F. Frangipane: Kita Harus Berdoa dan Tidak Berputus Asa (Apr 19, 2010)


 ±2,000 tahun lalu suatu dekrit dikeluarkan di kursi penghakiman Allah Mahakuasa. Dekrit ini memberi proteksi “legal” bagi Gereja dalam melawan iblis. Tentu saja ketika Yesus mati bagi dosa-dosa kita, “penguasa dunia ini” dihukum (Yoh. 16:11). Dosa-dosa kita dipakukan ke Salib Kristus dan dibatalkan; pemerintah dan kuasa kegelapan dilucuti. Sebenarnya, karena Yesus, kita memiliki hak untuk dilindungi dari musuh kita, dan juga untuk menang atasnya (Kol. 2:13-15).

Apapun asal negara anda, pengorbanan Kristus telah tergenapi dan merupakan keputusan pengadilan Allah untuk melawan setan sehingga perlindungan ilahi ini cukup untuk melindungi setiap orang Kristen (Why. 3:10). Dikatakan bahwa, kita juga harus mengakui bahwa Gereja kini jarang berjalan di dalam kemenangan seperti ini sejak abad pertama. Mengapa? Paling tidak, sebagian jawabannya adalah: Untuk meraih perlindungan Kristus, Gereja harus merangkul doa syafaat Kristus. Kita semua harus menjadi rumah doa bagi orang banyak.

Sesungguhnya sejarah Gereja memulai kepemimpinannya dengan menjalankan Firman Allah dan doa (Kis. 2:42; 6:4). Setiap hari para pemimpin berkumpul bersama untuk berdoa dan melayani (Kis. 3:1). Namun di tengah visi yang jelas dan kesederhanaan tujuan ini, Gereja Kristus tidak pernah memiliki kuasa atau kapasitas yang jauh lebih besar untuk menjadikan murid-murid sejati.

Hari ini, kualifikasi kita bagi kepemimpinan Gereja hampir mencakup segalanya kecuali menjalankan Firman Allah dan dia. Para pemimpin diharapkan untuk menjadi organisir, konselor, dan individu dengan kepribadian pemenang yang pesonanya dapat menarik banyak orang.

Dalam Luk. 18, Yesus menantang tradisi modern kita. TanyaNya, “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (ay. 8). PertanyaanNya ialah peringatan bagi orang percaya yang membatasi kuasa Allah di akhir jaman. Ia memanggil kita untuk menolak kecenderungan pada tradisi kita; Ia bertanya kepada setiap kita, “Akankah Kudapati iman di dalammu?”

Sebelum kita menjawab, mari kita ingat bahwa Yesus mengkaitkan “iman” dengan “berdoa siang dan malam” (Luk. 18:7). Ia tidak bertanya, “Akankah Kudapati doktrin-doktrin yang benar di dalammu?” Pertanyaan Allah tidak terlalu memperhatikan isi kepala kita ketimbang dengan hati kita. Apa yang kita percayai itu penting, namun bagaimana kita mempercayainya ialah penting untuk meneguhkan pertolongan Allah yang kita butuhkan.

Malah, memperoleh pertolongan ilahi Allah ialah maksud dari perumpamaan Yesus dalam Luk. 18. TujuanNya adalah untuk menunjukkan bahwa “di setiap waktu” kita “harus selalu berdoa dan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1). Untuk menggambarkan kualitas iman yang Ia cari, Ia meneruskan nasihatnya melalui perumpamaan seorang janda yang meminta “perlindungan resmi” dari seorang hakim yang lalim (ay. 3). Meski awalnya sang hakim tidak bersedia, namun karena, janda ini “terus saja datang” (ay. 5), akhirnya ia mendapatkan apa yang secara resmi menjadi haknya.

Yesus menyimpulkan dengan bertanya, “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka” (Luk. 18:1-8).

Memahami Penundaan Allah

Hakim Surgawi kita takkan “berlama-lama menunda” atas umat pilihanNya, namun ya, Ia akan menunda. Pada faktanya, definisi “dengan segera” antara Allah dan kita tidaklah selalu sinonim. Allah menggabungkan penundaan-penundaan ke dalam rancangan keseluruhanNya: Penundaan mengerjakan ketekunan di dalam kita. Maka, daya tahan itu begitu penting bagi perkembangan karakter kita sehingga Allah bahkan bersedia menunda jawaban-jawaban yang penting untuk memudahkan proses transformasi kita.

