C. Pierce: Hari 21: “Kita Memasuki Suatu Tempat Iman yang Baru” (Oct 27, 2009)


Kita memasuki suatu tempat iman yang baru! Iman anda telah meningkat. Iman turun! Iman turun atas kita saat Tuhan berbicara. Iman berarti untuk menjadi terlihat. Sekaranglah saatnya bagi anda untuk MELIHAT janji-janji yg telah terucap menjadi kenyataan. Jangan alihkan penglihatan anda dari janji-janji anda di hari-hari ke depan. Seringkali saat Tuhan siap menggenapi suatu janji, kita mendapati diri kita berada di suatu masa pengujian. Ujian yang anda hadapi saat ini adalah kesaksian yang akan mengalahkan & menghancurkan pekerjaan-pekerjaan musuh di masa depan. Kita melihat pola alkitabiah dari pengujian ke kesaksian ini mulai dari Kejadian hingga Wahyu.  

Israel, yg telah menjadi teladan bagi perjalanan rohani kita, menemukan proses ujian ini di padang gurun. Tuhan telah menjanjikan tanah Kanaan bagi Abraham, suatu tanah yg dipenuhi dgn berkat yg berlimpah-limpah. Janji ini telah disampaikan kepada banyak generasi & telah menajdi suatu janji korporat bagi suatu bangsa. Namun, sebelum bangsa Israel dapat menerima berkat Tanah Perjanjian, mereka harus menjalani pengujian di padang belantara.

Kita semua melalui cobaan-cobaan di padang gurun kita sendiri. Hal ini tidak terhindarkan. Namun, lamanya waktu yg kita habiskan di padang gurun ditentukan oleh bagaimana kita meresponi pengujian Tuhan. Hanya diperlukan waktu perjalanan kaki sekitar dua minggu dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Namun, bangsa Israel selalu jatuh di dalam setiap cobaan. Kita tahu kisah ini. Diperlukan waktu 40 tahun bagi mereka untuk melaluinya! 

Nuh, Ester & Daniel juga dicobai. Setiap mereka berhasil, namun terkadang diperlukan suatu waktu. Tuhan pun dicobai. Ia telah dibaptiskan dan siap menggenapi semua kebenaran, namun pertama-tama Ia harus melewati suatu cobaan. Ia menuju padang gurun selama 40 hari untuk menolak tipu muslihat iblis. Ketika Ia keluar, Ia menerima kuasa! Karenanya, Yesuslah teladan kita, dimana kita dapat menyimpulkan bahwa kita dapat berharap untuk melalui segala sesuatu yang Ia lalui. Jika kita berhasil melewati cobaan, maka kita pun dapat menerima kuasa! 

Kiranya anda akan bertahan dan berhasil melalui padang gurun anda. Iman adalah kunci untuk berhasil melaluinya. Ketika kita berada di suatu masa pengujian, selalu masalahnya adalah iman. Namun ada suatu jenis iman khusus yg dibutuhkan untuk melewati pengujian & memiliki janji, yaitu: iman yang bertahan. Inilah iman yang bertahan hingga akhir pengujian. Barulah kemudian kita membangun suatu kesaksian yang teguh. “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat. 24:13-14).

“Untuk bertahan” (bahasa Yunani: hupomeno) adalah memegang dasar masalah kita, menanggung kesengsaraan, bertahan di bawah tekanan, berdiri teguh, gigih atau menanti dgn tenang dan berani. Hal ini menyatakan secara tidak langsung adanya suatu perlawanan yg penuh semangat untuk mengalahkan yang akan menghasilkan kegigihan yg menenangkan dan berani.  

Ketekunanserupa dgn untuk bertahan namun “ketekunan” berarti untuk melakukan sesuatu di tengah kesukaran. Untuk memiliki ketabahan atau bertahan hingga tujuan tergenapi. Jika kita tetap bertekun, kita akan berhasil untuk melewati halangan-halangan yg ada di depan kita. Ibr. 10:36 menjelaskan iman jenis ini: Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Yak. 1:3-4 (NASB) mengatakan, “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (lihat juga Yak. 1:12). 

Mudah bagi kita untuk menerima suatu janji dan menjadi gembira. Namun terkadang dalam beberapa hari, kita telah dikepung oleh satu serangan atau serangan lainnya dari musuh. Janji yg kita pancarkan di hari Minggu pagi menjadi terdorong ke samping dan kemudian terdesak ke belakang pikiran kita. Bagaimana agar kita tetap berada di jalur kita? Kita dapat memulainya dgn melihat kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh mereka yang tidak memasuki jalur dengan iman, atau yang tidak bertahan saat mereka menerima suatu janji dari Tuhan. Saat berada di padang gurun bangsa Israel bersungut-sungut, mengeluh dan memberontak. Kita belajar dari banyak pelajaran atas apa yang tidak boleh dilakukan dari mereka yg berkecil hati dan berhenti ketimbang terus mendesak. Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan (I Sam. 30). Paulus bertahan di tengah kesukaran seperti seorang prajurit yang baik.  

Saat memasuki berbagai situasi, hendaknya kita belajar untuk PERCAYA, TAAT dan kemudian BERTINDAK. Kiranya IMAN dan SUKACITA membawa anda melewati musim di depan! Saya berdoa agar kasih karunia yang bertahan dan bertekun turun atas anda.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s