal ini berkaitan dengan rasa takut tidak memiliki atau kehilangan. Kita dipanggil untuk berjalan di dalam perkenanan, kelimpahan, dan berkat dan untuk menguatkan iman kita bahwa tidak ada kekurangan di dalam Kerajaan Allah. Bapa kita di Surga bersedia dan mampu untuk menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan dengan penuh kasih.

Saat kita ingin menyediakan sesuatu yang dibutuhkan orang lain, khususnya anak-anak jasmani dan rohani, dan dalam kualitas yang mengagumkan, ada garis yang jelas antara menjadi seorang provider (penyedia) yang percaya bahwa Allah akan menyediakan agar menjadi hamba yang bijaksana dan rohani atau menjadi seorang caretaker (pengurus), yaitu seseorang yang mungkin memiliki beban yang berlebihan dengan mengambil peranan dan tanggung jawab orang lain.

Hanya Allah sendiri yang menjadi sumber segala sesuatu yang kita butuhkan dan memberkati kita dengan anugerah dan hikmat untuk melayani dengan menjadi hamba atas apa yang Ia sediakan. Saat seseorang tanpa sadar mengisi peran caretaker, ini adalah contoh dari pola pikir yang independen, self-sufficiency (sanggup memenuhi kebutuhan diri) dan self-reliance (mengandalkan diri sendiri) ketimbang mengandalkan Allah. Sikap semacam ini dapat menuntun seseorang untuk menanggung beban yang salah dan keletihan yang luar biasa di dalam hidup dan dalam pelayanan.

Saya percaya rasul Paulus mengerti dilema ini saat ia berbicara kepada jemaat di Korintus, bahwa sekalipun mereka memiliki beribu-ribu pendidik, tetapi mereka tidak mempunyai banyak bapa (1 Kor. 4:15). Menjadi seorang bapa/ ibu rohani adalah suatu hak yang istimewa, dan seharusnya ia adalah seseorang yang kita kasihi dan perlakukan dengan bijaksana dan dengan penghormatan di hadapan Allah. Namun demikian, harus kita ingat, sementara semua bapa/ ibu rohani adalah mentor, tidak semua yang menjadi mentor dapat disebut bapa/ibu rohani.

Minim Pembangunan

Bagi generasi self-parenting, merawat orang lain mungkin kurang menjadi prioritas dibanding menyediakan kebutuhan orang lain. Hal ini akibat dari kondisi seseorang yang tidak berkecukupan (atau kekurangan) di tahap awal perkembangan diri dan saat beranjak dewasa. Sedihnya, tak seorang pun menyediakan waktu untuk mengembangkan diri generasi ini, sehingga kemampuan utnuk membangun orang lain mereka pelajari di masa dewasa mereka di bawah pelatihan Roh Kudus dan oleh orang tua rohani mereka. Jika merawat orang lain terjadi lebih dulu dibanding hal-lain seperti campur tangan Allah, hal ini biasanya lebih berasal dari perspektif “training for task” (pelatihan karena tugas) dibanding dari pendekatan “pengembangan kepemimpinan,” yang tujuan utamanya adalah membangkitkan putra/putri rohani, yang melalui tindakan ini akan memperluas KerajaanNya di bumi.

Sekali lagi kita melihat kasih Bapa di Surga melalui surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus.

Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namaNya. Ef. 3:14-15

Paulus mengerti bahwa kasih Bapa adalah kunci untuk membuka semua pemulihan dan semua kuasa Kerajaan di dalam diri setiap Orang Percaya, dan demikian juga kita.

Pesan bagi suksesi dari generasi ke generasi terkandung dalam gagasan “meneruskan tongkat estafet,” yaitu meneruskan warisan rohani seseorang ke generasi selanjutnya. Walau demikian, saat tiada kepemimpinan orang tua rohani, maka tak ada teladan untuk diikuti anak-anak. Ini adalah sesuatu yang jelas. Tetapi agar dapat meneruskan tongkat estafet, pertama-tama tongkat ini haruslah diterima lebih dulu. Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain sesuatu yang belum kita pahami atau terima bagi diri kita. Dengan kata lain, seorang fatherless (seseorang tanpa figur ayah), generasi self-parenting kemungkinan tidak tahu bagaimana membapai generasi berikutnya, hingga diri mereka sendiri telah dibapai terlebih dahulu.

Namun demikian, ketika anugerah Allah membawa pewahyuan akan kasih BapaNya ke dalam hidup kita, maka kita dimampukan untuk memiliki iman untuk menerima berkat-berkat rohani. Dalam hal ini, berkat tersebut terkait dengan perasaan dihargai sebagai anak-anakNya, yang kemudian berkaitan dengan membesarkan orang lain sebagai anak-anak rohani. Bapa-bapa/ibu-ibu sejati berlari bersama anak-anak mereka di dalam pertandingan iman, mengajarkan mereka nilai perasaan dicintai sebagai anak mereka. Saat kita mengerti bahwa kita dihargai sebagai seorang anak, maka kita akan menghargai nilai seorang anak dan membesarkan anak-anak orang lain di dalam iman.

