Will Ford: Mempersiapkan Zion Bagi Suatu Pernikahan (Oct 7, 2010)


Yes.  62:1-7:  Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri. Engkau akan menjadi mahkota keagungan di tangan TUHAN dan serban kerajaan di tangan Allahmu.

Engkau tidak akan disebut lagi “Yang Diabaikan,” dan negerimu tidak akan disebut lagi “Yang Ditinggalkan”; tetapi engkau akan dinamai “Yang berkenan kepadaKu,” dan negerimu, “Yang Bersuami”; sebab TUHAN telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu. Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi.”

Ia Menerima Suatu Urapan Ester, Perkenanan yang Luar Biasa dan Allah Membujuknya Masuk Ke Dalam Keintiman

Pada tanggal 22 Nov 2002, saya meninggalkan bandara DFW dalam perjalanan pertama saya menuju International House of Prayer (IHOP) di Kansas City, Missouri. Sedikit yang saya sadari bahwa Allah menyiapkan banyak hal bagi saya di dalam pesawat. Di sebelah saya, seorang gadis muda duduk di sebelah saya. Kami saling beramah-tamah, tak ada yang luar biasa – pada awalnya – saat tiba-tiba atmosfir di sekitar kami berubah. Roh nubuatan turun atas saya, atas kami, atas perjalanan pesawat dengan suatu cara yang sangat tidak biasa.

Saya melihatnya dan berkata, “Anda berasal dari Southern California, betul?” Gadis Afrika-Amerika ini menjawab, “Ya.” Lalu saya berkata, “Bukan LA, namun suatu tempat yang dekat dengan LA,” dimana ia menjawab, “Ya, saya berasal dari from San Diego, tapi saat ini saya tinggal di Long Beach.” Selanjutnya saya berkata, “Jadi, anda menuju Universitas Long Beach State, betul?” dan katanya, “Ya.” “Dan anda mahasiswa tingkat tingkat kedua, betul?” dan ia menjawab, “Uh, yeah.”

Saya bertanya, “Jurusan anda psikologi, bukan?” Tampak mulai sedikit merasa aneh, ia berkata, “Ya, tapi dari mana anda tahu?” Tanya saya, “Apakah anda memiliki teman yang bernama Tiffany?” Ia berkata, “Ok, saya memiliki dua orang teman bernama Tiffany, tapi ada apa ini?” saya berkata padanya, “Saya pun tidak tahu, biasanya saya tidak seperti ini, kecuali saya memiliki musik sebagai pengiring, dan saya pun tidak terbiasa melakukannya di pesawat ini. Yang saya tahu hanyalah bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi anda, dan Yesus memiliki suatu rencana yang luar biasa bagi hidup anda.”

Saat ia menyeka air matanya, saya mulai bernubuat bahwa urapan Ester turun atas hidupnya, bahwa perkenanan yang luar biasa turun atasnya di tempat kuliahnya, dan bagaimana Allah membujuknya untuk masuk ke suatu tempat kemurnian dan keintiman bersamaNya. Saya memiliki buku Alice Smith berjudul “Beyond the Veil,” dan buku ini saya berikan padanya, sebagai persiapan untuk menjalani suatu hidup di balik selubung dunia ini dan di dalam keintiman bersama Allah.

Saya Bertemu “Zion” Di Atas Pesawat

Saya merasa Roh Kudus terangkat dari atas saya, dan saya mendengar Allah berkata, “Tanyakan namanya, tapi pertama-tama, katakan padanya ada sesuatu yang berharga perihal namanya.” Saya berpikir, “Ok Tuhan, sejauh ini semuanya berjalan baik, tapi, mengapa engkau tidak mengatakan saja namanya padaku?” Ia menjawab, “Tidak, tanyakan padanya, tapi katakan padanya ada sesuatu yang berharga perihal namanya.” Saya berkata, “Allah berkata kepada saya bahwa ada sesuatu yang berharga perihal nama anda. Siapakah nama anda?” dan ia menjawab, “Nama saya Zion.” Saya berseru, “Zion!” Saya sungguh terkejut!

