T. A. Lewis: Perjalanan Ke Emaus – Jalan Menuju Kemuliaan (Oct 17, 2010)


“Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.” – Luk. 24:21

Dalam Luk. 24, kita membaca kisah tentang 2 orang murid yang bingung dan berkecil hati yang meninggalkan Yerusalem dan berjalan ke Emaus. Mereka berpikir, berharap dan percaya bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Pembebas bangsa Israel. Namun demikian, Ia disalibkan, mati, dan dikuburkan. Selain itu semua, saat itu adalah hari ketiga sejak semua hal ini terjadi. Tampaknya hal ini berakibat fatal bagi iman mereka… karena saat itu adalah hari ketiga. Semuanya sudah terlambat, dan dengan kekecewaan mendalam di dalam hati, mereka meninggalkan Yerusalem.

Dapatkah anda mengenalinya? Pernahkah anda berharap dan meyakini bahwa Allah akan turun tangan atas situasi dalam hidup anda dan mendapati anda diri anda putus asa saat menantikannya? Saya pernah. Mungkin anda juga, di hari ini, mendapati diri ada di jalan menuju Emaus, secara emosional, dan bertanya-tanya, Apa lagi sekarang? Apa yang harus kita lakukan saat kita telah menanti, berdoa dan mempercayai, saat segala sesuatunya sedang berantakan? Itu suatu pertanyaan bagus dan saya yakin Allah memiliki beberapa jawaban dan penghiburan bagi kita di dalam FirmanNya melalui perjalanan murid-muridNya.

“Datanglah Yesus Sendiri Mendekati Mereka”

Jalan ke Emaus ialah suatu tempat yang sangat sunyi bagi seorang Kristiani karena kita tak ingin mengakui kepada diri kita sendiri, orang lain, dan khususnya kepada Allah, perasaan kita yang sesungguhnya. Karenanya, kita mendorong ke samping kekacauan di dalam diri kita, memasang senyuman di wajah dan berkata, “Semuanya baik.” Namun demikian, Alkitab mengungkapkan bahwa saat murid-murid berjalan ke Emaus “datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka” (Luk. 24:15). Yesus mendekati mereka di dalam keputusasaan mereka. Ia tahu bahwa mereka memiliki keraguan dan ketakutan, namun, Ia tetap berjalan bersama mereka, bercakap-cakap dengan mereka dan akhirnya, mereka memberi mereka pengharapan mereka yang mereka butuhkan.

Saya yakin Ia akan melakukan hal yang sama bagi setiap kita di hari ini saat kita merenungkan bagian ini. Firman Tuhan hidup dan berkuasa. FirmanNya meringankan hati memberi semangat dan mendukung kita. Mari kita mulai.

Mereka Tak Lagi Memiliki Damai Sejahtera Mereka

“Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem.” – Luk. 24:13

Begitu banyak informasi hadir dalam kalimat ini. Mengapa dikatakan mereka meninggalkan Yerusalem? Mengapa tidak dikatakan saja bahwa mereka pergi menuju Emaus? Yerusalem dikenal karena banyak hal. Kota ini dikenal sebagai Salem, Kota Daud, Kota Allah, Sion, kota kudus, dan dalam Ibr. 12:22-23, kota ini disebut sebagai Kota Allah yang hidup. Akan tetapi, dari sudut pandang linguistik, kalimat ini mengandung arti yang baru.

Kata Yerusalem dalam bahasa Ibrani (diucapkan ye-roo-sha-lai’-yeem; Strong’s #3389) terbentuk dari dua kata yang berbeda. Yang pertama adalah yarah, yang berarti: untuk mengarahkan, menunjukkan, mengajar, dan mengalirkan. Yang kedua adalah shalam, yang berarti: damai sejahtera, menjadi damai, menjadi lengkap, tuntas, kuat, aman, sentosa dan kelimpahan. Menyatukan kedua kata ini membuat Yerusalem berarti: “pengajaran damai sejahtera.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa bahasa dari daerah lain menerjemahkan Yerusalem sebagai tempat damai sejahtera, milik damai sejahtera, dan bahkan dasar damai sejahtera. Karenanya, secara rohani hal ini menyebutkan bahwa kedua murid ini sebenarnya meninggalkan pengajaran damai sejahtera, dasar iman mereka, tempat damai sejahtera mereka.

Mereka tak lagi memiliki damai sejahtera mereka, meski Yesus mengajar mereka bahwa masa-masa kesusahan akan tiba. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Dengan berbicara tentang pengajaran damai sejahtera, Yesus mengajar mereka lebih lagi agar mereka takkan kehilangan damai sejahtera mereka, namun demikian hal ini terjadi, dan kini mereka menjauh dari tempat damai sejahtera mereka.

