Francis Frangipane: “Otoritas Ilahi dan Hal-hal yang Kita Kasihi” (Aug 17, 2009)


Saat doktrin-doktrin Kekristenan dapat diajarkan, keserupaan dengan Kristus hanya dapat diinspirasikan. Melalui kerendahan hati dan kehidupan mereka yang kudus, para pemimpin dari generasi selanjutnya ini akan menginspirasi banyak orang. Mereka akan sungguh-sungguh berjalan di dalam kasih Kristus; karena mereka akan diberikan otoritas yang besar.

Gereja memiliki banyak administrator, namun hanya sedikit yang menjadi teladan; banyak yang dapat menjelaskan doktrin-doktrin Kekristenan namun hanya sedikit yang menjalani seperti yang Yesus jalani. Malah, meski kini banyak orang yang memegang kepemimpinan, mereka tidak banyak berfungsi di bidang otoritas yang lebih tinggi yang Yesus berikan bagi GerejaNya. Namun begitu, suatu lencana otoritas yang baru kini turun atas Gereja. Hal ini akan membawa kebebasan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya; pada beberapa kasus, seluruh kota-kota akan berbalik kepada Tuhan.

Apa yang dimaksud dengan otoritas ilahi? Hal ini tidak lebih dari Tuhan sendiri yang menegaskan kuasa perkataan dari hambaNya. Musa menunjukkan otoritas ilahi ketika ia memperingati Firaun yang keras kepala. Roh Tuhan menegaskan penghukuman Musa melalui kuasa yang menghancurkan harga diri Mesir. Yesus menyatakan otoritas ilahi ketika Ia berhadapan dengan orang yang kerasukan, menenangkan badai, menyembuhkan penyakit, dan kemudian menggenapi penebusan dalam kuasa kebangkitan. Bapa tidak membiarkan satu pun perkataan dari Kristus tidak tergenapi.

Alkitab menunjukkan pada kita teladan dari banyak orang yang memiliki otoritas ilahi. Setiap teladan memberitahu kita prinsip yang mendasari hal yang sama: mereka yang dibangkitkan oleh Tuhan didukung oleh Tuhan. Mereka akan “memperkatakan sesuatu, dan hal itu akan terbentuk” (Ay. 22:28, terj. sendiri). Inilah yang disebut dengan sifat alami dari otoritas ilahi.

Sumber Otoritas

Tak pelak lagi, sebagai para gembala, pemimpin dan pendoa, kita harus berjalan di dalam otoritas yang lebih besar lagi. Namun, selagi kita menikmati berbagai anugerah yg menambah kemajuan pribadi kita, Tuhan memberi kita otoritas untuk satu tujuan tertentu: untuk menggenapi rencanaNya di bumi. Apa tujuan Tuhan? Satu tujuan ilahi yang utama terlihat dalam Amanat Agung. Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:18-19).

Kristus memberi otoritas pemuridan bagi Gereja. Kita telah lebih banyak berhasil membuat orang menjadi Kristen ketimbang menjadi murid. Pada jaman kita, banyak Orang Percaya Yesus, namun hanya sedikit yang menjadi pengikut sejati Kristus. Jika tujuannya adalah pemuridan, bagaimana kita akan melakukannya? Kita menjadikan mereka orang percaya dan mengajar mereka “melakukan segala sesuatu yang Yesus ajarkan” (ay. 20). Ketika Gereja kembali mengajarkan semua yang Yesus ajarkan, para murid akan memiliki otoritas untuk melakukan semua hal yang dilakukan Yesus semasa hidupNya.

Tapi, otoritas ilahi bukanlah sesuatu yang dapat kita miliki karena kita memperjuangkannya. Kita tak dapat membelinya seperti Simon, tukang sihir yang berusaha membelinya (Kis. 8:18). Kuasa otoritas tidak akan bekerja hanya karena kita meniru metode orang lain, seperti anak-anak Skewa (Kis. 19:14-16). Tidak pula dapat diperoleh secara otomatis karena kita membaca buku-buku tentang membangun Gereja. Kita tidak dapat berpura-pura memiliki otoritas ilahi. Saat kita berfokus untuk menaati Firman Tuhan, pastilah akan ada cara-cara ilahi bagi terbukanya otoritas Kristus dalam hidup kita.

