Kekompakan Tim Selalu Menjadi Andalan


Tatkala sudah memenuhi keinginannya menjadi salah satu pemain utama bisnis salon di Indonesia, Johnny Andrean melangkah ke bisnis ritel makanan. Ia membuka gerai Breadtalk di Jakarta. Johnny sadar bahwa ia memasuki wilayah bisnis yang sangat keras. Ia akan hidup berdampingan dengan ratusan merek roti di Jakarta dan sekitarnya, belasan di antaranya sudah mempunyai pasar kuat. Akan tetapi dengan keyakinan bahwa “kalau kerja keras, pasti menuai outstanding,” Johnny berani berinvestasi. Benar saja, roti yang popular di Singapura itu dengan cepat merebut hati konsumen roti Ibu Kota. Ketika pertama kali dibuka akhir Maret 2003 di Mal Kelapa Gading, antrian untuk membeli roti Breadtalk mencapai ratusan meter. Ia langsung tergerak membuka lebih banyak gerai roti itu. Kini Breadtalk ada di 50 gerai di kota-kota besar di Indonesia. Jumlah ini masih “kalah” dibanding “kakaknya”, salon Johnny Andrean, yang mencapai 150 gerai. Lebih 60 persen bahan Breadtalk adalah produk lokal. Apa kunci pas Johnny sehingga sukses di bisnis roti? Ditanya begini, pria 47 tahun asal Pontianak ini tampak tersipu. Tetapi ia akhirnya menjawab bahwa semua prestasi ini karena pertolongan Tuhan. Ia sendiri seorang pekerja keras dan ulet. Namun ia sadar bahwa tidak mungkin bekerja sendirian. Maka ia membentuk beberapa “tim impian” yang bertugas mewujudkan cita-citanya. Dalam “tim impian” itu, di antaranya terdapat “ahli inovasi roti,” pencipta resep, pemcampur bahan roti yang berbakat, juru cicip, ahli pemasaran, ahli desain ruang interior dan eksterior. Beberapa tim ini selalu bertemu secara rutin. Mereka selalu rapat untuk membahas perkembangan pasar. Johnny Andrean juga ikut di dalam rapat itu. “Biasa saja, kalau kami rapat, ya membahas kekuatan dan kelemahan kami. Pun mempercakapkan inovasi dan pemasaran,” katanya di Jakarta, Selasa (5/5) pekan lalu. Kini publik Indonesia dapat melihat perkembangan Breadtalk yang amat pesat. Lega melihat pertumbuhan Breadtalk, Johnny membuka cafe J.CO. Kafe dengan menu utama donat ini berkembang lebih pesat dibanding Breadtalk. Kini, J.Co ada di 55 kafe di kota-kota besar di Indonesia. Cafe J.CO juga hadir di dua tempat di Singapura, yakni Raffles City dan Bugis Junction. Tak sampai di sini, Johnny Andrean membuka empat cafe J.CO di Malaysia, di antaranya di Kuala Lumpur, Bukit Bintang, dan Johor Baru. “Akhir bulan Mei ini, kami akan buka lagi di Tampines, Singapura. Sasaran berikutnya membuka cafe J.CO di kota Shanghai, lalu Amerika Serikat dan Australia,” kata Johnny yang ditemani isterinya Tina dan beberapa stafnya. “Kami bangga kalau brand 100 persen lokal ini berkibar, apagi sudah sampai ke mancanegara. Semoga ada lagi produk makanan Indonesia yang bisa diterima pasar luar negeri.” Johnny menuturkan bahwa sejumlah tim yang membesarkan Breadtalk, juga ikut membidani J.CO. Mereka, anak-anak muda berbakat, seluruhnya orang Indonesia. Mereka bekerja bahu-membahu, dan selalu saling mengisi. Dari sinergi yang amat kuat itu lahir terobosan-terobosan yang mengesankan. Sinergi yang lahir dari harmoni, tambahnya, selalu menawan. Maka ketika memutuskan membuka J.CO, rumus pertama yang digenggam erat-erat adalah produk harus enak. Itu aspek utama. Kedua, menu harus beragam, maka inovasi produk sangat diutamakan. Yang disajikan kepada konsumen bukan hanya donat, tetapi produk lain, misalnya yogurt (campur buah-buahan). Kopi yang disajikan adalah kopi berkualitas premium, Arabica. Manisnya diambil dari donat. Formula ini menunjang keinginan sehat. Ketiga, harus dekat dengan konsumen. Keempat, harga donat, berikut minumannya seyogyanya ”bersahabat dengan saku orang kebanyakan.” Produk yang enak, tambah Johnny, harus berunsur fun dan gaya. ”J.CO kini acap diidentikkan sebagai kafe yang menekankan gaya hidup. Brand baru ini memang dibentuk agar tampak lucu dan nakal-nakal dikit.” Adapun ruang kafe dilengkapi dengan wi-fi, kursi empuk, sofa lebar. Kalau situasinya seperti ini, anak-anak muda yang datang ke cafeJ.CO tidak sekedar menyeruput kopi, tetapi menikmat hidup dan mengkonsumsi makanan sehat. Konsumen bisa merasakan donat aneka rasa sebab terdiri atas 30-an jenis. ”Kami selalu mengacu kepada produk yang sehat, variatif, dan gaya. Dengan begitu, katanya, pembeli tidak merasa berdosa makan donat karena tidak mahal, dan tidak sampai menimbulkan penyakit. ”Yang makan merasa tidak berdosa karena tidak sampai mengkonsumsi makanan yang menaikkan berat badan.” Hadikusuma, Chief Executive Officer (CEO) pada beberapa perusahaan menyampaikan komentar menarik. ”Di luar pelbagai aspek tersebut, ada sisi lain yang patut diketahui, yakni pribadi Johnny Andrean. Ia selalu rendah hati dan ramah pada siapapun. Ketemu dia 15 tahun lalu dengan sekarang, sama saja. Ia tidak berubah meski sudah berprestasi tinggi,” ujar Hadikusuma. Aspek rendah hati ini kemudian menimbulkan respek. Kompas, May 12, 2009

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Business Buzz. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s