Luntang-lantung

Generasi self-parenting dapat menjadi generasi yang penyendiri/ picik, terisolasi, dan kerap cenderung “luntang-lantung.” Sebagai akibatnya, mereka berjuang untuk bekerja dalam kelompok dan/atau mendelegasikan tugas kepada orang lain, hanya karena mereka selalu melakukan segala sesuatu sendirian. Mungkin saja ada hal-hal kecemburuan di antara saudara-saudara sekandung, atau suatu kecenderungan di dalam membangun hubungan yang bersifat ketergantungan. Hubungan ketergantungan adalah suatu hubungan yang tidak sehat karena didasarkan pada “kebutuhan,” dan kerap terjadi di antara orang-orang yang menderita trauma dan mengalami masa-masa sukar di dalam hidup. Hubungan semacam ini menghasilkan siklus korban/ pendakwa/ pelaku yang melemahkan saat ada permintaan yang tidak dipenuhi oleh mereka yang terlibat di dalam hubungan tersebut. Hal ini membuat seseorang menjadi tidak berperasaan dan menjadi penindas, manipulatif dan mengalami kehancuran secara emosi, fisik dan rohani.

Namun, dengan jenis dukungan dan pengasuhan yang tepat, masalah ini dapat diubahkan. Kita melihat bukti pemulihan ini dalam hidup Musa, yang mampu bekerjasama bersama saudaranya Harun dan juga mampu menerima saran mertuanya Yitro untuk menunjuk orang-orang yang akan menolong kepemimpinan Musa. Yitro berbicara kepada Musa di luar hubungan mereka, dan Musa sanggup mendengar dan melaksanan saran kebapaan Yitro karenanya. Akibatnya ia memilih keluar dari modus “self-parenting,” dan menjadi bapa iman yang sejati dengan melepaskan orang-orang di bawah pengasuhannya dengan penuh tanggung jawab.

Masalah-masalah Otoritas/Pemberontakan

Generasi self-parenting sering bermasalah dengan hal-hal seperti otoritas, kebanyakan karena ketiadaan figur ayah/ibu, ketiadaan figur otoritas dengan kasih yang konstan dan sejati saat mereka tumbuh dewasa. Akibatnya, generasi self-parenting tidak tahu bagaimana memulai otoritas dan akuntabilitas yang rohani dalam suatu cara yang relevan. Bagi mereka, otoritas lebih terasa seperti pembebanan yang hierarkis mulai dari atas, ketimbang suatu aliran kasih dari hubungan dengan Bapa kita di Surga dan melalui covenant dengan orang lain.

Generasi self-parenting mungkin mengalami kesulitan dalam mempercayai orang lain. Pengabaian dapat menuntun kepada rasa takut akan diabaikan di masa depan, dan hal ini hanya dapat dinetralkan di dalam kasih Allah Bapa saat kita membangun suatu hubungan covenant dan disebut sebagai anak-anakNya dan pewaris KerajaanNya.

Kesulitan Di Dalam Membangun Batasan-batasan Rohani

Karena ketiadaan pemelihara utama keluarga saat bertumbuh dewasa, generasi self-parenting mungkin menghadapi kesulitan-kesulitan di dalam membangun batasan-batasan rohani. Seorang ayah/ibu menolong anak-anak mereka untuk mengalami dan membangun batasan-batasan di dalam hidup mereka seiring dengan pertumbuhan mereka melalui berbagai tahap anak-anak, remaja, dan dewasa.

Kemampuan untuk membangun batasan-batasan adalah suatu bagian penting dalam membangun hidup yang aman dan seimbang. Jika seseorang tidak belajar bagaimana caranya membangun batasan-batasan, maka secara tidak sadar mereka mengijinkan orang-orang tipe pemangsa masuk dalam hidup mereka, yaitu tipe orang yang dapat melampaui batas otoritas mereka dalam kondisi-kondisi tertentu, dan orang tersebut takkan pernah belajar pentingnya untuk berkata “tidak” pada tipe pemangsa ini. Hal ini dapat menyebabkan rasa tidak aman dan dapat bersandar untuk “menyenangkan manusia” ketimbang menyenangkan hati Allah.

Pola Pikir Penolakan

Generasi self-parenting memiliki kecenderungan untuk menyaring situasi-situasi yang terjadi melalui suatu pola pikir penolakan; hal ini khususnya dikarenakan mereka tidak sepenuhnya mengetahui pernyataan Allah sebagai Bapa mereka atau mereka belum mengalami kasihNya melalui bapa/ibu rohani. Obyektivitas dan pertimbangan seseorang sepenuhnya dipengaruhi oleh luka-luka akibat penolakan, dan kemudian, kekecewaan di dalam hidup dan hubungan-hubungan menjadi berubah-ubah dan dilebih-lebihkan yang menyebabkan kedengkian, berupa suatu spiral menurun akibat kecenderungan mengalami penolakan dan luka hati.

Akibat dari rasa tidak aman ini dapat membuat hubungan yang akrab dan mendalam menjadi sukar, kalau tidak bisa dikatakan mustahil. Walau demikian, saat pewahyuan akan Allah sebagai Bapa telah terbentuk dengan teguhnya di dalam kehidupan seseorang sebagai suatu kenyataan rohani, bersama dengan kasih yang konstan dari orangtua rohani, mereka mampu mengatasi efek-efek penolakan yang melemahkan melalui pemulihan karena diangkat, diterima dan dinyatakan sebagai anak-anak Allah yang istimewa dan sesama pewaris Kerajaan Allah.

Ditebus Di Dalam Kristus

Saat Allah memulihkan seorang self-parenting, Ia menciptakan seorang murid Kristus yang luar biasa, mengasihi, cakap, teguh, diurapi, dan radikal dengan hasrat akan Sang Raja dan KerajaanNya! Tentunya pemulihan generasi self-parenting akan melepaskan suatu perubahan paradigma pembapaan rohani secara global yang akan menjadi bagian dari persiapan Mempelai Kristus untuk menyambut kembalinya Sang Mempelai Pria!

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s