Victoria Boyson: Kemanakah Hidupmu Membawamu? (Jul 12, 2010)


Hati Stefanus

Selain Yesus, tak seorangpun di Alkitab menggambarkan hasrat seseorang dengan hati Kerajaan yang lebih sempurna dibanding Stefanus (Kis. 6:5-8:1). Tidak disebutkan berapa umur Stefanus, namun bagi saya, ia selamanya abadi dengan kemurnian, semangat dan hasratnya. Saat saya memikirkan hidup Stefanus, rasanya saya ingin menangis. Dialah yang saya bayangkan saat saya memimpikan Gereja Tuhan di hari-hari terakhir.

Stefanus adalah salah seorang yang terpilih sebagai seorang “tua-tua” pada Gereja mula-mula. Di luar dari tujuh orang yang terpilih, ia dikatakan menjadi orang yang paling diurapi dan paling rohani. Malah, Allah memakai Stefanus untuk mulai menyebarkan Alkitab secara besar-besaran, karena ketika ia meninggal, kemartirannya memulai penganiayaan yang hebat pada Gereja mula-mula, yang membuat banyak orang Kristen melarikan diri (Kis. 8:1-8).

Saat mereka tersebar ke berbagai daerah, mereka menguatkan iman mereka ke negara kemana mereka pergi, dan dimulailah penginjilan Kristiani. Namun bukan hanya kematian Stefanus yang membuatnya unik, tapi juga bagaimana ia meninggal. Stefanus adalah seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan melalui dirinya, Firman Allah berkembang pesat. Saat Stefanus berbicara, anda mengetahui bahwa Allah hadir, dan Allah pun menunjukkan banyak perkara-perkara ajaib melalui dirinya.

Meski banyak orang mengasihinya, ia pun memiliki musuh. Beberapa orang dari sinagoga mencari-cari kesalahannya dan berusaha berdebat dengannya. Tentu saja mereka tidak sebanding dengan hikmat ataupun urapannya. Maka, di belakangnya, mereka menghasut orang-orang untuk berbohong tentangnya, dengan mengatakan bahwa ia mengutuk Allah dan Musa. Para ahli-ahli agama masa itu mendengar rumor tentang Stefanus dan menyeretnya ke hadapan Mahkamah Agama. Namun, bahkan di hadapan Mahkamah, ia memancarkan kemuliaan hadirat Allah.

Ia menyampaikan salah satu khotbah paling memukau di Alkitab tentang sejarah bangsa mereka. Ia juga berbicara pentingnya bait Allah yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Ia mengajar bahwa bait Allah, yang tampaknya disukai kaum Farisi dibanding Allah itu sendiri, bukanlah tempat dimana Roh Allah berdiam, tetapi Ia berdiam di hati orang-orang yang mengasihiNya. Ia menghardik mereka karena menekankan pentingnya bangunan bait dan bukannya pribadi yang menjadi tujuan dibangunnya bait itu. Ia menyebut mereka pengkhianat dan pembunuh. Ia berkata, “Kamu telah mennerima hukum Allah yang disampaikan oleh malaikat-malaikat – hadiah yang terbungkus! – tetapi kamu tidak menurutinya!” (Kis. 7:53, Alkitab The Message).

Melalui pengajarannya, Stefanus mengeluarkan Allah dari tangan orang-orang Farisi dan menyerahkanNya ke tangan masyarakat umum. Ia berusaha membebaskan pikiran mereka dari tradisi-tradisi manusia dan dari tindakan haus kekuasaan, tindakan menganiaya orang-orang “kudus,” dan menjadikan Allah mudah diakses oleh mereka melalui Yesus Kristus.

Orang banyak itu tentu saja menjadi marah dan mulai mencemooh dan mengutuknya. Mereka menyeretnya ke tengah kota untuk membunuhnya. Namun Stefanus telah siap untuk mati bagi Allah, sehingga mereka terkejut saat ia berdoa, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ Lalu ia berlutut dan berdoa dengan keras, ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka'” (Kis. 7:59). Itulah kata-kata terakhir yang dipanjatkannya.

