Francis Frangipane: “Karunia Dalam Keterlukaan” (Nov 30, 08)


Dunia dan seluruh isinya diciptakan demi satu tujuan: untuk menunjukkan kebesaran Anak Allah. Dalam Yesus, sifat Allah yang dahsyat dan sempurna diwujudkan; Ia adalah “gambar wujud” Allah (Ibr. 1:3). Namun saat kita melihat Kristus, kita juga melihat pola Allah dalam seorang manusia. Saat kita berusaha menjadi seperti diriNya, kita mendapati bahwa kita diciptakan bagi kesukaanNya. Kita juga melihat saat kuasa penebusaNya menang dalam hidup kita, kasih karunia juga memenangkan dunia di sekitar kita.

Bagaimana kita mengenali datangnya kebangkitan? Lihat, inilah kebangunan yang kita cari: saat pria dan wanita, tua dan muda, semua menyembah Yesus. Kapan kebangkitan dimulai? Saat kita berkata ingin menjadi seperti diriNya; hal ini akan menyebar kepada orang lain saat Kristus dinyatakan melalui kita.

Namun untuk mendapatkan karakter Allah melalui kasih karunia adalah langkah awal dalam pertumbuhan rohani kita. Proses menjadi serupa seperti Kristus mendorong kita masuk dalam tingkat transformasi yang lebih dalam lagi. Malah, Yesus belajar ketaatan melalui apa yang dideritaNya (Ibr. 5:8), maka demikian juga kita. Bahkan saat kita berdiri dalam bersyafaat atau melayani Allah, Kristus memberi kita karunia keterlukaan.

“Karunia?” Ya, dengan mengalami luka saat dalam melayani dan, bukannya menutup hati kita, dengan mengijinkan kasih bertakhta diatas luka, adalah melepaskan kuasa pengampunan Allah. Doa yang setia dari seorang pendoa syafaat yang terluka mempengaruhi hati Allah.

Kita tak dapat menjadi serupa seperti Kristus tanpa menjadi terluka. Bahkan saat kita mengikut Kristus, kita membawa batas sejauh mana kita bersedia mengasihi, dan seberapa besar kita rela menderite demi penebusan. Ketika Allah mengijinkan kita dilukai, Ia menunjukkan batasan seorang manusia dan menyingkapkan apa yang tidak kita miliki dari sifatNya.

Banyak anak Tuhan gagal mengikuti standar Kristus karena mereka telah dilukai dan disakiti oleh orang lain. Mereka meninggalkan gereja dalam keadaan tawar hati, berjanji bahwa takkan pernah melayani lagi karena, ketika mereka menawarkan diri, karunia mereka dinodai oleh mereka yang tak mengasihi. Tercoret atau tertolak dalam administrasi pelayanan dapat menjadi serangan yang besar bagi kita, khususnya saat kita menanti, bahkan mengharapkan hadiah atas pelayanan kita.

Keadaan terluka tak dapat dihindari jika kita mengikuti Kristus. Karena Yesus pun “dinodai” (Yes. 52:14) dan “dilukai” (Zak. 13:6). Dan jika kita tulus dalam mengejar karakter Allah, kita pun akan turut menderita juga. Jika tidak, bagaimana kasih kita dapat menjado sempurna?

Namun, waspadalah. Kita akan dapat menjadi serupa dengan Kristus dan memaafkan para pendakwa kita atau kita akan memasuki masa rohani yang menyesatkan saat kita tetap tinggal dalam kepahitan. Seperti penyakit, memori yang menyakitkan merusak setiap aspek dari hidup kita. Sebenarnya, dengan berpisah dari Allah, rasa sakit itu takkan pernah tersembuhkan.

Luka Para Pahlawan Doa

Para pendoa syafaat berada di garis batas perubahan. Kita ditempatkan untuk berdiri di antara kebutuhan manusia dan persediaan Allah. Karena kita adalah agen penebusan, setan akan selalu mencari alat untuk melukai, menciutkan hati, mendiamkan, atau bahkan mencuri kekuatan doa kita. Luka yang kita alami harus diartikan dalam terang janji Allah untuk membalikkan efek iblis dan menjadikannya kebaikan bagi kita (Rm. 8:28). Karena penganiayaan rohani tak terelakkan, kita harus menemukan cara bagaimana Allah menggunakan luka kita sebagai alat bagi kuasaNya.

