JoAnn McFatter: Anda Dipanggil untuk Memilih Destiny Anda (May 26, 10)


Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa2.” – Yer. 1:4-5

Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. –Mzm. 139:16

Seperti Yeremia dan Daud yang telah dipanggil sebelum masuk ke rahim ibu mereka, begitu juga setiap kita yang dilahirkan. Namun demikian, berdasarkan kehendak bebas, Allah mengijinkan setiap orang memilih untuk hidup di dalam panggilan itu atau tidak. Ia berkata tentang diriNya:

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. –Mat. 22:14

Pilihan itu datang dari keputusan-keputusan yang kita ambil, entah saat kita mampu atau tidak untuk tetap berdiam di dalam kepenuhan kemuliaanNya. Ia takkan menaruh pada kita hal-hal yg tidak dapat kita tanggung, sebab hal itu dapat menghancurkan kita. Destiny memanggil setiap kita, dan ia melakukan kehendak bebas kita yang menentukan hasil dari panggilan itu. Saat hati kita terus-menerus merespon suara Pencipta kita, “Aku memilihmu! Di atas segala-galanya, Aku memilihmu!,” kita menuntun perjalanan kita menuju destiny kita.

Destiny Kita Bukanlah Produk Akhir, Melainkan Sebuah Perjalanan Menuju Akhir Itu

Ialah asal mula kita dan Ia jugalah destiny kita. Kita ada di dalamNya sebelum dunia diciptakan dan kita kembali diam di sampingNya, dan bahkan kita berdiam, saat kita turut mengambil bagian dalam kemuliaanNya dengan menerima kebaikan dari curahan DarahNya.

Perjalanan menuju destiny kita adalah seperti kita “berlari dalam pertandingan” yang memainkan hari-hari yg tertulis di dalam kitabNya bagi setiap kita. Perjalanan ini terjadi satu hari di setiap waktu, satu keputusan di suatu saat untuk memilihNya di atas segala-galanya. Di dalam menjalani hidup kita, mengarahkan mata kita kepadaNya dan, sekali kita, secara sadar membuat keputusan untuk “memilihNya,” kita mendapati diri kita berada di tengah-tengah destiny kita, yang hanya kita dapati di dalamNya.

Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. – Kis. 17:26-28

Dalam pola pikir barat, kita menetapkan destiny kita untuk menjadi sebuah tujuan melalui barang, pekerjaan atau gelar yg kita raih. Ini adalah bentuk yang ingin kita ciptakan bagi diri kita sendiri, posisi yg kita raih seperti penyanyi, pendeta, ataupun bankir. Saya tidak yakin hanya ini yang ada di pikiran Allah. Bagi kebanyakan kita, hal ini mungkin saja menjadi alasan bahwa destiny kita tampak mengelak dari kita saat tahun-tahun berlalu dari harapan kita menuju apa yg kita anggap sebagai destiny kita. Kita berusaha membentuk suatu bentuk dimana kita akan berfungsi. Pertama bentuk, dan fungsi akan muncul sebagai hasil dari alasan yang selama ini memikat budaya kita.

Destiny sejati kita tersembunyi di dalam fungsi “menghidupi” hari-hari yang dibentukNya bagi kita, bukan gelar ataupun deskripsi kerja. Bukan tentang menjadi seorang nabi, tapi lebih sebagai proses belajar bagaimana mendengar suaraNya dan bernubuat di dalam kasih Bapa. Di dalam fungsi sebagai nabi kita benar-benar mendapati destiny kita, yaitu untuk menjadi serupa denganNya. Hal ini berlaku bagi setiap pekerjaan dan/ gelar pelayanan yang anda jalani. Meski kita semua memiliki hari-hari yang berbeda yg tertulis bagi kita di dalam kitabNya, tetap semuanya adalah proses untuk menjadi serupa denganNya, menjadi satu denganNya.

Destiny kita bukanlah produk akhir melainkan “perjalanan” menuju akhir itu, hari-hari yang kita jalani seperti yg tertulis di dalam kitabNya. Hidup kita di dalamNya hari demi hari adalah destiny sejati kita untuk semakin menjadi sepertiNya; bentuk yang kita ambil saat menjadi, misalnya, seorang guru, penginjil, dll. Saya khawatir kita kehilangan sukacita perjalanan itu sebab kita menanti untuk meraih suatu posisi, nama atau apapun. Itulah hari-hari yang kita jalani hingga saat ini dengan semua kesalahan, kegagalan, dan bahkan kesuksesan yg membentuk destiny kita.

Destiny adalah Suatu Kata Kerja – Destiny adalah Seseorang

Saya percaya kita salah mengartikan destiny sebagai kata benda, ketika, di dalam Allah, ini sebenarnya lebih merupakan suatu kata kerja ketimbang kata benda. Tanpa memperhatikan pekerjaan, proses adalah hal yang sama. Fungsi panggilan kita dan proses yang yang membawa kita menuju kedewasaan adalah destiny sejati kita di dalam Allah.

Destiny adalah bagaimana kita membuat pilihan-pilihan di hari-hari kekecewaan, sakit hati dan dikhiani yang membawa kita menuju kasih dan kesatuan bersama Allah. Kita dapat memilih untuk mengasihani diri kita, atau mengeluh atas keadaan kita dan lamanya kita berada di sana, atau sesuatu yang tampak buruk, yang sebenarnya menjauhkan kita dari arah yang salah. Pilihan kita yang lain adalah menatap mataNya dan berkata, “Aku memilihMu! Apapun yang terjadi dan tak peduli berapa lama aku menanggungnya, di atas segala-galanya, aku memilihMu!”

Destiny juga terkait bagaimana kita menangani promosi, perkenanan, dan kemakmuran. Intinya bukanlah bagaimana kita menerima hal-hal tsb, tetapi bagaimana kita memerintah dan berkuasa pada posisi itu. Apakah kita mengambil keuntungan bagi diri kita atau kita memakainya untuk mencurahkannya bagi orang lain? Apakah kita memakai perkenanan kita untuk memperkuat dan mengangkat orang lain ke dalam panggilan mereka, bahkan di atas diri kita? di tengah semua keuntungan yang kita terima, masih terdapat sebuah seruan otomatis dari dalam diri kita, “Tuhan, aku memilihMu! Engkaulah bagianku, Engkaulah destinyku!”? Kidung Agung berkata:

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina. – Kid. Agung 8:6-7

Dialah Destiny Kita!

Pertanyaan yang diajukan saat kita meninggalkan dunia ini lebih seperti, “Apakah kita menjadi sepertiNya?” “Apakah kita belajar untuk mengasihi?” “Apakah kita mati setiap hari agar bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku?” Destiny sejati kita ada di DALAMNYA, untuk menjadi sepertiNya, apapun panggilan kita. DIAlah Destiny kita!

…sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. – Ef. 1:10-11

Saat mendekati “kegenapan waktu” ini, ada orang-orang yang berkumpul menurut pengertian ini. Kitalah orang yang mengasihi seperti Ia mengasihi, dan selanjutnya menjadi kasih yang berjalan dan bersedia mengorbankan hidup kita bagi orang lain. Inilah destiny kita di jaman ini. Apapun bentuk hidup yang kita jalani, ialah untuk memiliki hidup yang tidak memikirkan diri sendiri saat kita menjadi satu di dalam keserupaan denganNya. Hal inilah yang akan menarik hadiratNya.

“Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.” – Zak. 2:5

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s