Kathi Pelton: Kasih Akan Selalu Menjadi Standar Allah (Mar 7, 2011)


Saya telah mendapati suatu paradoks, bahwa jika anda mengasihi hingga sakit rasanya, takkan mungkin ada sakit hati lagi, yang ada hanyalah semakin mengasihi.” Mother Theresa

Seorang teman baru-baru ini mengirimi kutipan ini dan mendorong saya untuk mengasihi melampaui ukuran yang selama ini saya tetapkan.

Hubungan-hubungan dapat menjadi berkat-berkat terbaik dalam hidup kita, tetapi di saat yang sama mereka dapat menjadi tantangan terberat yang kita akan pernah hadapi. Mengapa? Karena kita semua adalah manusia yang dipengaruhi oleh dosa. Meski kita diciptakan menurut gambar Allah, setiap hari kita memiliki batasan-batasan saat berhadapan dengan sifat kedagingan kita yang masih kerap membuat kita tersandung di area-area kasih. Karena kasih adalah unsur utama di semua hubungan, penghalang kita di area ini dapat membawa luka yang dalam bagi orang lain dan juga bagi kita. Kemampuan untuk mengasihi adalah karunia kita yang terbesar dan juga area kelemahan kita yang terbesar.

Jangan Biarkan Kasih Anda Terlukai

Kita semua pernah terluka saat kita tidak dikasihi dengan layak. Kita juga telah melukai orang lain saat kita tidak dikasihi dengan layak. Saya tak dapat memikirkan banyaknya saat dalam hidup saya dimana saya menghadapi konflik hubungan yang hanya berjalan satu pihak saja. Biasanya saya mendapati bahwa kedua belah pihak tersandung di area kasih yang murni dan keduanya pun terluka. Jika anda terluka di dalam suatu hubungan, sangat penting untuk segera membagi isi hati anda dengan orang tsb agar mereka dapat segera meminta maaf, atau sebaliknya, menjelaskan bagaimana anda salah mengerti perkataan atau tindakan (niat) mereka. Jika tidak, sakit hati anda dapat segera menjadi sandungan, yang kemudian berubah menjadi kemarahan.

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah TUHAN. – Im. 19:18

Kita harus mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri; bagaimana kita ingin agar diri kita dikasihi sama halnya dengan bagaimana kita harus mengasihi orang lain. Saya harap saya dapat berkata bahwa saya telah “dikasihi dengan layak” dalam kebanyakan hubungan di dalam hidup saya, namun hal ini telah menjadi salah satu kegagalan terbesar saya. Meski ini adalah hasrat terbesar saya, namun hal ini juga merupakan tantangan terbesar saya. Akankah saya mengasihi melampaui luka hati saya atau akankah saya mengabaikan kasih di titik luka hati saya? Kita semua harus membuat suatu keputusan untuk mengasihi melampaui titik luka hati kita atau kita takkan pernah memiliki hubungan yang bertahan selamanya.

Cepatlah untuk mengasihi dan berlambatlah untuk merasa disakiti. Sakit hati akan menjadi “pagar” dalam hubungan anda, membuat batasan-batasan yang tidak selayaknya hadir, yang memulai suatu sakit hati atau salah pengertian. Mengasihi di saat terluka akan membuat anda menanggung resiko untuk menjadi jujur terhadap orang yang membuat anda terluka. Tentu ada saat-saat dimana kita mengambil resiko itu dan dikecewakan karena orang tsb tidak menanggapi kasih kita, namun, bahkan jika hal ini terjadi, jauh lebih baik untuk memilih jalur kasih dari pada jalur sakit hati. Jika isyarat kasih anda ditolak, ketahuilah bahwa Yesus akan hadir di sana dengan kasihNya yang tak terbatas untuk memulihkan luka hati anda. Anda masih dapat tetap berdoa dan memberkati orang yang telah melukai anda.

Kasih Melukai, Tetapi Kasih Juga Memulihkan

Seorang teman saya pernah mempertimbangkan untuk bergabung dengan tim pelayanan kami dan berkata kepada saya: “Saya harus tahu bahwa engkau takkan melukai saya.”

Tanggapan saya adalah: “Jika engkau berjalan dekat denganku, saya dapat menjamin bahwa saya akan melukaimu – tidak dengan sengaja, tapi karena saya masih belajar bagaimana untuk mengasihi.”

Jika kita mengasihi, maka kita akan terluka. Tetapi jika kita dilukai, kita harus lebih mengasihi lagi. Pernahkah anda mendengar janji pernikahan yang berjanji untuk tidak menyakiti satu dengan yang lainnya? Adalah suatu hal yang pasti jika anda menikah dan menjalani hidup setiap hari dengan seseorang, dan di beberapa titik salah satu dari anda terjatuh dari kasih yang sempurna dan saling menyakiti. Faktanya, hal ini lebih sering terjadi di awal dibanding di kemudian hari!

