Nic Billman: Hati Allah Bagi Mereka yang Paling Hina: “Engkau Akan Mendapati Aku di Kegelapan…Aku Disini, Temukan Aku” (Jun 29, 09)


Penglihatan Akan Mereka yang Remuk Hati

Baru-baru ini saya, isteri saya dan beberapa teman mengadakan penyembahan. Hanya keyboard saya dan suara kami – sederhana dan intim. Tiba-tiba saya menerima suatu penglihatan.

Saya melihat mereka yang terluka hatinya dan sekarat di jalanan. Pelacur yang menjual tubuhnya, mereka yang kecanduan obat-obatan, anak-anak yang mengemis makanan, dan seorang janda yang duduk sendirian di berandanya dengan tatapan depresi di matanya. Ada seorang lumpuh yang berteriak, “Air, tolong, saya butuh air”; pakaiannya kotor dan robek. Ada seorang ibu dengan dua bayi – ia duduk menangis di mesin cuci otomat, air mata turun di wajah kedua anaknya yang kelaparan. Mereka semua putus asa dan sekarat dan tanpa kehidupan.

Dari situ saya melihat gereja; pintunya tertutup, namun ada kehidupan di dalam dan penyembahan yang luar biasa dari banyak jemaat. Semuanya berdoa dan menangis, “Tuhan, kami ingin mendengar suaraMu; mengapa kami tak dapat mendengarMu? Tunjukkan wajahMu. Kami ingin melihat wajahMu.” Lalu saya mendengar suara di belakang saya. Saya berbalik ke jalanan dan mendengar Bapa berkata, “Aku di luar sini, temukanlah Aku.”

“Engkau Akan Mendapati Aku di Kegelapan, Engkau Akan Mendapati Aku di Kegelapan”

Saya lalu menyanyi, “Saat Aku lapar, engkau memberiKu makan. Saat Aku haus, engkau memberiKu minum. Saat Aku sakit, engkau menemaniKu. Saat Aku telanjang dan miskin, engkau memberiKu pakaian dengan kasih. Tataplah mata anak-anak yang ditinggal – di situ engkau akan mendapatiKu. Rangkullah mereka – di situ engkau akan mendapatiKu.” Di saat yang sama, isteri saya, Rachel, bernyanyi, “Engkau akan mendapatiKu di kegelapan, engkau akan mendapatiKu di kegelapan.” Jelas Allah sedang menggerakkan kami di arah yang sama.

Hati Allah Bagi Mereka yang Hina Ini

Anda melihat hati Allah selalu tertuju bagi mereka yang miskin, sakit dan terhilang dari perkataan Yesus di Mat. 25:34-40:

“Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.'”

Inilah salah satu hal terakhir yang Yesus ajarkan kepada murid-muridNya. Apakah anda melihat bagaimana Yesus mengikat berkat, kebenaran, dan milik pusaka kita dengan kesediaan kita untuk mengasihi dan memperhatikan mereka yang hina ini? Kita melihat hal ini melalui hidup Yesus; Ia selalu memiliki waktu bagi mereka. Ia menghentikan pertemuanNya dengan mengijinkan seorang wanita yang hancur hati untuk mengurapi kakiNya. Ia menghentikan perjalanannya untuk mengunjungi seorang wanita Samaria. Ia bahkan mengabaikan hukum hari Sabat untuk menyembukan seorang pria yang buta sejak lahirnya.

Yesus benar-benar tak dapat melihat orang banyak tanpa memiliki belas kasihan terhadap mereka (Mat. 9:36, 14:14). HatiNya penuh dengan kasih Bapa sehingga Ia selalu memiliki belas kasihan. Kita pun harus hidup dengan cara yang sama. Kita seharusnya penuh dengan kasih Bapa agar air kehidupan mengalir dari hati kita dan mengubah kehidupan dan atmosfir kemana pun kita pergi. Hal ini seperti yang Yesus maksudkan dalam Mat. 10:8, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Ia berkata agar kita menyembuhkan orang sakit, mengusir iblis, dan membangkitkan orang mati. Mengapa? Semuanya hanya karena kasih.  

Yak.1: 27 memberi definisi yang tepat akan ibadah yang murni:

“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

Pola pikir dunia adalah untuk menjadi nomor 1, lakukan yang terbaik bagi diri anda dan berfokus pada kebutuhan anda. Meski begitu, pola pikir Yesus adalah untuk mengabaikan kebutuhanNya dan berfokus pada kebutuhan orang miskin dan sakit. Kita harus tetap tak bercela dan tidak terkontaminasi dari cara-cara dunia dan cukup memandang Yesus dan mengikuti teladanNya.

Pujian, Penyembahan, dan Kemuliaan

Mungkin anda bertanya, “Apa urusan penyembahan di sini?” Jika penyembahan berbicara tentang mendekat pada hati Bapa, maka kita akan merasakan hatiNya bagi mereka yang hina ini. Dan jika penyembahan berbicara tentang menghormati Bapa, maka adakah cara terbaik untuk menghormatiNya selain berdoa bagi mereka yang terluka? Inilah gerak maju alami saat kita masuk lebih lagi ke dalam penyembahan.  