Yesus tahu bahwa mempertahankan kasih dan mengampuni di tengah penderitaan adalah kunci yang membuka kuasa penebusan. Yes. 53:11, “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.”

Yesus memiliki pengetahuan untuk menyingkap rahasia Allah. Ia tahu bahwa rahasia untuk melepaskan kuasa transformasi yang mengubah dunia didapati di atas Salib, dalam penderitaan. Ingatlah, bahwa Yesus memanggil kita untuk turut memikul salib (Mat. 16:24). Luka hanyalah mezbah dimana kita mempersiapkan korbanan kita kepada Allah.

Baca kembali deskripsi profetik dari hidup Yesus. Ia berkata, “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya” (Yes. 53:10). Selama masa kesakitan, luka dan peremukanNya, bukannya membalas dendam, Yesus menyerahkan diriNya sebagai “korban penebus salah.”

Peremukan bukanlah bencana, tetapi suatu kesempatan. Anda tahu, kasih kita yang penuh tujuan mungkin dapat atau tidak dapat menyentuh hati orang berdosa, namun selalu menyentuh hati Tuhan. Kita disakiti oleh orang, namun kita perlu mengijinkan peremukan kita naik sebagai persembahan kepada Allah. Jika kita sungguh ingin menjadi alat untuk menyenangkan hati Allah, maka penebusan, bukan kemarahan, yang harus berlimpah dalam hidup kita. Jika kita adalah pengikut Kristus, kita harus mempersembahkan diri kita sebagai persembahan bagi kesalahan orang lain.

Menjadi Seperti Domba

Ketika Kristus menghadapi konflik, meski Ia adalah Singa dari Yehuda, Ia menjadi Anak Domba Allah. Bahkan saat Ia diperlakukan jahat, hatiNya selalu sadar bahwa Ia adalah “korban penebus salah.” Maka, Yesus tidak hanya meminta Bapa untuk memaafkan mereka agar mengampuni mereka yang menyakitiNya, namun juga menghitung diriNya sebagai pemberontak dan menjadi perantara mereka (Yes. 53:12). Ia melakukan ini karena Bapa “tidak berkenan pada kematian orang fasik” (Yeh. 33:11), dan perkenanan Allah inilah yang Yesus cari.

Di tengah kedalaman penganiayaan yang Ia alami, Yesis mengijinkan kasih mencapai kesempurnaannya yang paling mulia. Ia mengucapkan kalimat abadi, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Yesus berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan” (Yoh. 14:12). Pekerjaan yang Ia lakukan – hidup penebusan, seruan karunia, menyatu bersama pendosa, menyerahkan diriNya sebagai korban penebus salah – semua pekerjaan yang Ia lakukan, kita akan “melakukannya juga.”

Bacalah isi hati rasul Paulus:

“Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. (Kol. 1:24).

Apakah Paulus bermaksud menyatakan secara tersirat bahwa kita pun akan menggantikan posisi Yesus? Tidak, kita takkan pernah mengganti posisiNya. Anak Allah menyatakan penebusanNya melalui kita. Malah, “sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini” (1 Yoh. 4:17).

Paulus tidak hanya membuktikan Yesus dalam penebusan pribadinya, namun ia juga dipenuhi dengan tujuan Kristus. Ia menulis, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya” (Fil. 3:10).

Dengan memilih memakai kuk kita demi tujuan Kristus, kita mendapati persahabatan sejati bersama Yesus. Penderitaan Kristus bukanlah kesedihan belaka yang disebabkan oleh manusia; ini adalah penderitaan karena kasih. Mereka membawa kita dekat kepada Yesus. Kita belajar betapa berharganya karunia keterlukaan itu.

Mari berdoa: Bapa, aku melihat bahwa satu-satunya tujuan dalam hidupku adalah menyatakan karakter AnakMu melalui diriku. Aku terima karunia keterlukaanMu. Dengan berserah pada Kristus, aku serahkan diriku sebagai korban persembahan bagi mereka yang Engkau pakai untuk meremukkanku. Kiranya harum persembahanku menyenangkanMu, Yesus, dan kiranya Engkau mengampuni, menyucikan, dan membersihkan dunia di sekitarku. Amin.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s