Kathi Pelton: “SUDAH CUKUPKAH AKU BAGIMU?” (Jul 14, 2008)


“Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.” Mzm. 40:2-4

Bebatuan Karang dan Gelombang

Suatu hari saat saya duduk di pantai dan menatap batu-batu karang yang dihempas gelombang, saya mulai memikirkan Mzm. 40:1-3: “…Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku…” Namun batu-batu tersebut nampaknya tidak dapat menjadi tumpuan kakiku!

Beberapa tahun lalu, hidup saya ibarat ditempatkan di atas batu-batu kecil sementara ombak menerpa sekitar saya. Awalnya saya mencoba menjauhkan diri dan pindah dari ombak yang menerpa, namun dengan berlalunya waktu, saya merasakan kedamaian di tengah-tengah badai.

Telah saya dapati bahwa Batu Karang saya aman dan tak satu bahaya pun yang akan mendatangi saya selama saya bersandar padaNya. Ada kalanya ombak besar akan datang dan mengejutkan saya dan menggoyang kaki saya sedikit, namun dengan cepat saya mengingat pelajaran yang saya terima dari Batu Karang ini dan saya mulai tenang kembali.

Kebenarannya adalah bahwa Yesus, Batu Karang kita, tidaklah kecil dan goyah. Sebaliknya, saya telah belajar bahwa kepercayaan saya padaNyalah yang kecil dan goyah. Semakin saya belajar mempercayaiNya, semakin besar dan kokoh pijakan kaki saya, bahkan disaat saya tergelincir. Sebenarnya, Batu Karang kita selalu luas dan kokoh—perspektif sayalah yang salah.

Ia Akan Menyelesaikan Pekerjaan Di Dalammu

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Fil. 1:6

Saya yakin bahwa Allah takkan memulai pekerjaan di dalam kita sampai Ia menuntaskannya. Belajar untuk mempercayai tidak datang dalam semalam, karena kepercayaan membutuhkan waktu. Setiap kita hidup di dunia yang goyah dan belajar mempercayai adalah suatu tantangan. Kita lahir dari orang tua yang tidak sempurna, kita memiliki hubungan yang tidak sempurna, kita jarang memiliki suatu hari yang sempurna dan kebanyakan dari kita kerap dilukai oleh seseorang yang kita percayai,

Maka, untuk mempercayai Allah, meski kita tahu bahwa Ia sempurna dalam segala jalanNya, membutuhkan waktu. Kita memiliki reaksi alami atas situasi, trauma, hubungan dan hidup yang berperan dalam hubungan kita denganNya. Meski kita rindu untuk mempercayaiNya, membuang ketakutan akan masa lalu atau situasi alami sangatlah sulit. Mulanya kita belajar untuk berjalan berdasar apa yang kita lihat dan rasakan, dan kini kita belajar untuk berjalan oleh RohNya, dimana kita seringkali harus mengabaikan apa yang kita lihat dan rasakan melalui mata jasmani dan emosi kita.

Tuhan Tidak Berjanji bahwa Kita Tidak Akan Menderita

Kesulitan kita adalah Tuhan tidak berjanji bahwa kita tidak akan menderita. Faktanya, Ia berjanji hal sebaliknya. Meski kita akan mengalami beberapa pengalaman yang menyakitkan dalam hidup, kita ditenangkan dengan janji bahwa RohNya akan selalu menyertai kita, kita takkan pernah ditinggalkan dan bahwa kita dikasihiNya. Bahkan kematian takkan dapat memisahkan kita dari kebenaran ini!

Di masa muda saya, saya sering menanti Allah untuk menghentikan gelombang yang datang dalam hidup saya, agar saya dilindungi dari penderitaan atau masalah. Namun semakin saya bertumbuh, saya belajar bahwa Allah telah menanti saya dengan sabar untuk belajar mempercayaiNya di tengah gelombang kehidupan. Di tempat inilah Ia mulai menyempurnakan dan mendewasakan pekerjaan yang telah dimulaiNya di dalam kita sampai hari kedatangan Kristus.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” Yak. 1:2-8

MempercayaiNya Bersama Penderitaan Kita

Baik hubungan yang buruk, kebutuhan ekonomi, kehilangan atau penyakit, Allah selalu dapat dipercaya. Kebanyakan pencobaan yang saya hadapi sebenarnya adalah “pencobaan akan keraguan dan ketidakpercayaan.” Inilah reaksi kita oleh ketakutan bahwa “Allah takkan menolong saya.”

