Chuck Pierce: Berdiam Bersama (Dec 1, 2009)


Salah satu teman baik saya ialah Marty Cassady. Ia menulis hal di bawah ini kepada saya:

Belakangan ini saya memikirkan tentang “tiga generasi” para nenek moyang iman kita (Abraham, Ishak dan Yakub). Kita melihat pentingnya memegang kuat-kuat dan meneruskan hal-hal yang berkaitan dengan iman. Mereka adalah para pria dan wanita yg mengetahui bagaimana berperang melawan rencana musuh yang hendak mencuri iman dan milik pusaka mereka.

Berada di usia 60-an, saya tumbuh dgn mendengar kisah tentang era depresi & Perang Dunia II yang tertanam dalam hati saya bahwa tak ada kedamaian tanpa perang. Orangtua saya mengingat dan mengetahui harganya, dengan kehilangan nyawa. Mereka berbagi pada saya bahwa kesatuan bangsa memerlukan pengorbanan. Saat saya mempertimbangkan hal ini terkait dengan generasi saya, saya berpikir apakah beberapa keengganan akan peperangan rohani terjadi karena suatu generasi tidak membagi mentalitas yang sama akan berperang demi kedamaian ini. 

Saya mendengar kisahnya, tidak hidup di dalam kenyataan perang. Karenanya, anak saya tidak menerima impartasi pengertian yang sama dengan yang saya miliki. Lalu kami masuk ke generasi ketiga dan cucu saya hampir tidak memiliki pengertian akan strategi-strategi peperangan.

Beberapa tahun lalu saya berada di London di saat luang saya. Saya mengambil Alkitab, duduk & bertanya pada Tuhan apa yg ingin Ia ajarkan pada saya di saat itu. Segera saya mendengar Mzm. 133 dan terkejut karena saya pikir saya telah memahami Mazmur dan tujuan pengajarannya.  Diam bersama di dalam kesatuan dan kasih dan semuanya akan baik-baik saja….bukan?

Well, Tuhan memiliki suatu pelajaran bagi saya. Saat saya mulai membaca, saya tahu saya harus melihat baik-baik untuk mendapat pengertian yg “sempurna.” Sungguh suatu kejutan mendapati bahwa kata “diam” yg digunakan Mazmur ini sebenarnya berarti, “untuk duduk, khususnya untuk mempertimbangkan, secara tersembunyi, dalam keheningan.” Tuhan memakai satu kata untuk menunjukkan pada saya kesatuan dalam Mzm. 133. Ya, kita dipanggil untuk bersatu namun juga berdiam bersama setelah kita mengambil waktu untuk duduk, mempertimbangkan, dalam keheningan, dengan tersembunyi. Hal ini terdengar seperti istilah peperangan bagi saya. 

Kita biasanya memakai ayat ini dgn berkata: “Alangkah baiknya dan indahnya untuk ‘diam’ bersama dgn rukun.” Namun, ayat ini sebenarnya berarti berdiam bersama di suatu tempat dimana kita bisa bersembunyi untuk menyerang musuh tiba-tiba. Ada suatu berkat apostolic yg berkuasa saat kita mengijinkan arti Firman yg sebenarnya membuat kita bersatu. Saat kita “bersatu dalam peperangan,” kita mendapat pengurapan utk meruntuhkan setiap kuk yg ditaruh musuh atas kita!

Mari, ingatlah proses damai sejahtera terbesar melalui pengorbanan Kristus. Ia menyerahkan DiriNya bagi kita seperti BapaNya yg memberikanNya untuk menebus kita. Ia menjadi SATU dengan BapaNya. Kini, kita dipanggil untuk berdiam dengan rukun untuk melihat KerajaanNya datang & kemudian kita dipanggil utk mengasihi, melatih & mendorong generasi yg lebih muda.

Baca Yoh. 17. Hafalkan dan Renungkan Mzm. 133.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s