Francis Frangipane: Gaya Berperang (Sep 5, 2010)


Saat itu saya berusia 17 tahun, murid SMA, dan duduk terbungkuk di meja saya saat seorang murid yang hampir dua kali besarnya dari tubuh saya marah dan masuk ke kelas. Di tengah semburan amarahnya, ia menyerbu ke tempat dimana saya duduk, mencekik leher saya dan mulai memukul saya.

Rupanya seseorang telah menulis kata-kata hinaan tentangnya di dalam buku catatannya dan menulis nama saya. Jelas banyak hal telah terjadi dalam diri orang ini dibanding yang orang lain sadari. Apapun kekecewaan yang telah memuncak dalam hatinya, tujuan terdekatnya adalah melepaskan kemarahannya kepada penantang terakhir, yaitu saya.

Saya juga harus menyebutkan bahwa saat itu saya setinggi 5 kaki dengan berat 67,5 kg. Saya bukanlah orang yang menyukai konfrotnasi dan, sebenarnya, saya telah membangun beberapa cara cerdik untuk menghindari konflik sembari tetap tampil keren di antara teman-teman saya. Namun demikian, si Orang Besar ini sedang haus darah. Saya segera menyadari bahwa jika ingin serangan ini segera berakhir, saya harus mengerahkan segenap hati saya untuk menyerang balik.

Setelah sadar bahwa saya tak memiliki pilihan lain selain melawan, sesuatu yang luar biasa terjadi pada saya. Rasa takut saya bukannya bertambah, sebaliknya, menghilang. Energi yang keluar dari rasa takut dengan segera tercurah bagi pertahanan saya. Saat itu, tanpa disangka, saya mendapati dimensi lain dari jiwa saya:  gaya berperang.

Sejujurnya, saya bahkan tidak tahu bahwa saya memiliki gaya berperang, namun saat si Orang Besar menyentuh saya di “ronde kedua,” insting berkelahi saya berubah menjadi tindakan. Mudah baginya untuk melempar saya saat saya tidak melawan, tapi sekarang saya meloncat maju dengan suatu pukulan yang mendarat tepat di hidungnya. Ia jatuh selangkah. Saya memukulnya dua atau tiga kali, lalu melompat ke atasnya saat ia kehilangan keseimbangan, memukulnya jatuh ke lantai.

Saat itu, murid-murid menarik saya menjauh darinya. Darah membasahi hidungnya, dan teman-temannya menyebut saya pengganggu. Saat guru memasuki kelas, jelas terlihat bahwa saya yang menyerang dan si Orang Besarlah korbannya, ketakutan di balik penyerangan saya tanpa henti.

Saya hampir gagal lulus karena insiden ini, namun saya tidak peduli. Sesuatu di dalam saya telah berubah. Saya mendapati gaya berperang saya. Saya masih tidak mencari-cari perkelahian, namun saya juga tidak takut lagi terhadap orang lain.

Kepasifan Bukanlah Damai Sejahtera

Mengapa saya menceritakan kisah ini? Pertama, bukan karena saya menganggap penyerangan fisik sebagai jawaban bagi masalah kita. Kecuali kita berada di bidang militer dan penegakan hukum, penyerangan fisik bukanlah jawaban Allah bagi hal-hal yang menyusahkan kita. Saya mengkaitkan insiden ini untuk menekankan bahwa “gaya berperang” ada di dalam diri kita. Anda mungkin menghadapi musuh yang jauh lebih besar dari anda – mungkin dosa atau serangan iblis, atau barangkali anak-anak anda menjauh dari Allah, atau komunitas atau gereja anda mengalami penurunan rohani – namun akan tiba satu titik dimana hidup di bawah tekanan takkan lagi dapat anda terima! Itulah saat dimana anda berkata, “Cukup!”, lalu Allah mulai mengaktivasi gaya berperang di dalam diri anda.

Pemikiran ini bukanlah sekedar berbuat baik. Tetapi, dengan menyerahkan hati, pikiran dan tubuh kita kepada Allah, kita dapat menyerahkan aspek roh ini, dan mendapati anugerah Allah mengurapi kita untuk berperang di dalam peperangan iman.

Faktanya, kita kini berada dalam peperangan skala global. Kita melawan pengaruh tidak bermoral dan pemimpin yang jahat dalam budaya kita; dan pada tingkat internasional, kita menghadapi terorisme dan manipulasi. Siapa yang akan melindungi masa depan anak-anak kita? Anda tahu, semuanya bergantung pada kita untuk membela komunitas kita, memperkuat nilai-nilai moral dan membawa perubahan bagi dunia kita.

Sekali lagi, kita tidak berbicara tentang peperangan fisik atau kedagingan – Paulus berkata senjata peperangan kita bukanlah senjata duniawi, tapi kuasa Allah! (2 Kor. 10:4). Kita harus memegang “pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef. 6:17). Berperang demi kebenaran bukanlah tingkat perkembangan rohani lanjutan; tetapi tingkat dasar. Setiap orang harus belajar cara untuk berdoa, mengambil otoritas rohani, dan memperkatakan Firman Allah dengan iman. Kita tak dapat diintimidasi oleh ancaman musuh sat kita teguh melawan majunya kegelapan.

Anda tahu, terlalu banyak orang yang memilih diam karena damai sejahtera yang salah, yang adalah hasil dari sikap kompromi dan rasa takut. Allah ingin agar kita memiliki damai sejahtera yang sejati, yang muncul dari iman di dalam Kristus dan menang melawan iblis.

Hari-hari ini banyak orang menjadi letih dengan peristiwa-peristiwa di dunia. Sebagian dari keletihan ini ialah karena hati kita terbagi. Kita harus menyudahi keengganan kita dalam melawan musuh kita. Berhentilah khawatir untuk membuat iblis marah dan juga diri anda, tetapi jangan berbuat dosa! Ada “waktu untuk perang” (Pkh. 3:8) yang sah dan kini kita berada di dalamnya.

Semakin cepat kita berpindah ke gaya berperang, semakin cepat kita melangkah ke ketetapan moral yang dibutuhkan untuk mengalahkan tekanan pribadi dan menjaga kemenangan kita. Saat kita berubah, maka kita dapat mulai mempengaruhi dunia di sekitar kita. Maka tolaklah kepasifan dan rebutlah otoritas atas sifat mengasihani diri. Allah akan memberi anda anugerah untuk menang.

Amati pewahyuan Yesaya tentang Allah. Sang nabi menulis:

“TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya” (Yes. 42:13).

Allah adalah pejuang dan Ia menginginkan anda untuk menjadi seorang pejuang juga. Hilangkan keletihan dan kembalilah pada Firman Allah. Jika anda terpukul jatuh, bangkitlah. Inilah saat untuk mengaktivasi kembali gaya peperangan anda.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s