Kim Clement: “Sahabat Allah” (Sep 21, 2008)


Mengapa Allah Menciptakan Pria dan Wanita?

Banyak alasan bagi Allah dalam memilih setumpuk tanah dari bumi dan menghembuskan nafasNya kepadanya, namun salah satu alasan yang paling mengagumkan, dan paling ditolak oleh manusia adalah – persahabatan.

Mengapa kita harus percaya bahwa persahabatan adalah suatu kemungkinan di dalam hubungan kita dengan Allah? Siapakah seorang sahabat itu? Apakah rumus untuk membuat persahabatan?

RUMUS UNTUK MEMBUAT PERSAHABATAN:

KESENANGAN: Sahabat saling membagi kesenangan bersama.
RAHASIA: Sahabat saling membagi rahasia satu dengan yang lainnya.
KESUKAAN: Sahabat memiliki minat dan kesukaan yang sama.
HUBUNGAN: Sahabat selalu berkomunikasi satu dengan lainnya baik saat dekat maupun jauh.

APAKAH YANG SEORANG SAHABAT LAKUKAN BAGI SAHABATNYA?

Sahabat itu SETIA.
Sahabat itu PENYABAR.
Sahabat itu MEMAAFKAN. Mereka akan menutupi kesalahan sahabatnya.
Sahabat itu JUJUR – “Seorang teman akan selalu akur denganmu, seorang sahabat akan selalu berdebat denganmu.”
Sahabat itu SETARA – “Cinta berbeda dengan persahabatan. Cinta menuntut hal yang berlawanan dan ekstrim. Persahabatan menuntut kesetaraan.”

Sekarang mari bandingkan dengan hubungan kita dengan Allah. Amsal 16:28 berkata, “Seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.” (Juga baca Kej. 1:26-28)

Ketika Allah menciptakan manusia, adalah kegiatan harianNya untuk berjalan di Taman dan berbincang-bincang kepada mereka sebagai sahabat. Lalu sang pemfitnah datang ke Taman dengan tujuan merusak persahabatan ilahi ini.

Kejadian 3:1, “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?'”

Hawa menjawab sang ular dengan tepat, yang berarti ia tahu apa perintah Allah. Pada titik itu, ular menggunakan kalimat yang menciptakan berbagai keraguan. Kata iblis berasal dari kata diablo, yang berarti, berbicara untuk memecah belah, atau berbisik-bisik untuk membuat perpecahan.

Tujuan utama iblis adalah berusaha membuat perpecahan dan kecurigaan, untuk memutuskan ikatan dan perjanjian. Ketika sang ular berkata dalam Kej. 3:4, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,” ia memutarbalikkan perkataan Allah dan mengatakan bahwa Allah membodohi mereka.

Ketika mereka bertindak berdasarkan kebohongan ini, persahabatan mereka dengan Allah hancur sebab kini mereka tidak merasakan kesetaraan dimana mereka dapat “berkomunikasi denganNya” – dari roh ke Roh. Dan ketika Allah datang ke Taman menemui mereka, apa yang terjadi?

Adam lari dan bersembunyi. Persahabatan telah hancur dan sejak itu, manusia memandang Allah sebagai pribadi yang jahat. Hal ini TIDAKLAH benar, tapi itulah cara mereka memandangNya, dan yang lebih buruk lagi, mereka menjadikan ketelanjangan mereka bukan sebagai suatu keindahan dan kehidupan, namun  sekedar rasa malu.

Ajaibnya, Allah masih mencari segelintir orang yang akan Ia jadikan sahabatNya, dan ketika anda membaca kisah orang-orang ini, anda akan mendapati pola mengagumkan yang membuktikan keinginanNya untuk berhubungan dengan manusia seperti layaknya seorang sahabat.

Allah menyebut Abraham dengan: “Abraham, sahabatKu selamanya.” Musa berdebat dengan Allah ketika Ia ingin membinasakan bangsa Israel (Kel. 32:7-14). Sebenarnya Allah berkata kepadanya, “Menyingkirlah dariKu,” agar Ia dapat membinasakan mereka. Lihat bagaimana Musa bertindak layaknya seorang sahabat. Ia berkata kepada Allah bahwa reputasiNya dipertaruhkan karena orang-orang akan berpikir bahwa Ia membawa mereka keluar dari Mesir hanya untuk membunuh mereka di gunung.

Apakah yang Akan Seorang Sahabat Lakukan Ketika Anda Akan Melakukan Sesuatu Diluar Karakter Anda dan Dapat Menghancurkan Reputasi Anda?

Seorang sahabat akan berdiri di samping anda dan mengingatkan anda konsekuensi dari tindakan anda dan mencoba meredakan kegusaran atau kemarahan anda. Itulah sikap seorang sahabat dan seperti itulah Musa bagi Allah – seorang sahabat. Alkitab berkata bahwa Allah akhirnya melunak. Kata “melunak” berarti menjadi lebih toleran, berbelas kasihan dan mengampuni. Musa, sebagai seorang sahabat, berhasil melunakkan hati Allah sehingga Allah menjadi “tenang kembali.”

Mari simak apa yang Yesus katakan perihal persahabatan. Dalam Luk. 12:1-4, Yesus dikelilingi oleh beribu-ribu orang banyak, sehingga mereka saling berdesak-desakan. Bukannya berbicara kepada mereka, sebaliknya Ia PERTAMA-TAMA berbicara kepada murid-muridNya, dan di ayat 4, Ia memanggil mereka “Sahabat-sahabatKu” dan membagikan hal-hal yang tidak akan Ia bagikan kepada orang banyak. Sehingga hal ini menjelaskan persahabatan Yesus dan murid-muridNya, meskipun Ia adalah Tuhan atas segalanya dan Anak Tunggal Allah.

Yoh. 15:15, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba…tetapi Aku menyebut kamu sahabat…karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”

Saya suka bagian ini karena hal ini semakin menjelaskan fakta bahwa alasan Allah menciptakan kita, diantara alasan-alasan lainnya, adalah untuk menjadi sahabatNya. Ketika anda mengerti terjemahan Alkitabiah akan seorang sahabat, hal ini akan menghilangkan ide persahabatan modern yang sudah tidak relevan lagi. Kita begitu mudah berkata, “Kenalkan, sahabat saya,” ketika pada nyatanya kita banyak memanggil yang lainnya sebagai, “Sahabat saya.”

Tahukah kita dengan pasti definisi sahabat menurut standar Alkitabiah? Daud disebut kesayangan Allah. Abraham disebut sahabat abadi Allah. Kata “sahabat” terbagi atas dua – Phileos, berasal dari Phi-logos, dan berarti seseorang untuk berbicara. Allah menciptakan anda agar Ia memiliki seseorang untuk Ia ajak berbicara. Bukankah hal ini menjadikan anda istimewa?

Kembali, kita melihat definisi persahabatan yang begitu jelas yang Yesus tawarkan bagi mereka yang mendekat kepadaNya dan bahwa sebuah persahabatan akan memampukan mereka mendengar hal-hal yang tak mampu didengar oleh kebanyakan orang.

Kebenaran ini sungguh menginspirasi kita untuk memasukkan unsur persahabatan kedalam hubungan kita dengan Allah. Bagaimanapun juga, tanpa persahabatan suatu pernikahan takkan bertahan, dan tanpa persahabatan setiap hubungan apapun pasti akan gagal.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s