Dari awal penebusan kita, kita telah menikmati kasih Bapa yang tak terbatas. Namun saat kita menjadi dewasa, akan ada waktu dimana Kasih Bapa kepada kita tampak bersyarat. Seperti halnya bagi Kristus, hal ini juga berlaku bagi mereka yang mengikutiNya. Ia berkata:

Karena inilah alasan Bapa mengasihi Aku, karena Aku memberikan nyawaKu. – Yoh. 10:17

Yesus hidup sangat intim dengan Kasih Bapa karena Ia telah memberikan hidupNya bagi domba-dombaNya. Jika kita ingin bertumbuh dalam otoritas yang sejati, kita harus melakukannya dengan memberikan hidup kita bagi domba-dombaNya. Pernahkah anda merasa ditarik, oleh kuasa ilahi Bapa yang menarik anda untuk berserah di dalam keserupaan akan Kristus? Kuatkan hati anda: Ia sedang memperlengkapi anda demi pencurahan RohNya yang selanjutnya. Namun saya juga menasihati anda: otoritas anda akan menjadi hasil dari pertumbuhan hidup anda yang anda berikan di dalam kasih.

Sebagai pemimpin, kita sungguh membutuhkan otoritas administratif terkait dengan posisi kita di dalam pemerintahan gereja; namun, otoritas ilahi melebihi otoritas administratif. Inilah jalur menuju otoritas ilahi sejati: seutuhnya menguasai jiwa kita, tanpa rasa takut atau intimidasi dari pihak luar, kita memilih memberikan hidup kita bagi domba-domba Kristus. Ya, kemerdekaan penuh, dimana tanpa takut kita menyerahkan jiwa kita kepada Tuhan. Tak seorangpun yang mengendalikan kita kecuali Tuhan, namun hidup kita diserahkan, seperti Kristus, dengan bersyafaat demi orang lain. Saat kita dapat bertarung dengan mudah dan menang, namun memilih memberikan pipi yang lain; saat kita diperlakukan dengan tidak adil, namun dengan diam-diam tetap bertahan – di saat-saat seperti inilah otoritas ilahi memasuki hidup kita.

Tiak seorang pun mengambilnya [hidupKu] dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku. – Yoh. 10:18

Yesus tidak dipaksa untuk menerima penyaliban; Ia sendiri yang memilih. Saat di Getsemani, Ia berkata pada Petrus, “Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, spy Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” (Mat. 26:53).

Yesus memiliki satu opsi: pasukan malaikat dan penyelamatan pribadi dengan segera, atau mati di Salib dan penyelamatan bagi dunia. Ia memilih mati bagi kita. Keputusan secara sadar menyerahkan hidup kita seperti seperti yang Yesus lakukan adalah satu-satunya jalur untuk mengembangkan otoritas sejati. OtoritasNya turun saat Ia menyerahkan hidupNya. Otoritas kita datang dari sumber yang sama: memikul salib kita dan menyerahkan hidup kita bagi orang lain.

Otoritas, Bukan Kendali

Otoritas ilahi merupakan ketetapan Allah untuk mengubah hal-hal duniawi dengan kuasa kekal. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh daging kita, ataupun ditemukan pada nada suara kita maupun tatapan mata kita. Otoritas ilahi menuntut persetujuan ilahi. Persetujuan ini muncul saat kita lolos dari uji kasih.

Saat otoritas dijalankan tanpa kasih, maka akan menghasilkan kendali. Allah tidak memanggil kita untuk mengendalikan umatNya, namun untuk menginspirasi dan menjaga mereka. Hasil dari kendali adalah tekanan, sihir, dan perselisihan. Namun hasil dari kasih adalah kemerdekaan dan kuasa untuk membangun dan melindungi umat Tuhan.

Otoritas ilahi sejati hadir melebihi kendali alam jasmani. Hidup kita, dan hidup mereka yang mengikuti kita, ditentukan oleh inisiatif kita sendiri. Inilah pilihan yang kita ambil atas dasar kasih. Sebab otoritas sejati lahir dalam kemerdekaan, maka kemerdekaanlah yang diturunkan.

Kita hanya berjalan dalam otoritas kasih sejati, otoritas kendali yang salah, atau tanpa otoritas sama sekali. Baik otoritas yang salah dan ketiadaan otoritas berakar dari rasa takut, dan kita bereaksi terhadapnya dalam 2 cara. Reaksi pertama, yang menghasilkan otoritas yang salah, adalah berusaha mengendalikan mereka yang berada di sekitar kita, yang karenanya membuat situasi di sekitar kita lebih mudah diprediksi dan kurang mengancam. Respons yang lain ialah menolak untuk menerima & menjalankan setiap otoritas yg ada. Banyak hubungan adalah pasangan dari dua kebutuhan: keinginan untuk mengendalikan dan kesediaan untuk dikendalikan. Keduanya dipicu oleh reaksi yang berlebihan terhadap rasa takut.

Namun Alkitab berkata, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh. 4:18). Karena otoritas sejati dibangun atas dasar kasih, tujuannya adalah untuk membebaskan, bukan untuk mendominasi. Karenanya, sebelum seseorang dapat benar-benar berjalan di dalam otoritas ilahi, ia harus dibebaskan dari rasa takut dan keinginannya untuk mengendalikan; ia harus berakar dan didasarkan oleh kasih.

