Barbie Breathitt: Pencobaan Memberi Ruang Bagi “Kehidupan yang Penuh Kasih” (Jul 2, 2010)


Pencobaan dan Ujian Memampukan Kita Untuk Bertumbuh Di Dalam Kasih dan Iman

Hidup adalah belajar bagaimana caranya mengasihi. Hidup penuh dengan petualangan, tragedi, kemenangan, dan tantangan yang memampukan kita untuk bertumbuh di dalam kasih dan menjadi serupa dengan Kristus. Pencobaan dan ujian dirancang untuk menolong mengembangkan karakter dan integritas kita, agar kita dapat melangkah menuju destiny Allah yang luar biasa yang telah menanti kita. Ujian menyelaraskan kita dengan rencana dan rancangan yang Allah tetapkan bagi kita (Yer. 29:11). Ujian bertujuan untuk promosi dan meningkatkan persahabatan dan berkat dengan Allah dalam hidup kita. Api ujian menempa kekudusan dan kemurnian di dalam kita agar terang Allah dapat bersinar melalui apapun yang kita lakukan dalam hidup.

Pencobaan memampukan kita untuk membangun otot-otot rohani kita agar kita dapat menang dalam perlombaan yang dihadapkan di depan kita dengan anugerah dan stamina roh yang kuat. Rencana Allah bagi kita adalah untuk berhasil, menjadi kepala, dan menjadi pemenang dan terang di dunia yang gelap ini. Setiap kesukaran menantang kita untuk menang melalui anugerah dan iman yang besar dalam hati kita dan memasuki “perkara-perkara yang lebih besar lagi.” Pencobaan yang sukar hari ini menyiapkan kita untuk menjadi pemenang masa depan.

Tujuan Kerajaan Diaktivasi Oleh Iman

Sungguh melegakan mengetahui bahwa Allah mengetahui setiap nama kita sebelum kita lahir dan bahwa tujuan dan rencana hidup kita disempurnakan di dalamNya bahkan sebelum kita terbentuk dalam rahim ibu kita. Ketika perkataan Allah terucap, maka ia akan menyelesaikan apa yang telah ditugaskan padanya. Jika kita mengijinkan Roh Kudus untuk menuliskan perkataan Allah dalam hati kita, maka kita akan menggenapi destiny kita.

Yes. 55:11–12 berkata, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai.” Firman Allah murni adanya; itu adalah perisai dan terang yang senantiasa menuntun kita di dalam panggilan kita. Tak ada satupun dan seorangpun yang dapat mencuri destiny anda kecuali anda yang menyerahkannya kepada mereka.

FirmanNya mampu memperbarui kita di dalam roh pikiran kita agar kita mampu memikirkan hal-hal yang lebih besar lagi dan berjalan di jalan-jalan yang lebih tinggi. Tujuan Kerajaan diaktivasi oleh iman. Iman kita memberi ijin bagi destiny kita yang belum terlihat untuk muncul dari alam roh dan mewujudkan penggenapannya.

Apakah Perkataan Allah yang Penuh Kasih yang Baru-baru Ini Anda Terima DariNya?

Orang-orang percaya hidup dan berhasil melalui setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah. Ams. 30:5 memberitahu kita bahwa “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya.” Ul. 8:3 lebih lanjut menyatakan, “Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”

Yesus tahu bahwa BapaNya puas denganNya. Kesenangan Allah tidak bergantung pada mujizat atau pekerjaan-pekerjaan besar yang dilakukanNya, melainkan hanya dengan menjadi diriNya sendiri, menikmati bersekutu bersama Allah dan terus tinggal di dalam hadirat Allah melalui doa senantiasa. Di saat ujian dan pencobaan, Yesus berdiri di atas perkataan BapaNya: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Apakah perkataan Allah yang penuh kasih yang baru-baru ini anda terima dariNya? Perkataan Allah murni adanya.

Perkataan Profetik Memberi Jalan Bagi Perubahan, Memampukan Kita Menjadi Penjala Manusia

Perkataan profetik yang telah diucapkan atas hidup kita dan mimpi-mimpi yang kita terima membentuk jalan setapak untuk kita lalui. Jalan-jalan yang curam tidak selalu mudah, karena mereka membawa kita naik menuju Allah dan panggilan tertinggi dalam hidup kita. Jalan-jalan yang sukar memampukan kita untuk membentuk jalan maju, selangkah demi selangkah, di dalam ketaatan terhadap perkenanan perkataan Allah yang telah ditetapkan.