Saya membuka Yes. 62 dan berkata kepadanya, ” Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh.” Saya terus membaca dan tiba di ayat, “… negerimu, “Yang Bersuami.” Dan Zion berkata, “Ini gila, karena sebenarnya saya pergi dari California menuju Kansas City untuk menghadiri pernikahan sepupu saya.”

Tercengang oleh kesamaan yang ada, saya bersandar di tempat duduk saya dan berkata, “Ok, Roh Kudus berkata bahwa ada sesuatu yang berharga perihal nama terakhir anda. Apa nama terakhir anda?” Dan saya mendengarnya menjawab, “Ready (Bersiap).” Saya berkata, “Maaf, apakah anda berkata, ‘Ready’ atau ‘Redding,’ seperti Otis Redding?” Ia mengeja,” R-e-d-i-e,” dan berkata pada saya bahwa nama itu diucapkan seperti “Ready (Bersiap).”

Saya tidak tahu apakah saya duduk di samping seorang malaikat ataukah tidak. Saya memintanya menyebut dan mengeja namanya kurang lebih 4x! Saya sendiri sudah cukup terpesona dengan perjalanan pesawat itu sendiri dan terkagum atas hadirat Alla. Zion Redie telah berjalan bersama Allah selama ± setahun, dan di titik ini, belum pernah menerima perkataan profetik dari siapapun sebelumnya. Saat sahabat saya John Hamill menjemput saya menuju IHOP Kansas City, saya tak dapat melupakan perjumpaan dengan gadis muda ini yang bernama Zion Redie, yang terbang dari California menuju Kansas City untuk menghadiri suatu pernikahan.

“Aku Menikahi Kegerakan yang Berbeda Bersama-sama…dan Kesatuan Ini Akan Menghancurkan Kuasa Budaya Kematian Di Amerika”

Saat tiba di IHOP, saya membagi kisah ini bersama Mike Bickle dan John Hamill, dan akhirnya Dutch Sheets dan Lou Engle. Setelah berdoa dan merenungkan, Tuhan mulai menunjukkan pada saya bahwa peristiwa itu bukan sekedar perjalanan pesawat yang mengasyikkan. Ia memakai peristiwa ini sebagai tanda atas apa yang sedang Ia lakukan. Mengingat bagaimana Allah menyuruh saya untuk menubuatkan urapan Ester yang turun atas hidup Zion, jurusan psikologinya, dan bahwa ia melakukan perjalanan dari from California untuk menghadiri suatu pernikahan di Kansas City, setelah merenung dan berdoa, saya merasa Allah berkata:

“Aku menunangi diriKu sendiri bagi suatu generasi Ester tanpa kasih Bapa. Dan seperti jurusan psikologi Zion, yang merupakan bidang studi jiwa, Akupun berfokus pada jiwa-jiwa, maka akan ada suatu peperangan bagi hati Amerika; bahwa Aku menyiapkan Zion Ready untuk suatu pernikahan, dan bahwa Aku menikahi banyak ras yang berbeda-beda, bahwa Aku menikahi kegerakan yang berbeda bersama-sama, dan sinergi dari kesatuan ini akan menghancurkan kuasa budaya kematian di Amerika, yang terjadi di hari ini.”

Hari dimana saya bertemu Zion Redie, tanggal 22 Nov, adalah kuncinya, karena tanggal itu adalah tanggal dimana John Kennedy meninggal, dan banyak orang yakin bahwa kematiannya adalah pemicu bagi munculnya ketiadaan pengharapan yang menyebarkan budaya kematian.

Apa yang muncul sesudahnya luar biasa. Lou Engle, Dutch Sheets dan saya terbang ke Kansas City sebagai permintaan dari Mike Bickle dan staf IHOP pada 5 Des 2002. Kami membahas perjumpaan “Zion Ready” yang terjadi pada  22 Nov, dan Yes. 22:22 yang diterima oleh Shawn Bolz di hari yang sama. Hasil dari pertemuan ini adalah bahwa para pemimpin ini merasa bahwa Allah menginginkan mereka untuk menggabungkan pengurapan mereka dan jubah doa mereka bersama-sama: Dutch Sheets, mewakili otoritas Pemerintahan; Lou Engle, mewakili pengabdian kekudusan Nazirite; Mike Bickle, mewakili keintiman pengantin Gadis Sulam Kidung Agung dalam hal doa syafaat; dan Che Ahn, mewakili Kuasa Penginjilan.