Gereja biasanya memandang penyembahan menjadi tiga fase:

1. Pujian 2. Penyembahan dan 3. Pelayanan.

Kita mulai dengan musik sedang untuk memuji dan meninggikan namaNya, lalu menyembah dan menyanyikan kasih dan anugerahNya, dan kemudian kita tiba di titik dimana atmosfir penyembahan terasa berat dan saat bagi kita untuk masuk lebih ke hati Allah. Inilah model Kemah Musa yang dibangun dengan pelataran, ruang kudus, dan ruang maha kudus. Puji-pujian dimulai di pelataran, diikuti penyembahan kudus di ruang kudus, dan tali di pergelangan kaki saat kita memasuki tempat kudus sebagai tempat dimana hadirat Allah berada!

Saya percaya terdapat langkah ke-4 penyembahan yang diabaikan – yaitu doa syafaat. Saat kita masuk ke penyembahan yang lebih lagi, tempat dimana kemuliaan Allah turun, maka seharusnya kita mulai berdoa berseru bagi mereka yang terhilang, terluka, sakit, miskin, dan sekarat.

Semakin saya mencintai isteri saya, saya semakin mengenal dirinya. Semakin saya mengenalnya, saya semakin tertarik dengan hal-hal yang menyukakan hatinya. Begitu juga dengan Bapa. Kita harus menerobos naik dan mengijinkan hati Allah menembus ke dalam penyembahan kita. Selama bertahun-tahun kita menyanyikan kasihNya dan kini saatnya untuk bernyanyi, “Bapa, tunjukkan pada kami cara mengasihi.” Inilah saatnya untuk mencurahkan semua yang telah Ia curahkan. Tidak ada yang memisahkan penyembahan dan syafaat. Keduanya saling bekerjasama.

Penyembahan Adalah Kunci Untuk Keintiman, dan Keintiman Adalah Kunci Untuk Bersyafaat

2 Taw. 7:14 berkata: “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.”

Yesus adalah contoh pribadi yang merendahkan diriNya seperti yang terdapat dalam Mat. 25. Ia merendahkan diriNya hingga “menjadi seperti saudara yang paling hina.” Di budaya masa kini kita cenderung melihat “kesederhanaan” dan “kerendahan hati” sebagai hal yang negatif. Namun sejatinya kerendahan hati adalah mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan dan kita berserah pada otoritas dan kehendakNya. Yesus sangat merendahkan diriNya, didalam ketaatan pada Bapa.

Lawan dari kerendahan hati adalah kesombongan. Kesombongan adalah akar dari segala dosa, seperti halnya Lucifer. Kesombongan adalah meninggikan diri di atas orang lain. Tujuan hidup kita seharusnya ialah menjadi serupa dengan Yesus dan menjalani hidup dengan rendah hati. Saat kita hidup di dalam kerendahan hati, kita memulihkan apa yang telah terputus sebelumnya – suatu hubungan sejati bersama Yesus dengan penundukan diri sepenuhnya kepada kehendak BapaNya!

Istilah lain yang digunakan pada bagian ini adalah “carilah wajahKu,” yang berarti keintiman. Tuhan memberi kita kunci di bagian ini: jika kita merendahkan diri dan mencari wajahNya, maka Ia akan mendengar dari Surga dan Ia akan memulihkan negeri kita. Saat kita masuk lebih intim lagi ke dalam penyembahan, itulah waktu terbaik untuk bersyafaat di hadapan Bapa. Semakin dekat anda dengan Bapa, maka anda dapat semakin jelas berbisik di telingaNya.

Seperti Ester, ia menerima perkenanan dari Raja melalui keintiman. Saat ia mendapat akses memasuki ruang pribadiNya, disitulah ia membela bangsanya. Hasilnya ialah ia melihat sejarah bangsanya berubah karena adanya kombinasi berkuasa dari “keintiman dan bersyafaat.” Kisah Ester adalah kisah profetik, yang berbicara tentang cara kita mendekati takhta Allah.

Jadilah Termostat, Bukan Termometer

Penyembahan lebih dari sekedar musik ataupun seni; melainkan gaya hidup (Rm. 12:1). Kita harus menjalani hidup seperti yang Yesus lakukan, membuka mata kita, melihat apa yang Bapa lakukan, dan melakukan hal yang sama. Setiap orang dapat menjadi termometer yang mengukur suhu rohani, namun kita dipanggil untuk menjadi thermostat, untuk mengubah suhu rohani! Kita tidak dipanggil untuk sekedar menandai kesakitan, kemiskinan, dan dosa; kita dipanggil untuk mengubah semua ini menjadi keindahan. 

Saat kita menghabiskan waktu di dalam penyembahan yang bersyafaat, berserulah bagi mereka “yang paling hina ini” dan juga menyatakan destiny mereka secara profetik kepada Bapa! Maka kita akan mulai mengalami pengalaman Dia semakin bertambah di dalam kita dan kita semakin berkurang. Inilah yang memberi kita keberanian untuk melangkah keluar dan mengasihi mereka yang tidak dikasihi dan berbelas kasihan bagi orang banyak. Saat kita memasuki penyembahan, ada satu langkah lagi yang harus kita lakukan – MENDAPATI DIA!. Temukan Dia di antara mereka yang terluka, miskin, sakit, terhilang, janda, dan anak-anak yatim piatu. JanjiNya adalah saat kita mencari Dia, maka kita akan mendapatiNya. Bersediakah anda mencariNya?

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Teaching in Holy Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s