Allah memperhatikan setiap perkataanNya agar dilakukan. Ketika Firman Allah turun atas kita, Ia akan mencobai kita untuk melihat apakah kita mampu menanggungnya. Jika kita memilih untuk menjalankan perkataanNya, Ia akan menyesuaikan kita sesuai dengan gambarNya. Perkataan Allah itu hidup, berkuasa dan kreatif. Perkataan Allah akan membentuk kita menjadi bejana kehormatan bagiNya. Perkataan Allah itu sempurna. Perkataan Allah mengubah kita dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan yang lebih tinggi dan lebih besar lagi.

Allah adalah sumber kehidupan kita selamanya. Perkataan Allah akan mencobai dan menguji hati kita hingga hati kita menjadi bersih. Perkataan profetik akan meruntuhkan segala sesuatu yang menempatkan dirinya lebih tinggi dari pengenalan akan Allah. Hati yang baru ini akan merasakan kesenangan dan perkenanan Allah diam di dalamnya. Perkataan profetik memberi jalan bagi perubahan, yang memampukan kita untuk menjadi penjala jiwa manusia.

Kasih Menutupi Segala Dosa

Saat Petrus menjauh dari Yesus, 3x ia menolak untuk mengakuiNya. Saat Yesus datang untuk memulihkan Petrus kembali ke kasih mula-mula, dan ke posisinya sebagai sahabat dan pemenang jiwa, Ia 3x bertanya, “Petrus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?”

Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” – Yoh. 21:15–17

Kasih menutupi segala dosa. Yesus tahu bahwa jika Petrus tidak dipulihkan kepada kasih mula-mulanya, di dalam keputusasaannya, ia akan kembali dan memimpin para murid lainnya kembali pada panggilan sekuler mereka sebelumnya. Yesus telah memanggil setiap murid, baik masa lalu dan masa kininya, untuk menjadi kekasih Allah dan penjala jiwa manusia. Saat Yesus mati di kayu salib, dan sebelum kebangkitanNya, para murid meninggalkan jalan, talenta, kemampuan dan karunia mereka – mereka bekerja keras sepanjang malam namun tidak mendapatkan apapun. Hal inipun berlaku bagi kita saat ini. Jika kita mengikuti kebiasaan dan program manusia dan lupa mencari jalan-jalan Allah, kita akan tetap mandul dan tidak berbuah.

Tuaian Jiwa Terbesar Akan Terjadi Melalui Persahabatan dan Ketaatan Kepada Allah

Jumlah 153 ikan yang berhasil ditangkap murid-murid Yesus melambangkan bangsa-bangsa yang menanti bangkitnya “Anak-anak Allah” dan melemparkan jaring mereka ke sisi kanan untuk menarik tuaian jiwa yang terbesar. 153 ikan juga melambangkan kebangkitan, tuaian, pertemuan, pelipatgandaan dan penginjilan Kerajaan. Tuaian akan datang bukan karena kuat dan gagah kita, tetapi karena arahan Roh Allah.

Seluruh bumi mengerang dan bumi bergoncang menanti bangkitnya anak-anak Allah ke tempat pemulihan mereka. Saat anak-anak Allah bangkit, berjalan bersama Allah di dalam persahabatan dan ketaatan kepada Roh Allah, tuaian jiwa manusia terbesar akan terjadi. Rom. 8:19–23 berkata, “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.”

Allah menyelamatkan, menyembuhkan dan menyempurnakan kita. Ia melihat produk akhir, yaitu destiny kita di masa depan. Saat kita mendengar dan menerima perkataanNya yang tertulis dan terucapkan dalam hati kita, mereka melepaskan kuasa yang kita butuhkan untuk menjadi apa adanya kita di masa depan. Doa, penyembahan, pujian dan perkataan memampukan kita untuk membawa masa depan ke masa kini. PerkataanNya pergi mendahului kita untuk menyiapkan jalan untuk membuka pintu ganda dan pintu gerbang agar hadiratNya dapat mempercepat proses transformaso (Yes. 45:1-3).