Tahun itu, 31 Des 2002, di TheCall Kansas City, mereka membuat covenant bersama Allah dan setiap mereka bersama-sama mengusahakan terjadinya kebangkitan di Amerika. Beberapa waktu kemudian, Lou Engle, merasa bahwa TheCall School, yang berada di California, akan bergabung bersama doa 24-jam di IHOP Kansas City, dan akhirnya ia pindah bersama semua keluarganya dan TheCall School ke IHOP in Kansas City – dan mereka bersama-sama menggabungkan diri. Sinergi dari kesatuan ini telah mengalami peningkatan yang luar biasa. Banyak jiwa telah diselamatkan, banyak hidup telah diubahkan, pusat krisis kehamilan dan badan-badan adopsi telah didirikan, melawan aborsi, dan kegerakan doa telah didorong untuk masuk ke tengah-tengah peperangan budaya.

Menetapkan dan Mengakhiri Dekrit Kematian Atas Suatu Generasi

Di tahun 2002, saya mencoba menemukan Zion, atau mencari seseorang yang mengenalnya, tapi tanpa hasil. Walau demikian, saya terus mendoakannya, sebab ia mewakili, bagi saya, generasi berikutnya. Saya merasa bahwa dirinya sebagai seorang Afrika Amerika juga merupakan kunci, maka saya mendoakannya selama bertahun-tahun, mengetahui bahwa ia, bagi saya, secara pribadi, adalah tanda dan simbol hati Allah bagi Israel, Afrika Amerika dan, seperti Ester, menetapkan dan mengakhiri dekrit kematian atas suatu generasi.

Meski Zion bukanlah tanpa bapa (ia berasal dari suatu keluarga besar), kebanyakan generasinya mengalaminya. Karenanya, saya memakai Yes. 62 untuk berdoa bagi suatu generasi yang, seperti Ester, tanpa bapa (Est. 2:7). Seperti yang dikatakan oleh Yes. 62:6, saya tahu bahwa saya adalah seorang pengintai di tembok, yang dipanggil untuk berdoa dan mengingatkan Allah dan tidak membiarkanNya untuk beristirahat, berseru agar berkatNya dilepaskan bagi “Zion,” yang mewakili di dalam doa saya. Saya mempelajari statistika dan semua yang saya bisa di tahun-tahun selanjutnya, dan menjadi seorang mahasiswa jurusan budaya saat saya berdoa bagi generasi selanjutnya di Amerika. Dua buku saya, “History Makers” dan “Created for Influence,” dan DVD “The Truth Behind Abortion,” adalah riset yang dilahirkan dari buah doa syafaat ini.

Pada tahun 2004, saya menemukan artikel terkait Zion Redie, dan saya bersukacita atas apa yang telah Allah lakukan dalam hidupnya. Suatu perkenanan seperti Ester turun atasnya, ditambah kecantikannya ditampilkan dalam fashion shows dan modeling, Zion juga menjadi seorang pemimpin mahasiswa pemerintahan. Ia terlibat dalam aliansi Afrika Amerika dan kelompok studi Alkitab. Ia mendapat begitu banyak perkenanan di kuliah, dimana ia dikontrak oleh Long Beach State untuk menjadi Student Life Coordinator. Saya yakin Allah memakai posisinya sebagai Student Life Coordinator sebagai suatu tanda bahwa Ia membangkitkan para pelajar yang akan berjuang demi kehidupan seperti Ester.

Saya tidak menghubungi Zion hingga tahun 2007; tanpa ingin terlihat seperti orang aneh, saya hanya mendoakannya dari jauh, mengetahui bahwa bagi saya, ia mewakili generasi selanjutnya. Saat saya membagi peristiwa dimana Allah menyiapkan Zion bagi satu pernikahan di GOD TV pada bulan Mei 2007, seorang pendoa syafaat di Long Beach, California, Doug Davis, tertarik mendengarnya. Untuk mengecek validitas kesaksian saya, Doug, melalui kenalannya, menjumpai Zion, yang berkata padanya bahwa kami bertemu dalam suatu perjalanan pesawat, dan itu adalah pertama kalinya ia menerima perkataan profetik, yang berdampak besar bagi hidupnya.

