“Obamalek” dan “Obamateks”


“From language perspective, Obama is a great speaker. I do not like a lot of his political speaker, but I do like his speaking.”

 

Demikian seorang warga AS menulis di blog-nya saat OBama dan McCain masih bersaing sengit merebut hati warga AS.

            Pernyataan itu menggambarkan bahwa kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat (4/11/2008) juga berkat penampilan berbahasa (language performance)-nya. Obama memang fenomenal. Obama adalah fenomena bahasa.

            Sebagai fenomena bahasa, Obama telah menjadi akar istilah-istilah dunia, obamania, obamamentum, obamacize, obamanomics, dan obamanation. Selain itu, juga muncul fenomena “obamalek” dan “obamateks”. Keduanya telah menyumbang bagi kemenangan Obama.

 

“Obamalek”

            “Obamalek” atau ragam bahasa Obama ditandai struktur dan logat bahasa Inggris standar, tetapi terdengar lebih “berat”. Maklum, Obama keturunan Afrika,. Organ bicaranya khas sehingga suaranya bertipe bariton, tetapi enak didengar.

            “Obamalek” berbeda dari variasi yang disebut Wardhaugh (An Introduction to Sociolinguistics, 1992) sebagai Black English (BE), Black English Vernacular (BEV), atau Nonstandard Negro English (NNE).

            Menurut Stewart, Labov, Dillard, dan Rickford, BE, BEV, atau NNE banyak melanggar kaidah bahasa Inggris standar. Maka, penuturnya layak mengalami kesialan-kesialan (disadvantages) dalam pergaulan maupun pendidikan. Keamerikaan mereka disangsikan.

            Namun “obamalek” justru mengukuhkan keamerikaan Obama, sekaligus orisinalitasnya sebagai pewaris anatomi organ bicara Amerika. Apalagi Obama seorang Afro-Amerika. Pengasuhan kakek-nenek Amerikanya, Stanley Armour Dunham dan Madelyn Payne, tentu amat mewarnai bahasa Inggris Obama. Atau, secara alamiah, bahasa Inggris black American generasi Obama jauh lebih standar dibandingkan dengan 40-an tahun lalu.

Warga AS yang menulis di blog itu menambahkan, “Menurut saya, Obama memiliki kemampuan menggunakan bahasa, sesuai kelompok pemilih yang disasarnya”. Dari “obamalek” dia mendapat pelajaran: “Orang yang kehilangan ketenangan, habislah dia! Jika Anda mampu menjaga ketenangan saat bicara, Anda dapat merangkul banyak orang! Jika Anda mampu menggunakan bahasa sederhana ’untuk mereka’ (to people) daripada sekedar ’kepada mereka’ (at people), Anda akan dapat mempengaruhi mereka!”

            Jadi, pesona ”obamalek” terletak pada larasnya yang santun, tenang, tulus, sahaja, dan berdaya sentuh. Dalam berbagai pidato maupun debat, ”obamalek” selalu memperlihatkan nuansa santun, tenang, tulus, sahaja dan dan daya sentuh. ”Obamalek” jauh dari kesan emosional, tetapi mampu menggugah inspirasi dan empati. ”Obamalek” memadukan visi yang jelas, pemaham teori yang mantap, wawasan praktis yang lengkap, dan kematangan seorang senator – senatum (Latin) berarti ’matang’.

            ”Obamalek” tidak ”asbun” (Asal bunyi) atau ”toni” (Jawa: waton muni, asal bicara), tetapi memadukan estetika bicara beserta kecerdasan isi. ”Obamalek” mematuhi rambu komunikasi bahasa: ”Cara mengatakan sama pentingnya dengan apa yang dikatan”.

”Obamateks”

            Blaustein dan Zangrando (eds.) dalam Civil Right and Black American: A Documentary History (1970) secara lengkap mengabadikan perjalanan panjang kaum kulit hitam di AS untuk memperoleh hak-hak sipilnya. Tak dapat dipungkiri, mereka telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Amerika sejak hari-hari pertama kaum kulit putih Eropa memasuki dunia baru (AS).

            Mereka memainkan peran vital dalam menaklukkan dan mengolah Dunia Baru. Namun, kedudukan mereka hanyalah warga kelas dua. Bahkan, seperti dicatat Blaustein dan Zangrando, sejak tahun 1619 kaum kulit hitam mengalami ironi. Status mereka justru turun, dari semula servant (pembantu) menjadi slave (budak) yang dapat diperjualbelikan.

            Declaration of Independence (1776) yang mengakui kesetaraan manusia sebagai ciptaan Allah pun belum mampu menjamin hak-hak warga kulit hitam. Sekarang hak-hak itu memang makin terjamin. Namun, subdominasi tetap terjadi. Perasaan sebagai warga negara kelas dua terus menghantui.

            Dalam situasi seperti itu, ”obamateks” )Obama sebagai wacana atau teks) hadir menyeruak. Latar belakang Obama sebenarnya tida kseperti umumnya kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Ayahnya, Barack Hussein Obama, datang ke AS buka nsebagai pelayan atau budak, tetapi sebagai mahasiswa yang dibiayai negaranya (Kenya). Namun, sulit dipungkiri, Obama merupakan teks nyata poskolonial. Obama menjad iikon kemenangan – atau sekurangnya simbol kesetaraan – antara the colonixed dan the colonizer.

            ”Obamateks” didukung fakta berharga. Obama menajdi pengalam (experiencer) berbagai situasi yang kontras. Dia merupakan internalis dari komunitas kulit putih AS, masyarakat kulit hitam AS, warga Kenya (Afrika), dan pernah tinggal di Indonesia (Asia). ”Obamateks” adalah teks yang kaya perspektif dan transenden.

            Pernyataan ”Saya kangen nasi goreng, bakso, dan rambutan” yang dikemukakan kepada Presiden Tudhoyono dengan bahasa Indonesia yang fasih (Kompas, 26/11/2008), membuktikan kekayaan perspektif dan transendensi ”obamateks”.

            Helen, dosen muda sebuah universitas swasta di Jakarta, dengan gembira berkisah di www.myrmnews.com. Pada Mei 2006, dia bertamu ke kantor Obama di Chicago. Sang Senator dengan ramah menyapa, ”O, ini dari Indonesia, ya?”

            Obama menggunakan bahasa secara cerdas dan bermartabat. Dengan “obamalek” dan “obamateks”, dia tidak bermaksud – menurut J Kristiadi dalam “Iklan Politik dan Nasib Bangsa” (Kompas, 25/11/2008) – menyelimuti kekurangan, mengecoh, bahkan menyesatkan konsumennya.

            Tanggal 20 Januari 2009, Obama dilantik menjadi presiden ke-44 negara adidaya AS. Semoga “obamalek” dan “obamateks” turut membangun tata dunia baru yang damai, sejahtera, dan memartabatkan semua orang. Juga menginspirasi para politik di negeri ini.

                                                         P Ari Subagyo (Kompas, 14/1/2009)

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in The Depth of Comtemplation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s