Menerima Kasih Allah dan MemberiNya Kasih Kita Adalah PermintaanNya Kepada Kita

Saat kita berada dalam hadirat Allah, terangNya mengubah ktia senantiasa. Belajar duduk di bawah kakiNya, menerima kasihNya dan memberiNya kasih kita ialah permintaanNya pada kita. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yg letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Inilah saatnya untuk MEMINTA sebanyak-banyaknya dan dengan benar agar penuhlah sukacita kita! (Yoh. 15:11 dan Yoh. 16:24). Mintalah, carilah dan ketuklah di saat-saat persekutuan dalam hadirat Allah dan permintaan anda akan diberikan kepada anda. Mat. 7:7 mengajak kita untuk terus meminta, mencari dan mengetuk hingga pintu dibukakan bagi kita.

Terkadang kita meminta kepada Bapa di Surga dengan cara yang salah atau demi kepentingan ktia sendiri (Yak. 4:3). Ketika kita belajar untuk meminta tanpa mengasihani diri atau mengeluh dan kita terus meminta dengan cara yang benar hingga kita mendapat jawaban dan sikap hati ktia juga benar, maka jawaban itu akan diberikan kepada kita.

Doa yang Benar Dari Yabes

Yabes adalah seseorang yang lebih dihormati daripada saudara-saudaranya. Ibunya menamainya Yabes karena ia dilahirkan dalam kesakitan. Yabes tidak ingin dikenal sebagai orang yang menyebabkan kesakitan, karena itu ia berseru kepada Allah. Yabes meminta untuk diberkati berlimpah-limpah dan hadirat Allah berdiam dalam hidupnya. Ia meminta tangan Allah untuk menyertainya. Allah mengabulkan permintaan Yabes agar daerah dan batasannya diperluas.

Jika daerah atau besarnya hadirat Allah meningkat dalam hidup kita, seperti dalam hidup Yabes, tingkat penderitaan yang kita alami, dan tingkat penderitaan yang kita sebabkan pada orang lain akan menurun. Yabes menyadari bahwa tangan dan hadirat Allah yang membawa takaran berkat, perkenanan dan kelimpahan dalam setiap area hidupnya. Ia lapar dan haus akan Allah lebih lagi. Doa Yabes menyatakan bahwa Allah mampu memberkatinya.

Menjadi Sahabat Dekat Allah

Alkitab memberitahu kita bahwa Allah mengenal Abraham. Allah menemui sahabatnya Abraham di kemahnya. Ia mengutus 3 malaikat untuk menyatakan dan membagi rencanaNya dengan Abraham. Ketika Abraham menatap mereka, ia berlari menyongsong mereka, bersujud dan berkata, “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih Tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.” Para malaikat menanyakan dimana Sara, isterinya berada, karena mereka membawa janji akan hadirnya seorang anak dari rahimnya.

Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?” Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.” … Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” … Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya. – Kej. 18:1–32

Allah mengunjungi Abraham di tendanya, berjalan bersamanya, dan berbicara dengannya di saat-saat keintiman setiap hari. Allah membagi rahasia dan rencanaNya pada Abraham dan Abraham membagi keinginan, harapan dan rencananya kepada Allah. Suatu hubungan yang intim menuntut adanya keterbukaan dan kepercayaan. Allah memenuhi keinginan hati Abraham untuk seorang anak, namun janji itu hanya digenapi hingga janji itu tampak mustahil.

Ingatlah bahwa Allah selalu hadir dan berkuasa, tiada yg mustahil bagiNya. Jika kita menyimpan firmanNya dalam hati kita dan mencari wajahNya, kita akan mampu untuk terus tinggal dalam hadiratNya. Jika hidup kita terpisah dari Allah, kita takkan mampu melakukan apa pun. Alkitab berkata: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:4–5). Berdiam dalam hadirat Allah akan memastikan bahwa setiap destiny yang Allah tabur dalam hati kita akan tergenapi.

Daud meminta Allah untuk menyelidiki setiap hal dalam hidupnya, bahkan hatinya, untuk mendapati jika ada area-area yang tidak menyenangkan Allah. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23–24).

Iman dan kepercayaan kita menyenangkan Allah. Rasa takut, keraguan, dan ketidakpercayaan menyedihkan hati Allah karena Ia tak dapat melihat dosa. Abraham adalah bapa iman. Iman Abraham kepada Allah membuatnya menerima janji Allah tepat pada waktunya. Iman Abraham memampukannya menjadi sahabat Allah. Kita pun akan menjadi sahabat Allah saat kita membangun kasih dan iman kita dengan mengalahkan pencobaan dan ujian hidup ini. Pencobaan mengosongkan diri kita, yaitu membuat ruang bagi iman dan kasih akan Allah diam di dalam kita.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s