Gayle Claxton – Penyesuaian Sikap Terkait Pemberian (Mar 1, 2008)


“Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.

Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, –dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami–demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.

Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”  (2 Kor. 8:1-15).

Bagaimanakah pandangan anda terkait pemberian? Sebagian orang melihatnya sebagai suatu halangan, beban, hukuman, atau bahkan ritual. Terkadang kita kita perlu mengatur ulang sikap kita terhadap pemberian. Meski ayat Alkitab ini berbicara tentang pemberian khusus untuk menolong yang membutuhkan, menarik bahwa ini tidak semata-mata menyangkut perpuluhan.

Bukan hanya kita yang belum memberi perpuluhan yang membutuhkan penyesuaian sikap – mereka yang memberi perpuluhan juga membutuhkan perubahan pola pikir. Banyak orang berkata bahwa perpuluhan hanya terdapat pada Perj. Lama; secara teori, ya, ini benar, karena Perj. Baru memberitahu kita bahwa seluruh hidup kita adalah persembahan yang hidup bagi Allah. Tetapi Allah masih memerintahkan kita untuk membawa persembahan sulung kita kepadaNya.

Kita harus diubahkan dari sikap mementingkan diri sendiri ke sikap kemurahan hati, dari sikap yang memberi dengan ketidakrelaan hati ke sikap yang memberi dengan murah hati, dari sikap pelit ke sikap saling berbagi. Konteks dari ayat ini terkait dengan orang-orang kudus yang miskin di Yerusalem dan kemurahan hati para orang percaya di Makedonia yang memberi dengan murah hati. Ironisnya, mereka yang memulai api Kabar Baik dengan pergi “ke seluruh dunia” kini menjadi orang-orang yang mengalami masalah finansial. Mereka berada di pusat penganiayaan yang terkejam di hari-hari ini; mereka menderita secara ekonomi, politik, social dan emosi.

Mari kita pahami bersama tiga penyesuaian ini:

1Memberi bukanlah suatu hukuman, melainkan suatu hak istimewa (ay.1-4)

Suatu hak istimewa karena kita memiliki Allah yang bekerja melalui kita (ay.1). Allah bergerak dengan penuh kuasa di antara gereja-gereja di Makedonia (ay.2). Terjadi pelbagai penderitaan, tetapi ada sukacita yang meluap. Ada kemiskinan yang menghimpit, tetapi banyak orang yang bermurah hati. Ketika kita mengalami pencobaan, bagaimana anda bereaksi membuktikan siapa anda sebenarnya. Jemaat-jemaat di Makedonia lulus dari hal ini.

Sungguh hak yang istimewa untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan (ay.3-4). Jemaat-jemaat di Makedonia meminta untuk menjadi bagian dalam hal memberi dan melayani dan melampaui kemampuan mereka sendiri, menganggapnya sebagai suatu kasih karunia.

2Memberi bukanlah suatu penghalang, melainkan suatu kesempatan (ay.5-9)

Memberi ialah suatu kesempatan untuk menyembah. Memberi ialah cara lain untuk menyerahkan diri anda bagi Yesus. Memberi ialah kesempatan untuk bertumbuh. Jemaat di Korintus dikenal sebagai gereja dengan pertumbuhan tercepat di jaman mereka. Mereka memiliki gereja dengan pelayanan penyembahan yang hidup, jemaat yang memiliki karunia, terjadi mujizat dan tanda-tanda ajaib, mereka cerdas dan barangkali memiliki pendanaan yang cukup bagi suatu gereja di masa itu, karena gereja itu berlokasi di kota Korintus yang makmur. Saat anda sepenuhnya memberi diri anda kepada Allah, anda tidak akan terlalu bermasalah dalam hal memberi kepada Allah. Kemurahan hati di dalam memberi berkat-berkat materi berbicara banyak tentang kedalaman dan kedewasaan rohani kita.

3Memberi bukanlah suatu beban, melainkan suatu berkat (ay.8-15)

Sungguh suatu berkat untuk menjadi serupa dengan Yesus.  Ams. 19:17 berkata: “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Dalam 2 Kor. 8:12 kita membaca adalah suatu berkat untuk memberikan apa yang kita miliki. Alkitab berkata bahwa kita memberi berdasarkan pada apa yang kita miliki dan bukan berdasarkan apa yang tidak kita miliki. Allah mengukur ketulusan dan hati sang pemberi lebih dari ukuran hadiah sang pemberi. Menjadi seorang pemberi yang murah hati jelaslah menguntungkan kita. “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat…” (Luk. 12:33).

Sungguh suatu berkat untuk menghadirkan persamaan. Alkitab mencatat bahwa, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35). Apakah kita sungguh percaya akan hal ini? Karena para orang percaya yang membawa Kabar Baik ke seluruh dunia, jemaat di Korintus, yang mengalami kemiskinan secara rohani, telah menerima pesan keselamatan. Kinilah saatnya bagi mereka untuk mengembalikan kasih karunia yang telah mereka terima dengan mendukung secara finansial orang-orang percaya lainnya untuk pergi dan memberitakan Kabar Baik.

Salah satu aspek yang luar biasa dari memberi adalah di suatu hari nanti, saat kita memasuki alam kemuliaan, kita akan melihat banyak jiwa yang terhingga jiwanya berseru kepada Allah kita, “kami lapar dan ia memberi sesuatu untuk dimakan, kami haus dan ia memberi sesuatu untuk diminum, saat kami telanjang dan mereka memberi kami pakaian, saat kami butuh rumah dan mereka membangunnya.” Dan Yesus akan berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” – Mat. 25: 37-40.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s