Francis Frangipane: Kedekatan Allah Kita (Dec 13, 2009)


Pada Mzm. 73, pemazmur Asaf menyatakan suatu pergumulan yg kita semua mungkin terkadang kita rasakan. Ia mempertanyakan mengapa orang-orang fasik tampak berhasil sementara orang-orang benar dihukum. Keseluruhan ide ini menyusahkan hingga ia memasuki tempat kudus Allah. Saat berada di hadirat Tuhan, Asaf menyadari kesalahannya. Saat ia membandingkan dirinya dgn orang tidak percaya, ia melihat bahwa, di luar dari pengaruh Allah, ia tak memiliki apapun untuk dibanggakan. Ia berkata, “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu” (ay. 21-22).

Akhirnya, jiwanya dicerahkan saat ia memikirkan bahwa Allah sendiri adalah keselamatannya, dan hubungannya dgn Allah adalah kekuataannya. Ia menulis, “Tetapi aku tetap di dekat-Mu… Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi…gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (ay. 23-26).

Rangkuman pikiran dari pewahyuan Asaf, dan poin dari Mzm. 73 terdapat dalam ay. 28. ia menulis, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah.”

Mari tetapkan kebenaran ini untuk sekarang dan selamanya: Kedekatan kita pada Allahlah yang menghasilkan hal-hal yang baik bagi kita. Kekristenanan tidak pernah dirancang Allah untuk dipertahankan oleh orang-orang ramah yang terlihat baik. Kita tidak sebaik itu. Kita tidak sepintar itu. Dan kita tidak seramah itu. Satu-satunya yang dapat mendukung Kekristenan sejati adalah persekutuan sejati dengan Yesus Kristus. Kedekatan kita pada Allah di dalam segala hal adalah hal yang memberi hasil buah roh kita.

Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa, terlepas dari pengaruh & karya Allah, tak ada satupun kehidupan kita yang teramat saleh ataupun bermoral. Daging kita memiliki hasrat duniawi yang sama dengan orang-orang dunia; jiwa kita mengandung perasaan tidak aman dan ketakutan yang sama. Karenanya, terpisah dari pengaruh Kristus di dalam kita, tak ada perbedaan antara orang Kristen dan non-Kristen. Hanya hubungan kita dgn Allah yg menjaga kita untuk tidak memenuhi nafsu dan keinginan daging, karena di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh. 15:5).

Karena itu, kekuatan perjalanan kita tidak berasal dari diri kita sendiri; melainkan dari hubungan kita bersama Kristus. Sifat kita, dapat didefinisikan bahwa saat kita belajar untuk mencari Allah terlebih dulu; karakter kita adalah hasil dari kedekatan kita dgn Yesus. Dgn begitu, Yesus tidak hanya menjadi prioritas pertama dalam daftar hidup kita; pengaruhNya menguasai semua prioritas kita. Ia menginspirasi kasih dalam hubungan-hubungan kita; suaraNya menjadi keyakinan dalam integritas kita. Allah telah menjadikan “Kristus Yesus” untuk menjadi “hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30).

Karenanya, para pencari Tuhan ingin menemukan kesukaan Tuhan ditarik ke setiap aspek dari jiwanya. Ia juga mengetahui bahwa, seandainya ada area dalam hatinya yg terisolasi dari Tuhan, ia akan tetap rentan untuk dimanipulasi musuh di area tsb. Maka, mari saya tegaskan kebenaran pemazmur ini: kedekatan kita pada Allah menghasilkan hal-hal yang baik bagi kita.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s