Saya yakin banyak dari kita dapat mengenali hal ini. Saya tahu bahwa kesukaran-kesukaran akan muncul di dalam perjalanan hidup ini. Apa yang saya tidak tahu adalah seberapa sukar hal ini jadinya. Atau saya tidak tahu bagaimana menyiapkan diri saya dari rasa sakit yang akan saya rasakan saat berada di tengah pencobaan dan kesukaran. Sebagai hasilnya, saya juga, mendapati diri saya mengembara di jalan keputusasaan dan kekhawatiran versus merasa didukung oleh FirmanNya dan berdiam dalam pengajaran damai sejahtera yang Allah tinggalkan.

Walau begitu, Alkitab telah mengajar kita, bahwa bahkan di tengah jalan keputusasaan, Yesus ada di sana dan memberi kita dukungan yang kita butuhkan di dalam perjalanan kita menuju Emaus. Hal ini mengungkapkan detail lainnya yang disebutkan oleh penulis Kitab ini. Ia secara khusus menyebutkan bahwa Emaus berjarak 7 mil dari Yerusalem. Saya bersyukur detail kecil ini dicatat bagi kita di masa sekarang, karena hal ini seringkali menolong saya di masa-masa perjuangan pribadi saya. Mari saya jelaskan.

Kita Diangkat dan Ditopang Oleh Allah

“Threescore” (KJV) berarti 60. Sepengetahuan saya, bahasa Yunani tidak memiliki piktograf untuk menolong kita mengenali apa artinya, namun, bahasa Ibrani bisa menolong. Karenanya, bukan kebetulan Allah membawa saya terhadap samech, kata Ibrani yang berarti angka 60. Huruf samech adalah bentuk sebuah lingkaran dan dipandang sebagai gambaran hati Allah dimana seseorang dapat dilindungi oleh lingkaran luar yang kuat dan menopang.

Menariknya, samech bukan sekedar huruf semata, tetapi juga suatu kata yang berarti: mendukung, mengangkat, bersandar pada, dan beristirahat (Strong’s #5564). Contohnya, Raja Daud memakai kata ini saat ia berdoa kepada Tuhan, “Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan topanglah aku (samech) dengan roh yang rela!” (Mzm. 51:12). Daud berseru kepada Allahnya yang penuh kasih, “Samech me/ topangla aku, buatlah aku bersandar (samech) padaMu, ijinkanlah aku beristirahat (samech) di dalam kesediaan dan rohMu yang rela.”

Para kekasih, bahkan di tengah perjalanan keputusasaan, bersama Yesus yang berjalan di samping kita, kita akan mendapati ketenangan yang kita butuhkan. Meskipun kita berjalan menjauh dari Yerusalem dan menuju Emaus, selama threescore – jarak di antaranya – kita akan ditopang dan didukung oleh Allah. Para kekasih, saat kita berbicara bersama Allah sepanjang perjalanan, Roh Kudus akan mengingatkan kita atas apa yang telah Ia katakan dan dijanjikanNya. PerkataanNya memiliki kuasa untuk mengubah keputusasaan menjadi pengharapan, untuk menolong kita saat segalanya tampak tiada harapan, dan untuk mendukung kita di tengah pencobaan.

Mereka Tidak Tahu Bahwa Pintu Penderitaan Sesungguhnya Adalah Pintu Menuju Kemuliaan

Penting di titik ini untuk mengetahui mengapa para murid pergi. “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Luk. 24:25-26). Penting bagi kita untuk mengerti hal ini saat ini, para kekasih. Sebagai hasil dari ketidakmengertian apa yang Alkitab katakan tadi, mereka berjalan menjauh, meski mereka telah mendengar kesaksian para wanita yang mendatangi kubur Yesus di pagi itu. Sekedar menjelaskan, Alkitab tidak menyatakan secara langsung bahwa keduanya tidak percaya sepenuhnya, sebaliknya bahwa keduanya kurang pendirian dan keyakinan di dalam Tuhan. Hal ini takkan terjadi saat kita menjadi akrab dengan Firman Tuhan. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rom. 10:17).

Keputusasaan, kekecewaan, dan sayangnya, bahkan ketumpulan rohani dapat terjadi pada kita saat kita tidak mengenali apa yang Alkitab katakan. Kedua murid ini tidak mengerti bahwa pintu penderitaan sesungguhnya adalah pintu menuju kemuliaan. “WeDan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom. 5:3-5).

Berdiam di dalam pengajaran damai sejahtera akan menolong kita menjadi para pemenang atas kekhawatiran dunia ini. Pencobaan-pencobaan besar akan menjadi gerbang menuju kemuliaan, karena saat segala sesuatu berguguran, kita dilingkupi di dalam tanganNya yang penuh kasih.