Karenanya, kita sebaiknya tidak menerjemahkan penundaan-penundaan ilahi sebagai tanda-tanda keengganan ilahi. Penundaan-penundaan adalah perangkat untuk menyempurnakan iman kita. Kristus ingin mendapati kebulatan hati di dalam iman kita yang dapat bertahan, meski di tengah penundaan-penundaan dan kemunduran-kemunduran. Ia ingin menciptakan suatu kegigihan di dalam kita yang bertahan lama di dalam ujian waktu, yaitu suatu keputusan untuk terus bertambah kuat selama masa penundaan. Ketika Bapa mencari kualitas kegigihan ini di dalam iman kita, hal ini sungguh menyentuh hatiNya sehingga Ia mengaruniakan “perlindungan legal” bagi umatNya.

Keputusasaan Menghasilkan Perubahan

Penting bahwa Yesus menyamakan orang pilihanNya dengan janda yang diusik oleh musuhnya. Gambaran ini sebenarnya membebaskan, karena kita cenderung mengkonsepkan pahlawan-pahlawan iman seperti Daud atau Yosua – yaitu para individu yang sukses mengatasi kerendahan hati mereka di awal. Namun setiap pelayan Tuhan memiliki, seperti janda ini, suatu kehidupan lalu yang dipenuhi dengan alas an dan kebimbangan.

Lihatlah janda ini: Ia memiliki hak yang sah untuk menyerah, namun sebaliknya, ia terus bertahan. Malah, ia menolak untuk menjauhkan dirinya dari kesempatan yang dimilikinya hanya karena statusnya yang rendah. Ia tidak perlu meminta maaf hanya karena ia kekurangan ekonomi, pengetahuan atau pengaruhnya. Tanpa memberi kesempatan bagi dirinya untuk gagal, ia terus memperjuangkan kasusnya di hadapan sang hakim dan akhirnya menerima apa yang menjadi miliknya: perlindungan resmi dari musuhnya.

Bagaimana mungkin seorang janda biasa mendapatkan kekuatan karakter seperti ini? Kita dapat bayangkan bahwa pastilah ada suatu waktu ketika di bawah tekanan kesengsaraannya tanpa henti, ia menjadi putus asa, dan keputusasan bekerja bagi keuntungannya. Ketika keputusasaan kita melampaui ketakutan kita, maka kemajuan pun dimulai.

Umat Pilihan Allah

Bangsa kita menderita akan keruntuhan moral dan sosial. Jika kita pernah membutuhkan urapan Allah, maka inilah saatnya – namun dimanakah umat pilihan Allah? Dimanakah umat yang dikatakan Daniel “mengenal Allahnya” dan “akan tetap kuat dan akan bertindak” (Dan. 11:32)?

Apakah tak ada seorangpun yang dapat diberi kuasa ilahi untuk menjatuhkan para Goliat masa kini? Barangkali kita mencari di tempat-tempat yang salah. Jika anda percaya kepada Yesus dan begitu menginginkanNya, anda memenuhi syarat sebagai salah satu umat pilihan Allah. Ingat, perumpamaan janda di atas merupakan umat pilihan Allah.

Ketika segala sesuatu telah dilakukan, maka sesuatu yang mungkin janda ini takkan menjadi seorang individu tetapi gabungan umat – suatu “janda Gereja” – bersatu di dalam suatu doa penuh putus asa demi perlindungan di tengah kesengsaraannya.

Kita membutuhkan “perlindungan legal” yang dapat diberikan oleh kebangkitan bangsa. Namun hal ini takkan terjadi tanpa doa tanpa jemu-jemu. Anda bertanya, “Dimanakah doa yang ada di balik Kebangkitan Karismatik?” Allah berkata kepada saya bahwa Kebangkitan Karismatik adalah jawabanNya bagi seruan berjuta-juta ibu yang berdoa – para wanita yang menolak untuk menyerahkan anak-anak mereka kepada obat-obatan dan iblis.

Ini waktunya bagi kita untuk berdoa. Kita adalah janda yang tidak menyerahkan dirinya pada kegagalan; Allah pasti akan menjawab seruan doa kita siang dan malam. Mari tempatkan diri kita di takhtaNya demi kota dan bangsa kita. Tentunya, saat kita bertekun di dalam iman, Allah akan mengaruniakan kepada kita perlindungan legal dari musuh-musuh kita.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

3 Responses to F. Frangipane: Kita Harus Berdoa dan Tidak Berputus Asa (Apr 19, 2010)

  1. Pingback: eKristen - Situs Komunitas Kristen | Blog | Kita Harus Berdoa dan Tidak Berputus Asa

  2. July says:

    Dear Mba Siska,

    Senangnya bisa membaca lagi blog2-nya Mba yang sangat berharga dan memberkati ini. Tuhan Memberkati pekerjaan Mba selalu.

    Salam in Jesus Christ

    July

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s