Suami saya sedang menyiapkan dua pernikahan tahun ini: satu untuk keponakan perempuan kami di musim panas ini dan satu bagi puteri kami di musim gugur. Saya melihat janji pernikahan yang berbeda dan saya sungguh menyukai satu janji pernikahan yang memasukkan perkataan ini:

Aku berjanji untuk mencintaimu di dalam kekuatanmu dan kelemahanmu, untuk berbagi saat suka dan saat duka denganmu, untuk mencintaimu di dalam keberhasilanmu dan kegagalanmu, untuk merayakan hidup bersamamu selama-lamanya.

Akankah kita mengasihi satu dengan yang lainnya di dalam kekuatan dan kelemahan kita, di saat suka dan duka kita, di dalam keberhasilan dan kegagalan kita, dan merayakan kepenuhan hidup bersama-sama? 1Kor. 13 adalah peta perjalanan kita menuju kasih yang murni, namun sebelum memberitahu kita “apakah kasih itu,” pertama-tama dikatakan:

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Kor. 13:1-3).

Percayalah, saya menulis artikel ini bagi diri saya sama halnya bagi siapapun yang membacanya! Jauh lebih mudah bagi saya untuk bereaksi di dalam luka hati saya dibanding bereaksi di dalam kasih saat seseorang melukai saya secara tidak adil. Saya selalu ingin menjadi seseorang yang menyaring situasi hidup pertama-tama melalui “alasan” dan selanjutnya emosi, tetapi bagi saya hal ini membutuhkan disiplin yang kuat. Emosi adalah saringan pertama saya! Bahkan jika gagal di awal dan bereaksi di dalam luka hati kita, kita harus kembali dan meresponi dengan kasih.

Kasih Mengubahkan Kita

Suami saya dan saya sedang menyiapkan rumah yang terbuka bagi para remaja yang bermasalah. Kapan pun kami melayani kaum remaja, Allah selalu memberitahu kami hal yang sama, Kasihi dengan layak (Love well)!” Hal ini telah menjadi tema hidup dan pelayanan kami. Saat kami menjadi direktur sebuah rumah doa selama beberapa tahun, kami akan menghadap Tuhan di setiap awal tahun dan meminta hikmat dan strategi dariNya bagi tahun yang akan datang. Kami mengharapkan beberapa pewahyuan atau pengajaran yang dahsyat…tetapi setiap tahun kami hanya mendengar 2 kata yang sederhana, “Love well!”

Kata sederhana? Kata-kata ini adalah kata-kata yang tersukar, strategi yang paling sulit yang pernah diberikan bagi kami. Ini adalah tantangan terbesar bagi manusia sejak awal. Allah tahu bahwa inilah yang kita butuhkan untuk dipelajarai lebih dari apapun. Tujuannya adalah kasihbukan berkembangnya suatu pelayanan atau mampu mencapai tim doa selama 24-jamsatu hal yang ada di dalam hati Tuhan adalah kasih.

Mereka adalah remaja yang sama yang telah lama kami layani. Mereka yang kami bawa ke dalam rumah kami bukanlah remaja dengan latar belakang gereja dan dari keluarga yang mengasihi. Mereka adalah anak-anak yang telah melihat hal-hal yang akan membuat anda sedih; anak-anak yang lebih terbiasa dengan kegelapan dibanding terang; anak-anak yang tahu bagaimana untuk membenci dan tidak mempercayai kasih. Tetapi strategi Allah adalah, “Love well!”

Ia tidak menyuruh kami untuk pertama-tama memberi mereka peraturan yang ketat, memaksa mereka mendengarkan musik Kristiani, berhenti mengumpat…Ia menyuruh kami untuk mengasihi mereka. Yang luar biasa adalah bahwa hal ini manjur. Ketika seseorang mengalami kasih yang memelihara, mereka mulai berubah dan menginginkan kasih dan terang yang lebih lagi. Perilaku mereka berubah karena kasih menyingkirkan kegelapan. Yesus tidak menghindari untuk bersama mereka yang ada di kegelapan; Ia membawa kasih ke dalam kegelapan yang menciptakan terang. Kita dapat membenci kegelapan dan mengasihi mereka yang tersandung karenanya. Ingatlah, sejumput kegelapan akan menghilangkan terang yang muncul, tetapi sejumlah kecil cahaya di tengah kegelapan masih tetap memberi penerangan. Dibanding menghabiskan waktu melawan kegelapan, cukup bawalah terang ke dalam kegelapan.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” – Mat. 5:43-48

Mudah untuk mengasihi mereka yang mengasihi anda, tetapi mengasihi mereka yang menganiaya anda atau melukai anda jauh lebih sulit. Baik itu berada di balik tembok gereja, di dalam keluarga atau sekedar relasi, bersama pasangan atau rekan kerja – kasih akan selalu menjadi standar Allah. Beberapa orang akan menanggapi kasih anda dan yang lain akan menolak kasih anda, tetapi jika anda terus berada di dalam kasih, Alkitab berkata bahwa, “kasih tak pernah gagal.”

Marilah kita mengasihi sebagaimana Allah mengasihi. Marilah kita saling mendorong satu dengan yang lain untuk saling mengasihi.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s