Maha


Artikel ini sebenarnya sudah lama hadir di harian Kompas Minggu, May 16 2010. Entah kenapa potongan artikel ini selalu tersimpan dengan rapinya dalam notes saya. Mungkin karena artikel ini mengingatkan masa-masa jahiliyah saya saat menjadi mahasiswa dahulu dan masa -masa dimana saat ini saya justru menjadi dosen bagi para mahasiswa saya yang terkasih.

Maha (siswa)
Saya rindu kepada masa menjadi mahasiswa, masa dimana saya sok-nya setengah mati. Bangga merasa sudah dewasa, menganggap mengerti segalanya. “Ha-ha-ha… kamu suka gitu deh… suka lupa kalau sampai sekarang masih menganggap mengerti segalanya.” Suara hati itu memang kemana-mana, maunya ikut saja.
Rasa rindu itu makin terasa saat melangkah masuk ruang perpustakaan yang berbeda dengan ruang yang pernah saya kunjungi nyaris tiga puluh tahun lalu.
Dulu tak ada ruang berpendingin, tak ada lounge mewah di dalamnya. Melihat rak-rak penuh dengan buku, tempat duduk dengan mejanya untuk belajar dan membuat contekan, serta jadi tempat ngeceng membuat rasa kangen itu makin menjadi.
Siang itu saya datang memenuhi undangan acara talk show. Di hadapan saya ada sekitar lima puluhan mahasiswa yang muda, yang di antaranya sempat membuat kepala cenut-cenut. Tetapi, setelah kembali ke dunia yang sesungguhnya, saya mulai berpikir mengapa mereka disebut mahasiswa.
Maha itu artinya ‘besar sekali, paling, paling segalanya’. Jadi, mahasiswa itu artinya siswa yang paling? Bisa paling kurang ajar, bisa paling santun? Apakah dengan predikat yang maha itu, mereka berhak mengenakan pakaian seperti baru bangun tidur, seperti yang saya perhatikan pada sore itu?
Saya tak tahu apakah maha dulu sama maha sekarang punya arti berbeda, dan ditanggapi dengan berbeda pula. Apakah maha itu sebuah predikat yang juga mampu membuat seorang dosen berkeluh kepada saya pada sore itu.
“Mahasiswa sekarang senangnya bikin sakit kepala. Kalau lagi kuliah, main BB. Nanti kalau tidak lulus, datang kepada saya dan ngomong gini. “Pak, mbok tolong saya. Kalau saya nggak lulus, Bapak saya marah karena Bapak saya sudah tua dan uang yang dipakai sudah pas-pasan untuk menyekolahkan saya.” Di lain waktu, ada yang mengatakan begini. “Pak, saya kan kerja juga selain kuliah. Mbok mohon pengertiannya.”
[Pengalaman saya pribadi, ada mahasiswa yang tiga kali gagal mata kuliah yang saya ajar dengan dosen sebelumnya yang berbeda dan hendak meminta saya mengubah nilai akhir agar bisa mengerjakan tugas akhir. Ada mahasiswa lain yang tiga kali juga ikut mata kuliah saya yang berbeda ngotot untuk diijinkan ikut UAS. “Bu, tolong, saya kan cuma satu kali alpa. Tugas saya cuma kosong satu.” Tapi di saat yang sama, mahasiswa tersebut seringkali saya lihat berkeliaran nggak jelas dan mengirimkan sms bernada kasar dan tak sopan kepada saya. Ada juga yang ngotot setengah mati untuk diubahkan nilai akhirnya dengan beranggapan saya salah menaruh nilai akhirnya. Setelah saya periksa ulang, ternyata¬† nilai yang tertulis benar adanya. Karena keteguhan saya, saya harus merelakan email saya dipenuhi dengan email mahasiswa tersebut, demikian juga sms dan telepon yang tak ada habisnya dari pagi-malam, dan lain-lain.]

Maha (dosen)
Karena maha-kah mereka bisa melakukan itu? Apakah itu yang disebut perilaku yang maha? Tentu saya tak mau dihajar sejuta mahasiswa kala mereka selesai membaca tulisan ini karena tak semua maha menjadi begitu. Tetapi, gambaran dan keluhan dosen pada sore itu membuat saya berkaca sepert biasa. Soal membuat orang lain harus bertanggung jawab atas kesalahan yang saya buat.
[Kali ini dari pengalaman saya kembali, ada mahasiswa-mahasiswa saya yang meski saya tak lagi mengajar di universitas itu, masih ingat mengirimkan sms selamat Natal dan just to say hello. Ada juga kelas-kelas yang mau bersusah payah memberi surprise dan kue ultah saat saya berulang tahun di kelas mereka. Ada juga yang menyanyi lagu “Kemesraan” saat saya menyatakan tak mengajar mereka lagi untuk semester ini, dan mereka sukses membuat lidah saya kelu dan salah tingkah karenanya! ^o^ Ada juga yang bisa dengan mudah bercakap-cakap dan bercanda gurau dengan saya baik di dalam kelas, di luar kelas, sms, message via email maupun chat di Facebook. They are my reason why I always have more ebullience every time I come to their class! I love my students so much!]

