John Sielski: Dalam Penyembahan yang Sejati, “Diri Kita” Dikorbankan (Feb 21, 2010)


Penyembahan bukan sekedar suatu sikap, melainkan juga masalah hati. Ini adalah roh terpesona, kagum dan menghormati Allah, pikiran dan jalanNya. Ini lebih dari sekedar sebuah lagu, dan tak dapat diartikan atau dibatasi oleh kerangka waktu tertentu yang terjadi dalam kerangka waktu kebaktian atau pertemuan gereja. Jika ini adalah persepsi penyembahan kita, maka berubahlah!

Penyembahan, penyembahan yang sejati, ialah sepenuhnya mempersembahkan “kehidupan kita” dan hasrat-hasratnya untuk merangkul pikiran dan jalan-jalan Allah yang dianggap jauh lebih luas dan lebih tinggi dari manusia, dan dengan penghargaan yang lebih tinggi. Penyembahan adalah gaya hidup sebuah hati dengan bertekuk lutut dalam hadirat Allah, dan yang telinga dan matanya terbuka untuk mendengar suaraNya dan menangkap visi akan siapa Dia sebenarnya. Kedalaman penyembahan kita takkan pernah melebihi kedalaman pewahyuan kita. Yang satu adalah hasil dari yang lainnyal. Kedalaman pewahyuan kita takkan pernah melebihi tingkat ketaatan kita.

Dengan ini, adalah suatu hal yang aneh – bagaimana ibu anak-anak Zebedeus mendekati Yeus dengan “permintaan khususnya” demi kedua anaknya, Yakobus dan Yohanes – atau “anak-anak guruh.” Oh, betapa mereka membuat keributan di antara kedua belas murid yang terpilih!

Mat. 20:20: Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

Menyembah Allah bukanlah tentang apa yang kita inginkan dariNya, melainkan bahwa kita menginginkannya. Menyembah Allah bukanlah tentang apa yang kita dapatkan dariNya atau kemampuan kita mendapatkan apa yang kita inginkan dariNya. Menyembah Allah berbicara tentang kerinduan kita padaNya akan siapa Ia sebenarnya, dan melihatNya sebagaimana adanya Ia, dan menginginkanNya seperti Ia menginginkan kita. Hal ini tak ada kaitannya dengan apa yg kita rasa bisa Ia lakukan bagi kita, karena inilah renspons rohani kita atas kasihNya kepada kita.

Kerajaan Yesus Tidaklah Seperti Cara Kerja Kerajaan Duniawi

Seperti yang akan segera diketahui oleh ibu anak-anak Zebedeus, kapanpun “diri kita” terjalin dalam penyembahan kita, penyembahan kita akan selalu terpilin dan menyimpang, dan karenanya mengganti persepsi kita akan siapa Allah sebenanrya. Hal ini kemudian membenarkan pengejaran kita akan “hal-hal” yang kita anggap layak untuk kita minta dariNya, yang tak lebih dari hasrat “pribadi” kita akan kuasa dan/ atau posisi dimana kita merasa Tuhan berhutang pada kita. Semua harapan akan jaminan masa depan melalui pengamanan “diri sendiri” harus diletakkan jika hasrat sejati kita adalah untuk mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya dan untuk ditemukan di dalamNya, adalah jenis kebenaran yang hanya bisa diberikan oleh anugerahNya!

Mat. 20:21-28: Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Atau, dengan kata lain, Yesus berkata, “Engkau bahkan tak tahu apa yang engkau minta dariKu!” Begini, ayah Yakobus dan Yohanes, Zebedeus, adalah orang yang terkemuka, meski ia “hanya seorang nelayan.” Paling tidak ia memiliki dua kapal dan para pelayan, maka, bisnis nelayan Zebedeus berjalan sangat baik. Nama Zebedeus berarti “berlimpah” dan “bagian keuntungan.” Maka, inilah pria yang keluarga dan bisnisnya tidak terpengaruh oleh apa pun.

“Isteri Zebedeus,” yg dianggap bernama Salome, hanya ingin memastikan bahwa kedua anaknya tidak mendapat “akhir yang buruk” dengan meninggalkan ayah mereka untuk mengejar “Nabi gila dari Nazaret.” Kebetulan, nama Salome berarti “suka damai; sempurna; dan ia yg menghadiahi.” Menariknya, sejalan dengan arti namanya, ia akan segera mendapati upah yang akan diterimanya saat kedua anaknya menjadi murid-murid Yesus. Ia mencari damai sejahtera melalui pengertian yang sempurna. Apa yang menjadi keinginan anak-anaknya adalah di hati, namun yang tidak ia mengerti adalah bahwa, meski ia kaya, cara kerja Kerajaan Yesus tidaklah seperti cara kerja kerajaan dunia, demikian juga kekuatan yang ada di baliknya (perhatikan ay. 25-28 di atas).

Mengenali Diri Sendiri Secara Total Hanya Melalui Kehendak Allah

Lalu, apa yg Yesus maksud di dalam tanggapanNya terhadap “penyembahan” dan “permohonan khusus” Salome? Mari kita maju ke beberapa hari di Golgota, tempat Yesus disalibkan.

Mat. 27:27-31, 35-38, 55-56: Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan…

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.”

 

Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya…

Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.

Ingat permintaan awal Salome? Bahwa kedua anaknya akan duduk, satu di sebelah kanan Yesus dan satu di sebelah kiriNya, di dalam KerajaanNya? Saat ia berdiri dekat di Kalvari, melihat dari jauh, kita hanya dapat membayangkan  rasa kagetnya dan ketakjubannya saat ia melihat bahwa Sang Raja “duduk dalam KerajaanNya,” mengenakan “mahkotaNya” seperti yang dipakai oleh setiap raja, dengan seseorang “duduk” di sebelah kananNya, dan yang seorang di sebelah kiriNya.

Oh, betapa gembiranya ia begitu mengetahui bahwa kedua orang itu bukanlah anaknya! Betapapun juga, akan berada dimanakah kita saat ini tanpa suara dan pengaruh “anak-anak guruh” di hari-hari setelah peristiwa ini? Ibu anak-anak Zebedeus mendapat pewahyuan yang sejati akan penyembahan di hari itu! Ia mendapati bahwa mengenali diri sendiri secara total hanya dengan mengenali kehendak Allah di dalam diri orang lain, dan hanya kehendak Allah saja! Inilah tempat dimana “diri sendiri” dikorbankan sepenuhnya dan menjadi mati, agar kegenapan Hidup yang Sejati dapat ditemukan – inilah penyembahan!

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

One Response to John Sielski: Dalam Penyembahan yang Sejati, “Diri Kita” Dikorbankan (Feb 21, 2010)

  1. sarny says:

    haleluya bagi Dialah hormat pujian dan syukurku terimakaSi Tuhan Yesus buat karya salibMu kini ku menjdi anak yg sudah Engkau tebus…kini hidupku hnya mau mnyenangkan hatiMu….
    Dan jdikan hidupku penyembah yg sejati amin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s