C. Pierce: Hari 19: “Iman Ibarat Sebuah Lokomotif” (Oct 25, 2009)


Mzm. 65 berkata, Engkau memahkotai tahun dengan karunia dan kebaikan-Mu, jejak [roda kereta] -Mu meneteskan lemak.” Anda adalah perpindahan. Iman ibarat sebuah lokomotif. Jangan menjadi terpesona dan berhenti bergerak. Kami telah berdoa di sepanjang minggu ini agar kita meraih momentum untuk memasuki musim ini dan tidak dihentikan oleh jerat musuh. Anda telah dibebaskan dari hukum. Hukum kasih adalah hukum dimana karya iman memberi anda kuasa & kekuatan untuk menaklukkan dan terus bergerak. Hari ini Linda Heidler mengirimkan pesan ini. 

Di bawah ini adalah beberapa pengertian utama bagaimana pemikiran legalistik bekerja:

  1. Karena kita tahu bahwa kita harus menyalibkan keinginan-keinginan daging, seringkali kita merasa bahwa setiap keinginan kita bersifat kedagingan. Proses pemikiran ini menghalangi emosi kita dan menghilangkan setiap ruang di dalam hati kita bagi Tuhan untuk memberi kita suatu keinginan yg akan menciptakan suatu pengharapan bagi masa depan kita. Hal ini menghentikanNya untuk menggenapi dan mengulurkan keinginan-keinginan yang telah Ia tempatkan di kedalaman hati kita. Hal ini sepenuhnya meninggalkan bagi kita kekosongan pikiran atau perasaan kita sendiri.
  2. Legalisme menghentikan kita dari mendengar suaraNya & membawa emosi & keinginan kita untuk menjadi satu denganNya. Hal ini mencegah kita untuk menolak suara-suara yang mencuri kemerdekaan kita.
  3. Jika kita sepakat dgn suara legalisme, kita memadamkan semangat kita bagi Tuhan. Kita menaruh batasan-batasan bagi diri kita sendiri untuk bergerak melampaui apa yg telah Roh tanamkan bagi kemerdekaan kita. Hal ini sama seperti orang Yahudi yang  “membangun pagar” di sekitar Taurat. Juga seperti Hawa yang berkata bahwa mereka bahkan tidak menyentuh buah pohon pengetahuan. Tuhan memberitahu kita untuk tidak memakan buah itu. Saat kita mencoba “menolong Tuhan” dengan memaksakan suatu batasan yang tidak Ia tetapkan, maka kita menjadi rentan untuk terkena penipuan.
  4. Kebanyakan legalisme berakar di dalam harga diri dan keinginan untuk menjadi lebih baik dibanding orang lain.
  5. Legalisme dapat berakar di dalam keinginan yg tulus untuk menyenangkan Tuhan. Namun, keinginan ini dapat terperangkap oleh ketakutan bahwa kita akan melakukan hal yang salah atau yang tidak menyenangkan atau menahan sesuatu yang dari Tuhan atau tidak cukup mencariNya. Ketimbang belajar mengikuti Roh Kudus, kita memaksakan lebih banyak lagi peraturan.

Jadilah MERDEKA!!!

Baca 2 Kor. 8.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s