Mengapa saya begitu egoisnya menyeret orang untuk turut bertanggung jawab atas sesuatu yang tak mereka lakukan? Dan mengapa kemudian saya naik pitam karena mereka tak mau saya seret? Mahasiswa mau kerja sambil kuliah, atau mau tidak lulus dengan mengedepankan alasan kesulitan keuangan [ada urusan keluarga, dll], itu juga bukan urusan dosen. Itu keputusan si Maha, yang mau kerja sambil kuliah, dan yang mau tidak bertanggung jawab untuk kuliah dengan baik.
Kalau tidak mampu, jangan menyuruh manusia lain bertanggung jawab atas ketidakmampuan itu. Mungkin sebaiknya sedikit berpikir tenang sebelum menghadap dosen. Tanyakan, kalau bisa beli BB, kok berkeluh kesuh uang kuliahnya pas-pasan? [Kalau terpaksa ada kuliah pengganti, mengapa harus dosen yang setengah mati mencari jadwal dan si Maha tidak menyetujui jadwal tersebut hanya dengan alasan hari itu tidak ada kuliah atau alasan bahwa kuliahnya kebanyakan? Kalau mendapat tugas, mengeluh karena sang dosen selalu memberi tugas yang bertumpuk dan /atau ditambah tugas-tugas dari dosen yang lain]

Kalau dosen tak membantu, si Maha mulai mengomel. Dosen sialan-lah, dosen gitu-lah, gini-lah. Nanti kalau dibantu, si Maha bisa jadi ngegosip, kalau dosen yang itu dan yang inu, bisa dirayu dengan mudah, hanya dengan menyodorkan alasan kelelahan batin serta fisik.
Dan tak tanggung-tanggung, sekarang curhat kejelekan dosen dibeber habis di Facebook, di Twitter. Itu bukan saya yang bicara, tetapi salah satu manusia senior di gedung pendidikan itu. Menjadi mahasiswa berarti diharapkan menjadi lebih dewasa ketimbang masa menjadi siswa SMA biasa. Tetapi, pertanyaannya kemudian, dewasa yang seperti apa?
Taksi yang saya tumpangi belum juga tiba di tempat tujuan karena sore itu Jakarta seperti biasa senangnya bercengkerama dengan kemacetan. Dan di tengah kemacetan itu ada pertanyaan. Begini. Maha-kah mereka kalau sampai membuat dosen diletakkan pada posisi kefefet? Maha-kah mereka kalau di halaman pendidikan itu ada yang jualan narkoba, menghamili sesalanya, menyontek, bahkan mungkin ada yang menjadi pelacur?
Pertanyaan lain muncul. Mengapa dosen tak disebut mahadosen? Coba direnungkan apakah Anda pernah mendengar tanya jawab seperti ini.
Pertanyaan: “Pak, kerja di mana?”
Jawaban: “Di Universitas A.”
Pertanyaan lagi, “Kerja sebagai apa, Pak?”
Jawaban, “Mengajar. Jadi dosen, Dik.”
Pernahkah Anda mendengar jawabannya begini: “Jadi Mahadosen, Dik.”
Bagaimana dengan tanya jawab yang satu ini.
Pertanyaan: “Dik, mahasiswa ya?”
Jawaban, “Ya, mas.” atau “Bukan, mas.”
Saya cuma mikir, ini yang patut bergelar maha itu yang mana ya?

Artikel ini berakhir di sini. Tetapi saya tak berhenti merenungkannya hingga di sini. Mungkin memang ada tipe dosen yang takkan menyenangkan satu, sebagian, atau bahkan seluruh mahasiswa. Hei, kami pun tak bisa memilih mahasiswa yang menyenangkan kami. Sama saja kan? Dan kita harus sama-sama saling menyesuaikan diri, bukan hanya dari salah satu pihak saja.
Tetapi, ada juga tipe dosen yang mau berela-rela berpikir kreatif untuk mencari cara menyampaikan materi dan memberi tugas dengan efektif dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Inilah yang senantiasa saya coba latih dalam diri profesionalisme saya sebagai seorang dosen. Saya harus memberi yang terbaik bagi mereka. Karena mereka akan menjadi cerminan berdasarkan siapa saya bagi mereka dan berdasarkan apa yang saya ajarkan di kelas mereka. Ya, saya masih harus banyak belajar. Ya, saya keukeuh ngga bakal mengubah keputusan saya untuk hal-hal yang telah menjadi keputusan bersama. Dan ya, saya harus belajar berbesar hati saat saya dikritik untuk kekurangan saya disana-sini dan harus bersedia mengubah diri. Tetapi, saya juga bukannya tak berperasaan. Saya pun ingin semua mahasiswa saya lulus semua mata kuliah saya. Tetapi, saya ingin mereka lulus karena mereka memang layak mendapatkannya, bukan karena nilai yang dikatrol, atau sekedar tugas dan ujian pengganti. Melihat mereka menjadi orang-orang yang memenuhi destiny yang Tuhan taruh atas hidup dan masa depan mereka, itulah doa yang setiap pagi saya panjatkan di saat teduh saya. Tuhan pasti mendengar doa saya dan akan menjawabnya kelak. Karena Ia sudah menaruh saya di tempat yang menurutNya adalah tempat yang paling terbaik bagi saya untuk bertumbuh dan melayaniNya di dunia ini, di dunia pendidikan. Tuhan selalu tahu bagaimana memberkati saya dan tahu bagaimana agar saya menjadi berkat bagi orang banyak. Dan saya pun selalu puas di dalam seluruh kehendak dan rencanaNya, bagi saya dan kiranya bagi semua mahasiswa saya yang terkasih.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching @ Campus. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s