Stefanus amat berbahagia karena melakukan pekerjaan Allah di bumi ini. Hidupnya ditentukan oleh Kerajaan Allah, dan bukan oleh kerajaan dunia ini. Ia berbicara tanpa rasa takut dan tanpa penyesalan. Ia menolak menyerah saat menghadapi otoritas agamawi masa itu. Ia dipenuhi oleh kasih akan Allah dan KerajaanNya. Stefanus tak mau menolak Kristus demi apapun, termasuk hidupnya sendiri. Ia rela meninggalkan dunia ini demi kehidupan yang kekal.

Kini ia hidup dalam kekekalan, bersukacita atas setiap jiwa yang dibantunya menuju Kerajaan. Untuk kekekalan, ia menuai tuaian yang besar untuk setiap benuh yang dibajaknya bagi Kerajaan saat ia hidup di dunia. Ia hidup selamanya bersama Allah, memujiNya dan menghabiskan waktu bersamaNya. Sungguh cara hidup yang luar biasa!

Kekekalan yang Gemilang

Sayangnya beban kita bagi mereka yang terhilang telah merosot sejak Gereja mula-mula dan banyak hal menjadi jauh lebih penting bagi orang Kristen. Coba pikirkan para misionaris, guru, penginjil yang berharap untuk bisa menghabiskan satu hari lagi untuk membagi Yesus bagi dunia – satu hari lagi untuk melihat dukacita berubah menjadi sukacita saat seseorang mengenal Yesus.

Allah menjadikan kita untuk saling terhubung satu dengan yang lain. Dan baik kita menyukainya atau tidak, kita saling membutuhkan. Maka, di dalam kekekalan, saat kita merangkul hati saudara-saudari kita di bumi, itu seperti mendapati bagian dari hati kita yang terpulihkan. Itu seperti memiliki bagian milik pusaka yang diberikan kepada kita.

Setiap doa dan setiap tindakan kebaikan di bumi akan menuai tuaian berharga di Surga – tuaian jiwa. Tak ada istana atau takhta atau mahkota yang dapat mengukur harta berharga dari jiwa-jiwa yang memasuki kekekalan di dalam Allah.

Pikirkan beberapa nenek di Surga yang berdia agar cucunya yang gay diselamatkan di bumi. Satu-satunya harapannya ialah Kerajaan Allah di bumi – yaitu anda dan saya. Harapan Surga ada di tangan anda (Kol. 1:27). Saat anda menjangkau cucunya yang terhilang, anda menjadi jawaban doanya dan pengorbanan Anda membawa sukacita bagi seluruh penghuni. Anda membawa sukacita yang tak terkatakan bagi hati Allah. Sungguh tiada duanya!

Tujuan Kekekalan Kita

Tujuan jangka panjang andabisa saja menghabiskan seluruh hidup anda untuk menghasilkan uang. Dunia menyukai anda, segan akan anda, menghormati anda, dan bahkan memuja anda. Tapi, layakkah itu? Itu tak ada artinya bagi kekekalan, bahkan yang lebih buruk lagi – berdosa. Ya, Alkitab menyebutnya dengan kesia-siaan atas kesia-siaan (hidup) (Pkh. 12:8).

Jika pelayanan anda adalah sejarah terbesar dunia, maka hal itu hanya akan menjadi sama besar dengan keefektifannya bagi Kerajaan Allah. Jika anda jauh lebih pandai dibanding siapapun di dunia ini, itu tak ada gunanya bagi kekekalan; Allah tidak menilai kita berdasarkan ukuran otak kita, namun berdasarkan hati kita. Malah, kita harus memeriksa dengan baik kerajaan siapa yang banyak kita habiskan waktu – Kerajaan Allah ataukah kita. Musuh itu pendusta, namun Allah kita setia. Jika kita tetap mendekat padaNya, Ia akan selalu setia menjaga kita tetap di jalanNya.

Apa arti hidup ini sebenarnya? Stefanus tahu. Tujuan kekekalannya adalah membangun bagi masa depan, bukan bagi masa kini. Tujuannya adalah kasih – kasih bagi Anak Domba, Allah dan umatNya. Tujuannya membawanya kepada tuaian yang kekal. Kemanakah tujuan hidup anda membawa anda?

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s