Otoritas untuk Menginspirasi Keserupaan Seperti Kristus

Ketika pengajaran kita tentang Yesus dan ketaatan kita kepadaNya menjadi satu, maka otoritas ilahi akan menyertai hidup kita. Yesus membuat takjub banyak orang, sebab Ia mengajar “sebagai orang yang memiliki otoritas” (Mat. 7:28-29). Apa yang diajarkanNya sejalan dengan cara hidupNya. Karenanya, kita pun harus hidup dan menunjukkan sifatNya.

Para gembala terkasih, jika kita berusaha melatih jemaat kita untuk berdoa, pertama-tama kita sendiri harus menjadi seorang pendoa syafaat. Anda mungkin berkata, “Tapi diluar dari jemaat yang banyak, hanya 3 orang yang menemaniku berdoa.” Maka dengan ke-3 orang inilah anda membangun dasar bersyafaat anda. Jangan berkecil hati, karena anda akan memenangkan orang lain. Namun ukuran kesuksesan kita bukanlah berdasar angka jemaat yang hadir pada Minggu pagi. Allah telah memberi kita jemaat agar kita dapat melatih mereka, bukan sekedar menghitung mereka. Dari kelompok inilah, mereka yang kita inspirasi untuk hidup seperti Kristus menjadi ukuran nyata dari kesuksesan kita, ujian keefektifan kita di dalam pelayanan.

Yang lain dapat berkata, “Tapi saya belum pernah menjadi seorang pemimpin.” Saat siapa saja meletakkan hidupnya pada kasih Kristus, orang lain pasti akan melihat dan mengikutinya. Entah anda seorang pebisnis, ibu rumah tangga, atau seorang remaja, anda dapat menjadi seseorang yang berbicara dengan keyakinan dan otoritas sebagai murid Kristus. Kebenarannya, jika anda mengikuti Kristus, maka orang lain akan mengikut anda. Maka, andalah seorang pemimpin.

Generasi yang selanjutnya ini tidak hanya akan mengajar orang banyak; namun mereka akan menginspirasi Tubuh Kristus untuk hidup seperti Yesus. Teladan mereka dalam segala hal akan membangunkan kesalehan orang-orang yang berada di sekitar mereka. Dari sifat yang sejati maka pemimpin-pemimpin di masa depan akan menarik otoritas sejati, karena saat sifat Kristus disingkapkan, otoritas Kristus kemudian akan mengikuti.

Otoritas Dalam Peperangan Rohani

Semakin lebar lingkup kasih kita, sampai disitulah luas otoritas ilahi kita. Kita melihat ini pada seorang ibu yang mengasihi anaknya. Menjadi seorang wanita yang memiliki otoritas utk melindungi, melatih, & memelihara keturunannya. Ia memiliki otoritas untuk melindungi orang yang dikasihinya. Hal yang sama berlaku atas suami terhadap keluarganya. Otoritasnya tidak hanya untuk memerintah, namun untuk membangun kehidupan Kristus di dalam rumahnya. Otoritas ilahi sejati terlahir dari kasih.

Pribadi yang mengasihi jemaat lokalnya memiliki otoritas untuk membangun jemaat tsb. Namun otoritas mereka tidak diperluas melebihi batasan kasih mereka. Jika kita mengasihi semua Tubuh Kristus di suatu tempat, otoritas kita akan menyentuh hidup mereka yang berada di kota atau daerah kita, baik melalui beban doa atau pengajaran atau menjangkau jiwa dan pelayanan.

Dasar pengujian dari semua hal-hal ilahi adalah kasih, karena hanya kasih yang memurnikan motivasi kita dan membebaskan kita dari ketidakjujuran itu sendiri. Bahkan otoritas dalam peperangan rohani harus dilandasi oleh kasih. Daud memperoleh keahlian untuk membantai Goliat, tidak berasal dari medan perang, namun membela domba-domba ayahnya dari hewan pemangsa. Daud begitu mengasihi domba-domba tersebut sehingga ia membahayakan hidupnya bagi mereka. Demikian juga kita bertumbuh di dalam otoritas saat kita melindungi domba-domba Bapa kita, kawanan yang telah diberikanNya kepada kita.