Mempercayai Tuhan bersama penderitaan kita—meski sebenarnya Ia dapat mencegah penderitaan tersebut namun tidak dilakukanNya—sangatlah sulit. Ingatlah, Allah tidak pernah menyebabkan hal-hal buruk terjadi. Masalah terjadi karena kita hidup di dunia yang goyah; namun Allah adalah Penyembuh derita kita dan hati kita yang terluka.

“Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Mzm. 34:18-19

Keuntungan Mengenal Allah

Fil. 3:7-11 menyatakan:

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”

Kerugian apa yang dapat dibandingkan dengan “keuntungan” mengenalNya dan hidup di dalamNya? Bukan berarti kita tidak akan mengalami penderitaan saat kerugian datang, namun kita akan selalu menemukan ketenangan melalui perspektif yang benar, bahwa melalui itu semua, kita mendapat keuntungan yang besar dengan mengenalNya. Takkan ada yang dapat memisahkan kita!

MempercayaiNya Di Dalam Penderitaan Kita

“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Rom. 8:32-39

Kasih Allah sangat mudah didapati di saat-saat yang paling sukar. Di saat inilah Ia membungkus kasihNya mengelilingi kita dan memeluk kita. Jika saat ini anda mengalami penderitaan, ijinkan Yesus membungkusmu dengan kasihNya dan menenangkanmu. Ia sangat dekat denganmu.

Kebebasan atau Ketergantungan

Saat saya meminta hikmat kepada Allah mengapa kita begitu cepat mencoba mengontrol akibat dalam hidup dan hubungan kita, Ia menjawab, “Ini karena engkau menuntut kebebasan daripada memegang ketergantungan.”

Di dalam ketakutan kita bahwa Allah tidak cukup atau tidak akan memberi apa yang kita harapkan dalam hidup, kita dengan cepat meninggalkan posisi ketergantungan kita (kepercayaan/keintiman) dan berlari meraih kebebasan (kontrol).

Kita harus belajar untuk hidup takut akan Allah dibanding takut akan penderitaan. Kebebasan hanya menuntun kita pada area “kontrol dan memanipulasi”, sementara ketergantungan menuntun kita pada “hubungan, keintiman dan kebenaran.

“Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibr. 13:6

Perkataan yang Allah sampaikan melalui Musa kepada umat Israel sebelum mereka menyeberangi Sungai Yordan masih berlaku hingga hari ini saat kita menyeberangi sungai kebebasan memasuki tanah ketergantungan:

“Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” Ul. 31:8

Sudah Cukupkah Aku Bagimu?

Seorang teman saya membagi pertanyaan yang ditanyakan Allah padanya, “Sudah cukupkah Aku bagimu?” Jawaban awalnya adalah, “Tentu, Tuhan.” Namun dengan berlalunya hari, ia menyadari bahwa kepercayaannya dimana Allah cukup baginya ternyata belum berjalan mulus dalam hidupnya..

Sudahkah saya hidup seakan-akan Allah cukup bagiku? Dalam beberapa hal ya, namun pada kenyataannya, saya tidak menghidupinya sebagai suatu gaya hidup. Saya dapati bahwa saya sering resah jika saya tidak “melakukan” sesuatu atau tidak mendapati apa yang saya inginkan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Fil. 4:11-13

Apakah kita percaya bahwa Allah saja cukup ketika segalanya gagal? 

Ada sebuah Batu Karang yang dapat dipercaya, diandalkan dan dipegang pada masa kesesakan. Ia tak pernah berubah dan tidak pernah menahan kasihNya bagi kita. Ia setia dan benar dan selalu cukup bagi kita! Ia mengundang kita memasuki tanah ketergantungan dimana kita dapat makan buah keintiman dan menikmati kasihNya yang berlimpah-limpah.

Mari berdoa bersama saya: “Bapa, aku mau menjawab kerinduan hatiMu dengan memasuki ketergantungan sejati bersamaMu. Aku mau hidup bersama kesatuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ampuni aku dan bebaskan aku dari jalan-jalanku sendiri. Aku mau menjalani ketergantungan dan kepercayaan baik di masa senang maupun sukar kepadaMu. Tuntun aku untuk mempercayaiMu dan bebaskan aku dari angin keraguan yang membuatku mendua hati. Aku ingin hidup pada kebenaran bahwa ENGKAU SAJA CUKUP BAGIKU. Terima kasih atas kesabaranMu atasku dan aku percaya bahwa Engkau akan menyelesaikan pekerjaan yang telah Kaumulai di dalamku. Aku mengasihimu, Bapa! Amin.

About siskapurnama

I'm a God Chaser! I'm a traveler who happen to be a lecturer at President University. I'm a pluviophile. Hope my translation sparks something inside you as God speaks to you Himself. I am His stylus.
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s