Paige Norfleet: “Dan Kemuliaan Tuhan Akan Diam Atas Mereka Karena Mereka Percaya…” (Jun 1, 2009)


Abraham tidak ditemukan sebagai orang berimana sampai ia berani percaya

Bukan kedekatannya pada hukum atau Firman Tuhan, atau kehidupan doa sehari-harinya atau kesetiaannya yang menyebabkan kasih karunia Tuhan bersinar atas hidup Abraham. Bisa saja doa atau kesetiaannya yang menarik perhatian Tuhan, namun bukan kedua hal ini yang membuatnya layak memiliki hubungan dengan Allah. Roma 4:3 berkata, “Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

Bukan Kelemahan Kita yang Merendahkan Kita, Namun Keyakinan Kita yang Melayakkan Kita

Baru-baru ini Allah memberi saya sebuah mimpi yang menolong saya memahami fungsi lain dari kasih karuniaNya dengan lebih baik. Dalam mimpi ini, seorang hamba Allah yang terkenal datang ke rumah saya. Pelayanannya sangat dikenal akan mujizat dan tanda-tanda ajaib. Penyembuhan yang ajaib selalu nyata di setiap pertemuannya, dan hadirat Allah menuntunnya saat ia melayani dengan Roh pewahyuan dan nubuatan. Semua hal ini secara konsisten selalu hadir dalam pelayanannya, namun di dalam mimpi saya, saya begitu kecewa akan kekurangan pria ini. Ia tampak biasa saja, tidak rapi dan kurang luwes dalam bergaul. Nyatanya, saya melihatnya sangat menjengkelkan saat ia mengikuti saya di sekeliling rumah dan menanyakan hidup saya dengan cara yang nyaris seenaknya. Semakin melihat kekurangannya, saya mulai bertanya kepada Allah bagaimana mungkin Ia memakai pria yang tidak sempurna ini untuk menyatakan kemuliaanNya yang telah saya saksikan pada beberapa tahun ini.

Setelah saya bertanya dalam hati, pria ini bertanya: “Apakah anda melihat dusta dalam diri saya?” Entah bagaimana saya tahu bahwa bukan ia yang bertanya, melainkan Roh Allah, karena saya mengenal jenis pertanyaan ini: Pertanyaan yang Kristus tanyakan bagi mereka yang didisiplinkan olehNya. Pertanyaan yang membuat seseorang menyelami melebihi pertanyaan itu sendiri.

Saya lama merenungkan pertanyaan ini, menimbang semua kekurangan pria ini yang saya amati selama kunjungannya, dan saya terkejut saat saya menjawab dengan jujur tak peduli betapa menyakitkannya hal ini bagi saya, “Tidak – Saya tak melihat dusta dalam diri anda.” Dari semua kekurangan yang terlihat mengusik saya, pada nyatanya tak ada dusta dalam dirinya. Ia kasar, serampangan, dan memiliki banyak hal, yang saya yakin pasti akan menjadikannya tidak layak menerima  manifestasi kemuliaan dalam pelayanannya – namun tak ada dusta dalam dirinya.

Dusta dianggap sebagai sesuatu yang menampilkan kesan yang salah atau menunjukkan kebohongan. Pria ini jelas tidak memiliki niat untuk menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya; namun sebaliknya, ia menjadi dirinya yang sebenarnya. Ia tidak berusaha membuat saya terkesan dengan kata-kata rohani, ataupun mencoba menunjukkan hal-hal ajaib meski sebenarnya ia adalah hamba Tuhan yang besar. Ia belum sempurna, maupun terpoles sempurna, namun ada suatu hal dalam dirinya yang menyenangkan hati Tuhan dan menyebabkan karunia Tuhan mengalir.

Tuhan mempercayainya.

Menjadi Hamba Kristus yang Ikut Ambil Bagian BersamaNya

Saat terbangun, Allah membawa saya pada Roma 4 dimana Ia berkata bahwa kasih karuniaNya tersedia bagi mereka yang benar-benar percaya. Takut, ragu-ragu, dan tidak percaya sama dengan dusta. Saat hal-hal ini masuk ke pikiran kita, berarti kita percaya pada musuh Allah, yaitu setan.

Mempercayai adalah perkara besar bagi Allah. Allah berbicara pada Ahas raja Yehuda melalui nabi Yesaya dalam Yes. 7, memerintahkan raja yang tak beriman ini untuk tidak gentar terhadap mereka yang hendak melawan takhta Daud. Allah menghormati perjanjianNya dengan Abraham untuk menegakkan keturunannya dan untuk memunculkan sisa keturunan dari keluarga Daud. Nyatanya, ayat 9 berkata, “Jika kamu (Ahas) tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya.”