Otoritas adalah otot pada lengan kasih. Semakin seseorang mengasihi, semakin besar otoritas yang dikaruniakan kepadanya. Jika kita mengasihi kota kita dan bersedia memberikan hidup kita untuk melayani komunitas kita, maka Tuhan akan memperbesar kapasitas hati kita. Ia akan mengaruniakan kepada kita otoritas baru dalam peperangan rohani. Namun demikian, sebaiknya tak seorang pun terlibat di dalam peperangan konfrontasi jika ia tidak mengasihi orang-orang yang diminta kepadanya untuk ia lindungi. Jika anda tidak mengasihi kota anda, jangan berdoa melawan penguasa-penguasa kegelapan. Setan mengetahui kesejatian kasih kita berdasasrkan terangnya kemuliaan yang melingkupi kita. Seseorang tanpa kasih Kristus akan kemudian mundur dan gagal dalam peperangan rohani. Hanya kasih yang “tidak pernah gagal” (1 Kor. 13:8, terj. sendiri).

Malah, saat peperangan rohani tiba, banyak hal yang hendak dikatakan oleh Roh Kudus tak dapat kita dengar hingga dasar kasih kita diperluas. Di dalam hikmatNya, Tuhan melindungi kita dari serangan penghulu-penghulu iblis dan dari menderita kerugian. Tapi, jika kita benar-benar diurapi oleh kasih Allah, harga untuk melihat agar orang lain diselamatkan menjadi tidak terlalu besar. Inilah harga yang hanya dapat dibayar sendiri oleh kasih.

Otoritas Untuk Membangun Tubuh Kristus

Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu…- 2 Kor. 10:8

Banyak yang disebut dengan “nabi-nabi” masa kini mengira mereka diutus seperti halnya Yeremia, “untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan” (Yer. 1:10). Pesan Yeremia diberikan bagi umat yang ditetapkan untuk ditawan oleh Babilonia. Sang nabi berbicara bagi umat yang tidak memiliki Roh Kudus dan Darah Yesus. Israel, pada saat itu, adalah suatu bangsa yang telah Tuhan tetapkan sendiri untuk ditawan, mereka telah diperingatkan terhadap penghukuman selama lebih dari 250 tahun.

Namun, meski kita hanya memiliki nabi Yeremia sebagai teladan, tugas Tuhan bagi Yeremia lebih dari sekedar menghadapi dosa. Termasuk di antaranya adalah janji pemulihan dan pelepasan, “untuk membangun dan menanam” (Yer. 1:10). Untuk mewakili hati Tuhan, yang merupakan tugas profetik sejati, seorang hamba Tuhan harus mengetahui anugerah Tuhan dan kebenaranNya. Melalui pewahyuan, kita harus mengetahui apakah Roh Kudus sedang bersiap untuk menghancurkan atau berusaha untuk membangun ulang.

Saat ini, menurut pendapat saya, kita adalah umat yang keluar dari perbudakan, umat yang didorong Tuhan untuk membangun seperti halnya pada jaman Nehemia, Ezra, Hagai, dan Zakharia. Kita telah diusir dari janji Tuhan, namun kini kita kembali untuk membangun rumah Tuhan. Ya, kita berada di masa penghakiman, perbaikan dan disiplin, namun ini bukan waktu untuk merobohkan Tubuh Kristus; ini waktu untuk mendirikan dan membangun.

Otoritas yang akan turun bagi gereja di pencurahan yang selanjutnya ini akan menjadi otoritas untuk memulihkan gereja lokal, yang meliputi seluruh kota. Seperti otoritas yang dimiliki Paulus, otoritas kita akan diberikan untuk membangun dan menguatkan bukan untuk menghancurkan.

Allah memiliki kepemimpinan yang baru ini di hadapanNya terus-menerus. Gembala dari berbagai denominasi, bersama dengan jemaat mereka, berkumpul bersama untuk berdoa, berusaha menarik api dan hati Tuhan ke dalam jiwa mereka. Yang muncul dari dasar kerendahan hati dan doa ini adalah suatu otoritas baru untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus. Karena kasih mereka menjangkau melampaui kota mereka, otoritas mereka pun akan sama melampauinya, bahkan hingga ke tempat-tempat spiritual. Para pemimpin kini sedang Tuhan bangkitkan. Dan mereka yang sedang Tuhan bangkitkan, Ia dukung dengan kuasaNya. Otoritas adalah otot pada lengan kasih.

Ya Tuhan terkasih, jadikanlah aku korban yang berkenan. Aku merindukan otoritasMu, Tuhan. Berikan aku keberanian untuk berserah di dalam ketaatan, bahkan ketika aku tidak melihat hasil dan ketika semua yang kulihat hanyalah kerugians. Tolonglah aku untuk terus percaya saat aku melewati gerbang yang sempit. Bangun aku di dalam kasihMu sehingga aku dapat membela umatMu dengan penuh otoritas. Dalam nama Yesus. Amin.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

One Response to Francis Frangipane: “Otoritas Ilahi dan Hal-hal yang Kita Kasihi” (Aug 17, 2009)

  1. vero says:

    terimakasih..tulisan anda sangat membangun saya. GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s