Saya tidak menjadi sombong untuk berpikir bahwa hanya doa saya yang bekerja bagi kerja keras dan kesuksesannya. Zion memiliki orangtua yang luar biasa dan dukungan dari keluarga yang mengasihi. Allah mengajarkan saya pentingnya kuasa melepaskan atau menerima perkataan profetik, entah di atas sebuah pesawat, atau di dalam kebaktian gereja, atau dimana saja, dan dampak dari suatu ketaatan atas tugas doa yang kita terima dariNya.

Pentingnya Pernikahan Zion

Pada 4 Sept 2010 saya menuju Sacramento, California untuk bergabung dengan Lou Engle di dalam doa di TheCall Sacramento, and saya menghubungi Zion Redie kembali. Saya tahu bahwa ia telah bertunangan dan akan segera menikah. Zion memberitahu saya bahwa ia akan menikahi seorang hamba Tuhan Afrika Amerika yang luar biasa, seorang Pendeta Youth di suatu gereja yang dipenuhi roh. Pernikahannya akan diselenggarakan pada 25 Sept 2010. Ia berkata bahwa ia memenuhi panggilannya di dalam pelayanan bersama suaminya dan menjadi seorang pembuat standar bagi generasi selanjutnya, dan juga menjadi seorang mentor bagi wanita muda. Terdengar seperti Ester bagi saya, bukan?

Menariknya, pada 25 Sept, hari pernikahannya terjadi di saat Hari Raya Pondok Daun. Barangkali Zion tidak mengetahui hal ini, begitu juga saya, hingga saya bertemu dan berbincang dengan seorang pendeta Messianic yang saya temui. Hari Raya ini berlangsung selama 8 hari, dan dianggap sebagai Puncak Hari Raya. “Pondok Daun berbicara tentang hari diana Anak Allah akan berdiam di antara manusia, menghapus setiap air mata, dan membawa ‘jaman keemasan’ yang didambakan manusia…”

Zak. 14:16 berkata bahwa segala bangsa akan datang berziarah untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, dan untuk merayakan hari raya Pondok Daun ini. Hari raya ini memperingati tenda sementara yang dibuat oleh keluarga-keluarga Yahudi saat mereka keluar dari Mesir, dan bagaimana Allah menjadi tiang awan pada pagi hari, dan tiang api pada malam hari dan berdiam di antara umatNya, menyediakan perlindungan, keselamatan, ketenangan dan persediaan. Pondok atau tenda ini disebut Sukkoths, menyerupai kanopi pernikahan yang disebut Huppah, dimana Allah menikahkan umatNya di bawahnya dalam pernikahan Yahudi. Karenanya, hari raya Pondok Daun dipenuhi dengan sukacita seperti suatu pernikahan Yahudi, dan juga merayakan pernikahan dan keluarga. Kurang lebih seperti yang dikatakan dalam Yes 62:4-5:

“Sebab TUHAN telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu. Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai.”

Pendeta Messianic ini mengajarkan bahwa hari raya ini adalah pendahulu bagi perayaan pernikahan yang diyakan saat Mempelai Pria Surgawi kita kembali bagi Mempelai WanitaNya! Luar biasanya, Zion menikah di saat hari raya itu berlangsung. Wow!

Pernikahan Zion Melambangkan Suatu Pewahyuan Pengantin dan Paradigma yang Muncul Bagi Anak-Anak Muda Di Gereja

Angka 8 secara Alkitabiah melambangkan suatu awal baru, dan menarik bahwa 8 tahun telah berlalu sejak pertemuan kami di pesawat; dimana Allah telah mempersiapkan Zion bagi suatu pernikahan sejak saat itu, dan pernikahannya berlangsung selama perayaan 8 hari ini yang juga merupakan tanda bagi suatu awal baru. Bahkan, Yes. 62:2 berkata, “Dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru…” Pikirkan ini: Allah tidak hanya mempersiapkan Zion bagi suatu pernikahan, namun karena pernikahannya, Zion akan diberikan suatu nama baru (gambaran yang tepat dari Yes. 62:2), dan sebagai isteri seorang hamba Allah, ia melangkah menuju suatu panggilan baru untuk menyiapkan Mempelai Kristus bagi kembalinya Mempelai Pria kita!