Terima kasih, Tuhan. Selah…

Selalu Berdoa Dan Tidak Berkecil Hati

Ada satu pelajaran penting yang terus saya renungkan saat menjalani pergumulan pribadi saya di dalam Luk. 18:1. Guru mengajar kita untuk selalu berdoa dan tidak berkecil hati. Bagian “selalu berdoa” mudah, tapi bagian “tidak berkecil hati” tidaklah mudah bagi saya. KJV menerjemahkan frase “berkecil hati” dengan kata “takut” yang dalam bahasa Yunani berarti: menjadi sepenuhnya tanpa semangat, letih, kecapaian (Strong’s #1573). Kata ini menunjukkan pikiran dan perasaan kita yang menghancurkan, demikian juga tindakan kita.

Menariknya, saat Yesus bersama para murid berjalan menuju Emaus, Ia bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (Luk. 24:17). Ini sebuah pertanyaan abadi – apakah jenis percakapan yang kita lakukan? Kata-kata apa yang kita pakai? Apakah kata-kata iman atau kita mengijinkan kekecewaan mengendalikan percakapan kita? Jangan salah artikan saya: seperti yang kita bahas sebelumnya, bersikap jujur dengan perasaan adalah suatu hal yang menyenangkan. Allah menginginkan kebenaran di dalam diri kita; namun begitu, kata-kata memiliki kuasa, maka kita harus berjaga-jaga atas mereka. Saat kita membagi rasa takut kita kepada teman-teman kita, kita akan saling dikuatkan di dalam Allah dan menolong mengganti frase-frase rasa takut dengan kesaksian iman.

Tidak selalu mudah, namun kita dapat mengarahkan pandangan kita kepada Yesus, Pencipta dan Penyelesai iman kita. Kita dapat menemukan pengharapan hanya dengan membenamkan diri kita di dalam firmanNya dan tidak berdasarkan pikiran kita sendiri. FirmanNya adalah roh dan membawa kehidupan (Yoh. 6:63), dan saat kata-kata khawatir dan takut muncul di dalam jiwa kita, kita dapat menggantinya dengan firmanNya, yaitu iman, pengharapan, dan kasih.

Damai Sejahtera yang Sempurna

“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” –Yes. 26:3

Frase “perfect peace (damai sejahtera)” dalam bahasa Ibrani adalah “shalom shalom.” Ini bukan kesalahan cetak; kata shalom (damjai sejahtera) diulang agar menambahkan intensitas seperti halnya font tebal dan digarisbawahi seperti di atas. Ini adalah apa yang sebenarnya Allah ingin untuk kita lihat di dalam firmanNya. Bayangkan berada di dalam ketenangan, kesempurnaan, keamanan, kesentosaan, kesehatan dan kelimpahan karena pikiran kita tinggal di dalam Allah.

Menariknya, kata Ibrani untuk “tinggal” dalam bagian ayat ini adalah samech, kata yang sama yang kita bahas di awal. Kita dapat menemukan damai sejahtera saat pikiran yang kita bentuk adalah bersandar dan berpegang pada pekerjaan Salib yang telah usai.

Saat mereka duduk di hadapan Allah yang bangkit di Emaus di hari ketiga itu, Allah mengambil roti dan memecahkannya, dan diberikan bagi mereka yang hadir (Luk. 24:29-30). Tindakan sederhana ini adalah jalan yang sama yang Yesus buat di dalam Perj. Baru, perjanjian baru yang dimateraikan oleh darahNya. Duduk tanpa pengharapan di Emaus, tiba-tiba mata mereka tercelik. Saat itu juga para murid bangkit dan kembali ke Yerusalem (Luk. 24:33).

Saat kita melihat Salib, ingatlah akan semua hal yang telah Yesus lakukan, Ia melakukannya karena Ia mengasihi kita dan takkan mengjjinkan apapun memisahkan kita dari kasih itu. Kiranya kebenaran ini memberi kita kekuatan untuk diam di Yerusalem, pengajaran damai sejahtera yang Yesus berikan bagi kita dan menantikan janji Bapa. Amin dan Amin.

About these ads

About siskapurnama

I'm a God Chaser!
This entry was posted in Prophetic. Bookmark the permalink.

2 Responses to T. A. Lewis: Perjalanan Ke Emaus – Jalan Menuju Kemuliaan (Oct 17, 2010)

  1. yogie says:

    Wow, great insight! Memang benar bhw hny karya salib Kristus yg sdh selesai saja yg menjadi sumber hidup berkelimpahan dalam Dia, “none of me, all of Christ”, haleluya!

  2. none says:

    Jalan Tuhan tidak sama dengan pikiran manusia, Dia Ajaib dan Mahakuasa. Betapa besar karya dan kasihNya kepada Manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s