Rasa takut dapat menyebabkan ketidaktaatan kita kepada Allah saat kita mulai bergaul dan terlibat dengan musuh dalam pikiran kita. Pikiran kita akan mulai kurang menyadari betapa besarnya Tuhan, dan perlahan-lahan kita mulai kehilangan kepercayaan akan janji-janjiNya. Kita diperingatkan dalam Ef. 5:11, “Janganlah bersekutu dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Apakah yang dimaksud bersekutu? Bersekutu adalah memiliki hubungan, membagi sesuatu dengan orang lain. Saat kita mengijinkan rasa ragu masuk ke pikiran kita, kita akan mulai meyakini dusta musuh dan akhirnya terlibat dengannya. Kita hanya ikut ambil bagian dengan apa yang berasal dari Kerajaan Bapa kita, dan persekutuan kita hanya denganNya saja. Karenanya, Yesus berkata pada Yoh. 6:53-56: “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

Inilah konsep yang sepenuhnya menakjubkan bahwa kita harus memahami betul manusia rohani kita agar dapat ktia dapat berjalan menurut berkat-berkat covenant. Tentu kita tahu sebagai orang percaya bahwa Yesus berdiam di dalam kita, namun yang lebih penting lagi bahwa perkataanNya harus tetap berada di garis depan pikiran kita agar kita senantiasa sadar akan covenantNya. Turut ambil bagian di dalamNya juga berarti menerima FirmanNya sebagai kebenaran. Dalam menerima kebenaran, kita menyediakan tempat bagiNya untuk tinggal di dalam hidup kita, tidak sekedar di hati saja namun juga keseluruhan hidup kita. Pikiran kita juga harus menjadi milikNya.

Bagaimana Menaruh Setiap Pikiran Kita Di Dalam Ketaatan Kepada Kristus

Yesus menetapkan setan sebagai seorang pencuri dan penipu, karena ia mencuri impian dan janji dari hati umat Tuhan dengan menghancurkan iman kita. Ketahuilah bahwa setan tidak dapat merebut apa yang kita tidak lepaskan padanya. Ia bisa dan dapat menyentuh umat Tuhan, namun kita telah diberi otoritas dalam nama Yesus untuk membungkam mulut musuh dan mencabut dustanya. Masalah yang kerap kita hadapi adalah bahwa kita tidak memakai senjata yang telah Tuhan berikan bagi kita untuk mencabut setiap pikiran yang bertentangan dengan Firman Tuhan, yang kita ketahui benar adanya karena tidak ada kegelapan di dalamNya.

“Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” – 2 Kor. 10:4-5

Kemuliaan Allah Tinggal Bersama-sama Orang-orang yang Biasa

Kita harus berdiri dan menolak setiap dusta iblis dan apa yang dikatakannya tentang hidup kita. Bukankah Yesus berkata, “Aku datang supaya kamu mempunyai hidup, terlebih hidup yang berkelimpahan?” Mereka yang memasuki hidup kelimpahan bukanlah mereka yang “khusus dipisahkan,” namun hanya mereka yang percaya dan yakin kepadaNya.

Apakah pria dalam mimpi saya menunjukkan ciri-ciri khusus yang membuatnya layak menerima kemuliaan yang telah saya lihat terjadi dalam pelayanannya? Tidak, sebaliknya, ia hanya seorang manusia biasa dengan kelemahan dan kekurangan biasa. Yang membuat kemuliaan Allah tinggal di dalam pelayanannya adalah karena ia yakin akan apa yang Yesus katakan pada Mrk. 16:17-18:

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Inilah arti hidup di dalam roh, yaitu menyatakan kuasa Kerajaan Surga, dimana penghalang dunia nyata didesak mundur dan digantikan oleh kekuasaan Raja segala raja!! Hamba Allah ini, seperti juga kita, hidup di dalam kelemahannya, namun ia memutuskan bahwa apa yang Allah katakan pasti benar adanya. Lalu ia mulai melakukan seperti apa yang Allah janjikan dalam Yoh. 6: “Jika kamu bersekutu denganKu, maka Aku akan tinggal di dalam kamu.”

Kita Menjadi Orang Benar Saat Kita Yakin Bahwa Ia Mengasihi Kita Apa Adanya

Bukanlah hidup yang didisiplinkan yang memberi kita akses menuju janji Tuhan dan mengijinkan kita menyatakan KerajaanNya; hanya percaya saja. Tolaklah dusta iblis bahwa kita tidak layak menyatakan kuasa Yesus, atau menjadi pria dan wanita perkasa di dalam iman. Hal ini tidak berarti kita harus mengabaikan berusaha hidup kudus; kita ingin menjadi kudus karena Allah kita kudus adanya, namun kebenaran kita terjadi seperti saat Abraham menerimanya – melalui kasih karunia Tuhan yang begitu mengasihi kita sehinga ia mengaruniakan AnakNya Yesus untuk menebus dosa kita. Kita menjadi benar saat kita percaya bahwa Ia mengasihi kita apa adanya dan bahwa Ia takkan pernah berhenti untuk menyempurnakan kita.

Faktanya, Allah memakai kita untuk menyatakan kemuliaanNya saat kita semakin bertumbuh. Kita tidak perlu menunggu hingga kita mencapai tingkat “kerohanian” tertentu untuk dapat melihat Allah bergerak penuh kuasa melalui hidup kita. Kita cukup percaya bahwa Ia rindu untuk memakai kita dan bahwa Ia akan melakukannya bagi kita.

Kegerakan Allah saat ini sangat berbeda dengan apa yang sebelumnya kita bayangkan. Tentara Allah yang merebut bangsa-bangsa akan terdiri dari orang-orang Percaya yang sangat biasa namun juga sangat menyerupai Allah. Mereka akan menyatakan kemuliaan Allah mereka melalui tanda, perbuatan ajaib dan mujizat, yang menyertai pesan Salib. Dan kemuliaan Allah akan tinggal di dalam mereka karena mereka percaya padaNya.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s