Secara profetik, saya merasa bahwa pernikahan Zion mewakili suatu pewahyuan pengantin dan paradigma yang muncul atas anak-anak muda di Gereja. Juga, hal ini melambangkan bangsa Yahudi Messianic, Afrika Amerika dan Afrika secara global akan bersatu, saat suatu generasi Afrika yang baru menerima hati Allah bagi srael. Saya juga merasa ini sebagai tanda bahwa Allah akan membangkitkan lebih banyak lagi rumah-rumah doa di pusat-pusat kota untuk berdiam di antara umatNya dan gabungan Tubuh Kristus. Tak kalah pentingnya, hal ini menunjukkan bagaimana kekudusan dan pengabdian hidup kita kepada Allah adalah tanda bagi kedatanganNya. Seperti kata Dehaviland Brown, “Hidupku HARUSLAH menjadi tanda bagi datangnya Mempelai Pria. Jika kita terus mengejar untuk hidup kita tibanya hari dimana kita bertemu muka dan muka denganNya, maka kita akan terus mengejar untuk sepenuhnya menjalani hidup ini!”

Kita Tak Boleh Berhenti Berdoa Bagi Generasi Selanjutnya – Berdoalah Hingga Keselamatan Tiba dan “Menyala Seperti Suluh”

Seluruh peristiwa ini sungguh berarti bagi saya. Yes. 62:6-7 berkata: “Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemashyuran di bumi.”

Ingat, saya mendoakan Zion sebagai seorang pengintai, dengan mengetahui bahwa ia, bagi saya, mewakili generasi selanjutnya, dan anda tak tahu betapa menguatkan hal ini untuk melihat buah dari berjerih payah bersama Allah di dalam doa. Apakah Allah telah menugaskan anda untuk berdoa bagi anak laki atau anak perempuan seseorang, atau generasi selanjutnya? Jika saatnya untuk berdoa bagi generasi selanjutnya, kita tak boleh menyerah, terlepas dari apa yang statistik atau masyarakat katakan. Apa yang saya pelajari saat berdoa bagi “Zion” adalah bahwa, meski kita dipenuhi oleh statistik dan berita buruk, kita harus melihat melampaui itu semua, yaitu Allah yang hidup yang mendengar dan meresponi doa kita. Entah kita melihatnya ataukah tidak, sesuatu pasti terjadi di alam supranatural.

Sedangkan saya, saya takkan tinggal tenang. Saya akan terus mengingatkan Allah, demi banyak “Zion”, dari semua jebakan jaman ini, dan akan terus berseru kepadaNya bagi keselamatan mereka hingga keselamatan tiba bagi bagi generasi ini dan “…menyala seperti suluh” (Yes. 62:1).

Entah anda seorang guru, pekerja sosial, pelatih, pekerja bagi anak-anak muda, atau pendeta atau apapun, apakah anda menyerah atas tugas apapun yang ditugaskan kepada anda bagi generasi selanjutnya? Saya berdoa agar kesaksian Zion menguatkan anda dan menolong anda mengerti bahwa jerih payah anda tidaklah sia-sia! Dan bagi anda yang telah berhenti berdoa bagi generasi selanjutnya, segeralah pulih jika diperlukan, dan kembalilah ke tembok anda. Kami membutuhkan anda! Kita tak dapat berhenti hingga apa yang selama ini kita serukan menjadi suatu kemashyuran di bumi.

Inilah saatnya bagi kita, sebagai para sahabat dari Mempelai Pria, untuk berjuang agar jiwa-jiwa diselamatkan dan banyak hidup yang diubahkan dan menyiapkan suatu generasi untuk bertemu Kristus Yesus. Pada hari itu, Why. 19:7 berkata, “Marilah kita berukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantinNya telah siap sedia.”

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s